Di Jepang, tidak ada “Suzuki Katana GX”.
Nama itu adalah eksklusif untuk pasar Indonesia.
Namun secara DNA, bukanlah mobil asing bagi Jepang.
Basis teknisnya adalah Suzuki Jimny Sierra atau Samurai 1300 (kode keluarga SJ413). Di Jepang sendiri, Suzuki tidak menjual Jimny 1300 secara luas untuk pasar domestik karena pasar Jepang didominasi kei car 660 cc (Jimny JA11/JA12), dan versi 1.300 cc lebih difokuskan untuk ekspor (Australia, Eropa, Asia Tenggara). Singkatnya, Katana adalah Jimny ekspor yang dipersonalisasi untuk Indonesia.
Mesin mengusung G13BA/G13A 1.300 cc, karburator, SOHC, 4 silinder, sederhana, low compression. Walhasil, tenaga bukan tujuan utama, sebab torsi bawah dan durability yang diutamakan. Karakter mesin ini tidak suka RPM tinggi, tahan disiksa, dan sangat toleran terhadap bensin kualitas rendah dan perawatan minim.
Dikombinasikan dengan transmisi manual 5-percepatan, part-time 4WD dengan transfer case mekanis, lantas hadir sistem2H/4H/4L (tergantung spesifikasi), tanpa diferensial tengah, serta tiada elektronik. Transmisi ini dikenal memiliki rasio pendek, tidak halus tapi sangat komunikatif, dan cocok di tanah pertanian-perkebunan Tanah Air dimana transmisinya lebih terasa “traktor” daripada “mobil penumpang”.

Sedangkan sasisnya adalah rangka tangga atau yang biasa disebut ladder frame. Konstruksinya rigid axle depan-belakang dan ketambahan per daun (leaf spring). Hasilnya “mixing” ini mencuatkan karakter sasis yang kaku, mentah, dan tidak kompromistis. Membuat handling jalan rayanya terkesan sangat biasa saja, namun luar biasa kuat untuk beban dan medan buruk. Patut diingat, Katana tidak dirancang untuk kenyamanan, melainkan ketahanan struktural.

Maka tak heran, memori DeepEnd terbawa masa-masa SMA di awal 90-an. Dari Bogor ke Bandung via Puncak, berasa mual duduk di samping pengemudi, apalagi berada di jok belakang.
Yang patut dipertanyakan, mengapa Suzuki memasukkan Katana GX ke Indonesia? Ternyata ada tiga alasan utama, dan semuanya sangat kontekstual dengan Indonesia era 90-an, yaitu:
1. Kebutuhan kendaraan “serba bisa”: bisa jalan di aspal jelek, bisa masuk desa, kebun, tambang, proyek, dan bisa dipakai kerja dan pribadi. Katana menjawab itu semua dalam satu paket.
2. Posisi pasar di antara Carry dan Jeep mahal: Suzuki melihat celah di bawah Carry/Futura (kerja murni), dan di atas Jeep CJ/Land Cruiser (yang mahal dan boros). Saat itu, Katana diposisikan sebagai “Jip fungsional yang masih masuk akal secara harga dan perawatan”.
3. Indonesia cocok untuk mobil sederhana: Suzuki paham betul karakter pasar Indonesia yang infrastrukturnya belum merata, bengkel kecil dan mekanik tradisional dominan, dan konsumen lebih percaya mesin simpel daripada teknologi baru.
Maka Suzuki Katana adalah mobil yang bisa diperbaiki di mana saja, spare part gampang, dan tidak rewel. Fakta itu bersinggungan dengan era sekarang dimana banyak pemilik Katana pernah tumbuh bersamanya.

Justru karena tidak unggul, Katana mudah dibentuk. Damar Aryateja Asmara melihat hal itu. Karena restorasi Katana tidak menuntut kesempurnaan, restorasi Katana tidak harus flawless.

Berangkat dari karakter dasar Katana yang sederhana dan apa adanya, Damar tidak melihat mobil ini sebagai objek yang harus “disempurnakan”. Justru sebaliknya, ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya menarik untuk dijadikan kanvas. Basis yang dipilih adalah Suzuki Katana GX tahun 1995, lalu tampilannya sengaja di-backdate agar terlihat lebih tua.



