Mulai 2026, nama TOYOTA GAZOO Racing resmi berubah jadi GAZOO Racing saja, sebagai langkah simbolis sekaligus strategis untuk menegaskan lagi filosofi awal mereka, yaitu motorsport sebagai fondasi untuk menciptakan ever-better cars sekaligus mencetak talenta baru.

Lewat perubahan ini, GAZOO Racing kembali diposisikan sebagai rumah utama aktivitas balap Toyota, baik di ajang motorsport papan atas seperti FIA World Rally Championship (WRC), maupun di level customer motorsports yang berbasis mobil produksi massal.

Berawal dari Rasa Malu di Nürburgring

Perjalanan GAZOO Racing bukan kisah instan. Akar ceritanya bermula pada 2007, saat Akio Toyoda, yang kala itu masih menjabat sebagai Executive Vice President ikut turun langsung di Nürburgring 24 Hours bersama Master Driver Toyota, Hiromu Naruse. Karena belum diakui sebagai aktivitas resmi perusahaan, tim ini berlaga dengan nama Team GAZOO, sementara Toyoda menggunakan nama samaran “Morizo”.

Meski berhasil finis, pengalaman itu meninggalkan luka yang membekas. Toyota kala itu tak punya mobil sport, apalagi kendaraan pengembangan yang bisa diuji langsung di arena balap. Saat disalip rival yang membawa mobil eksperimental, Toyoda merasakan satu kalimat yang terus menghantui hingga kini: “Tidak mungkin kalian di Toyota bisa membuat mobil seperti ini!”

Rasa malu inilah yang justru menjadi bahan bakar utama lahirnya filosofi GAZOO Racing.

Toyoda memandang motorsport sebagai ritual pembelajaran berkelanjutan, mirip konsep Shikinen Sengu di Jepang, yakni tradisi membangun ulang Kuil Ise setiap 20 tahun demi menjaga keahlian tetap hidup. Dari pemikiran inilah lahir proyek ambisius Lexus LFA, dengan Nürburgring sebagai laboratorium utama pengembangannya.

Dirilis pada 2010, LFA menjadi mobil sport murni Toyota pertama yang dikembangkan secara in-house setelah hampir dua dekade. Proyek ini penuh tantangan, bahkan hanya diizinkan memproduksi 500 unit. Tragisnya, tak lama sebelum peluncuran, Hiromu Naruse meninggal dunia akibat kecelakaan di dekat Nürburgring, sebuah kehilangan besar bagi Toyoda dan Toyota.

Dari 86 hingga GR Yaris, Motorsport Jadi Pondasi

Meski sempat merilis Toyota 86 (2012) dan GR Supra (2019), keduanya masih mengandalkan kolaborasi dengan Subaru dan BMW. Toyota belum sepenuhnya “mandiri” dalam membangun mobil sport.

Titik balik datang saat Toyota kembali ke WRC. Berbeda dari pendekatan lama, Toyota kini membalik proses pengembangan: mobil balap diciptakan lebih dulu, lalu diturunkan ke versi produksi. Filosofi ini melahirkan GR Yaris, yang debut di Tokyo Auto Salon 2020 dan langsung mencetak kemenangan di balap Super Taikyu 24 Jam.

Kesuksesan GR Yaris membuka jalan bagi GR Corolla, sekaligus menandai kebangkitan mobil sport Toyota yang benar-benar lahir dari DNA balap.

Kembali ke Nürburgring dan Masa Depan GAZOO Racing

Pada 2025, Toyota kembali ke Nürburgring 24 Hours setelah enam tahun absen, kali ini dengan GR Yaris. Toyoda, yang kini menjadi Master Driver Toyota, kembali turun ke lintasan dan mengaku “berbicara” dengan Naruse, sebuah momen personal yang hanya dipahami oleh dua Master Driver Toyota.

Di tahun yang sama, Toyota memperkenalkan GR GT, GR GT3, dan LFA Concept, sebagai bagian dari visi Shikinen Sengu versi modern, yaitu menciptakan mobil sport terbaik berikutnya lewat motorsport.

Kini, menjelang 20 tahun sejak kelahiran Team GAZOO, Toyota memilih kembali ke nama GAZOO Racing. Sebuah pengingat bahwa semuanya bermula dari rasa malu, semangat belajar, dan keyakinan bahwa mobil terbaik lahir dari lintasan balap.