Mobil ini bukan sekadar besi tua di garasi. Dia punya nama Laurens. Dinamai untuk menghormati pemilik pertamanya, Laurens van Veldhuizen, seorang insinyur Belanda yang tiba di Sumba pada 1984, membawa kendaraan itu sebagai bagian dari program pembangunan pedesaan.

William H, seorang wiraswastawan muda dari Waingapu, Sumba Timur, menemukan Laurens di antara tumpukan sejarah yang terlupakan. Mobil itu bukan hanya transportasi, tapi saksi mata. Menembus sungai, menanjak bukit, menjadi kendaraan pertama yang masuk ke desa-desa pegunungan. Kambing disembelih. Sapi dipotong. Semua untuk menyambut kedatangan Land Rover putih ini.
Saya menghubungi Laurens van Veldhuizen di Belanda. Senior Advisor di Nedworc Foundation kini. Beliau mengonfirmasi, “Cerita William itu benar.” Mobil itu memang miliknya, dibeli untuk mendukung kerja sama Gereja Reformasi Belanda dan Gereja Kristen Sumba. Tim bengkel di Lewa mengurus perawatan, suku cadang, dan perbaikan.

“Land Rover itu krusial. Membawa saya ke setiap sudut proyek pembangunan, melewati medan yang bahkan tidak bisa disebut jalan,” kata Laurens.
Tapi kisah Laurens baru dimulai ketika William melihatnya untuk pertama kali. Memori masa kecilnya tentang “jip putih” tiba-tiba terhubung dengan sejarah yang nyata. Perjumpaan singkat di masa kecil itu menancap kuat. Tidak lama kemudian, William menelusuri jejak mobil itu, bertemu Pak Jonas, yang menjaga Land Rover selama puluhan tahun. Mobil yang sama, kini menjadi jembatan waktu antara masa kecil dan kenyataan.


Proses restorasi pun menjadi perjalanan tersendiri. Dari kondisi bahan, penuh penyok dan baret, Laurens dihidupkan kembali dengan konsep Resto-Mod. Mempertahankan tampilan asli, sambil memperkuat sistem keselamatan. Hampir 70% baut masih asli. Lampu, saklar, dan kanvas hood, semua dijaga. Minor modifikasi? Rem tromol diganti cakram, headlamp diganti Hella H4, sistem pengapian diperbarui.





Tiga tantangan terbesar? Menentukan alur restorasi, mencari bengkel yang tepat, dan berburu spare parts original. Semua membutuhkan kesabaran ekstra. Delapan bulan menunggu untuk masuk bengkel di Gianyar, dua tahun pengerjaan intensif. Sementara parts tertentu, seperti saklar lampu Lucas, harus didatangkan langsung dari Inggris.
William menyebut tiga keunggulan Laurens.
Pertama, kesederhanaan.
Kedua, bagian dari sejarah.
Dan ketiga, ketangguhan tanpa kompromi.
“Desain boxy, mekanisme sederhana, mudah dirawat,” ujar William. Setiap perjalanan terasa seperti bagian dari sejarah panjang, dari Perang Dunia II, revolusi Indonesia, hingga program pembangunan di Sumba.

Hari ini, Laurens kembali menjelajah Sumba. Respons publik? Hangat. Nostalgia keluarga Pak Jonas. Apresiasi mantan rekan Sinode GKS. Turis overland, bahkan pelancong dari Prancis, terpikat. Land Rover tua ini bukan hanya mobil. Dia adalah penghubung antara masa lalu dan masa kini.

Mengendarai Laurens adalah pengalaman.
Tanpa power steering.
Raungan mesin terdengar jelas.
Indikator selalu memerlukan perhatian.
Tidak nyaman, tapi otentik.
Ada do’s dan don’ts.
Selalu bawa spare parts, toolkit, dan recovery kit.
Hindari panas matahari langsung.
Jangan naik ke bodi aluminium.
Jangan merokok di kabin.

Dalam tiap guratan cat, tiap baret kanvas, tersimpan cerita manusia. Tentang Laurens Van Veldhuizen yang menembus pegunungan Sumba. Tentang William yang memulihkan sejarah. Tentang Land Rover Series III yang bukan sekadar mobil, tapi legenda hidup.
Kalau sudah jodoh, mobil tua pun bisa kembali ke tangan yang tepat. Dan Laurens menemukan rumahnya lagi. ![]()








