Alasannya pun sederhana. Jimny Katana adalah mobil yang kecil, simpel, irit, dan tangguh. Tidak banyak tuntutan, tidak banyak drama. Jimny sendiri adalah mobil yang aneh tapi jujur. Secara logika, performanya biasa saja. Tenaga pas-pasan, suspensi seadanya. Namun hampir semua pemilik Jimny akan sepakat pada satu hal, “Mobil ini fun!” ucap Damar. Ada rasa nagih saat mengendarainya. Walau jika dipakai harian dalam waktu lama bisa terasa melelahkan, Jimny tetap punya daya tarik yang membuat orang ingin kembali memakainya. Ia menyebalkan, tapi dirindukan.

Soal konsep modifikasi, justru sulit didefinisikan. Bagi Damar, Jimny tidak harus tunduk pada satu aliran atau gaya tertentu. Mobil ini lebih cocok menjadi medium untuk menyalurkan karakter pemiliknya. Jimny berbicara soal soul, bukan soal konsep kaku.
Tujuan membangun mobil ini pun tidak pernah benar-benar ditetapkan sejak awal. Semua berjalan mengalir. Seperti kebanyakan penikmat mobil, tujuannya sederhana: mobilnya enak dilihat dan nyaman dipakai. Selebihnya, proses yang berbicara. Setiap Jimny akan selalu berbeda hasil akhirnya, tergantung siapa yang membangunnya. Bahkan dengan basis dan referensi yang sama, karakter pemilik akan selalu muncul di detail-detail kecil.
Jimny milik Damar dipilih untuk tampil sederhana dan bersih, tidak ramai oleh aksesori. Hanya sentuhan kecil yang dianggap perlu, disertai beberapa parts yang cukup jarang ditemui. Sedikit pamer boleh, asal honest.
Mobil ini juga punya cerita personal. Jimny merah ini dulunya milik tante dari istrinya. Lama tidak dipakai, lalu akhirnya ditawar dan diberikan dengan sistem pembayaran yang tak biasa: dua kali Lebaran! Karena Damar tinggal di Semarang dan hanya bertemu setahun sekali, pelunasannya pun benar-benar selesai setelah ketemu dua kali Lebaran.




Kondisi awalnya adalah Katana GX 1995 dengan cat orisinal yang sudah belel. Basis yang justru ideal untuk dibangun. AC dan power steering masih bawaan pabrik. Eksterior kemudian dicat ulang pada tahun 2012, dengan pengerjaan di tempat Atiki (yang kini sudah tidak ada). Tampilan dibuat backdate dengan penggunaan atap terpal SGP, pengerjaan dipercayakan pada Dimas karena Damar berada di luar kota. Berbagai printilan dipesan dan langsung dipasangkan.



Kaca-kaca diganti baru SGP, termasuk kaca belakang versi JDM dengan fitur anti-kabut, lengkap dengan karet-karet baru. Bemper depan-belakang menggunakan model SJ30, spion SJ30, per daun Jimny JA11, serta jok Mazda Miata NA.

Untuk suspensi, digunakan shock absorber Koni gas kuning, dipilih karena karakter per JA11 yang cenderung lembek. Dengan shock gas, redaman terasa lebih stabil dan tidak mengayun berlebihan. Berbeda halnya jika masih menggunakan per bawaan Katana yang lebih keras, di mana shock oli justru terasa lebih pas.



Soal penggerak, tersedia beberapa pilihan rasio gardan, misalnya 8:43 dan 8:41 untuk konfigurasi 4WD, namun akhirnya pilihan jatuh pada 9:37. Konfigurasi ini dirasa paling ideal untuk penggunaan dalam kota. Mobil pun dipertahankan dalam kondisi 2WD, karena lebih simpel dalam perawatan dan lebih nyaman untuk aspal.
Velg menjadi salah satu elemen yang sering berganti, karena Jimny memang menyenangkan untuk dimainkan di detail kecil. Saat sesi pemotretan, mobil ini menggunakan Hayashi Street Type STJ 16×5,5 inci ET22, dibalut Yokohama Geolandar MT 175/80 R16.




Semua itu menjadi alasan mengapa modifikasi Jimny seakan tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada detail kecil yang bisa diubah, disempurnakan, atau sekadar dibuat berbeda. Dari jendela samping model geser, pilihan velg, hingga printilan kecil yang mungkin tidak semua orang sadari.
Bagi yang belum memiliki Jimny, mungkin sekarang adalah waktunya mulai mencari. Karena, cepat atau lambat sebab, “Semua akan Jimny pada waktunya.”

Dan jika harus dirangkum dalam satu kata, Jimny ini adalah: FUN. ![]()



























