Ada mobil yang dimodifikasi untuk tampil cepat.
Ada yang dibangun demi terlihat mahal.
Dan ada pula yang lahir hanya karena satu alasan sederhana: kenapa tidak?

Proton Arena 2009 ini berada di kategori terakhir.

Dimiliki oleh Fran Susanto, figur di balik Mikail Autopart, mobil ini bukan sekadar proyek iseng atau eksperimen bengkel. Sebuah statement. Tentang selera, keberanian, dan kecintaan pada kultur JDM yang tidak mau terjebak pakem. Namanya Evo 3 UTE. Dan sejak awal, mobil ini memang tidak berniat menjadi biasa.

Proton Arena sendiri adalah basis yang jarang dilirik. Pick-up kompak asal Malaysia, masuk Indonesia secara resmi namun dalam jumlah terbatas. Bagi sebagian orang, hanyalah kendaraan niaga ringan. Bagi Fran, justru di situlah daya tariknya. Sasis Proton Arena diketahui memiliki kemiripan dengan Mitsubishi Lancer CB Series, fakta teknis yang membuka pintu imajinasi jauh lebih besar.

Jika sasisnya sejalan dengan Lancer, apakah wajah Evo jadi hal yang mustahil?
Jika bentuknya pick-up, maka kenapa tidak sekalian jadi UTE?
Jika dan hanya jika, beranikah DeepEnder keluar dari zona nyaman?

Dari tiga titik itu, konsep mulai mengeras. JDM murni. Evo 3 look. Tapi dalam tubuh pick-up. Sebuah kombinasi yang, di atas kertas, terdengar ganjil. Namun justru di sanalah pesonanya tumbuh. Bagian depan menggunakan body part Evo 3 original lengkap dengan foglamp, dasbor dan setir Evo 3, hingga bucket seat Charge Speed racing original. Sekilas, ini seperti Evo 3 yang salah parkir di area logistik.

Namun keanehan visual hanyalah lapisan pertama. Di baliknya, proyek ini bergerak jauh lebih serius. Mesin 4G93T MIVEC Turbo menjadi jantung utama. Turbo TD05 original Evo 3 dipertahankan, dipadukan dengan piston Traum USA, komponen internal Maxpeding, metal bearing ACL Racing, hingga kopling Exedy. Seluruh orkestrasi mesin dikontrol oleh Max ECU Sport. Ini bukan swap setengah hati. Ini adalah build yang tahu persis ke mana arahnya.

Dan arah itu bukan sekadar lurus.

Keputusan paling berani ada di sistem penggerak. Evo 3 UTE ini dibangun sebagai pick-up 4WD independent. Mencari gardan belakang yang tepat, lalu menyesuaikan long shaft ke sasis Proton Arena, menjadi tantangan tersendiri. Tidak plug-and-play. Tidak instan. Tapi justru di sanalah nilai modifikasinya terasa paling jujur.

Kaki-kaki dipercayakan pada sistem rem Evo 3, dipadu velg OZ Crono Italia R16 dengan PCD 4×114. Kombinasi yang secara visual klasik, namun secara fungsi tetap relevan. Mobil ini tidak berteriak lewat warna mencolok atau aero berlebihan. Ia berbicara lewat detail.

Menariknya, proyek ini juga dikerjakan dengan pendekatan personal. Restorasi dan pengerjaan bodi dilakukan penuh di bengkel sendiri, Mikail Autopart. Sementara urusan mesin, Fran menggandeng Heron Motor Sport, nama legendaris di dunia reli. Kolaborasi yang terasa pas! Satu kaki di kultur, satu kaki di kompetisi.

Soal biaya, Evo 3 UTE bukan proyek murah. Basic mobil berada di kisaran 90–100 juta rupiah. Body part menyentuh 35 juta. Interior Evo dan bucket seat sekitar 45 juta. Engine build di angka 100 jutaan. Kaki-kaki 50 juta. Cat dan restorasi 25 juta. ECU 25 juta. Totalnya berada di kisaran 350 jutaan.

Angka besar, ya?
Tapi ceritanya jauh lebih besar.

Evo 3 UTE bukan tentang rasionalitas. Ia adalah tentang keberanian menggabungkan hal-hal yang seharusnya tidak bertemu, lalu memaksanya hidup bersama dengan harmonis. Pick-up, Evo, JDM, 4WD, yang semuanya dipertemukan tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Di tengah tren modifikasi yang sering mengejar viral dan validasi instan, mobil ini berjalan dengan ritmenya sendiri. Sedikit nyeleneh. Sedikit nakal. Tapi sangat jujur.

Dan mungkin, itulah definisi terbaik dari sebuah proyek modifikasi yang ideal.


Workshop:
Mikail JDM Autopart @mikailautopart