Siapa bilang Mercedes-Benz dan stance style berada di dua kutub yang berseberangan?
Di satu sisi ada warisan elegansi.
Bermodal spirit presisi Jerman.
Dan citra mapan.
Di sisi lain, stance hadir sebagai ekspresi kebebasan.
Rendah dan lebar.
Serta berani keluar dari pakem pabrikan.

Justru di titik kontras itulah relasi keduanya menjadi menarik. Mercedes-Benz, dengan bahasa desainnya yang clean dan proporsional, kerap dijadikan kanvas ideal bagi pendekatan stance yang matang. Bukan sekadar ekstrem, tapi terkontrol.



Dalam kultur stance global, Mercedes-Benz sering dipilih bukan untuk “dirusak” karakternya, melainkan dipertegas. Stance yang tepat mampu menurunkan pusat visual mobil tanpa menghilangkan aura luxury. Hasilnya adalah keseimbangan unik: mobil tetap terlihat mahal, namun punya sikap. Filosofi inilah yang terasa kuat pada Mercedes-Benz W212, sebuah sedan eksekutif yang secara alami sudah punya fondasi desain yang solid.



Berbicara soal W212, karakter mobil ini memang kuat sejak lahir. Garis bodinya tegas, proporsinya dewasa, dan siluetnya memancarkan kesan elegan tanpa harus banyak gimmick. Desain fender yang relatif “bersih” memberi ruang eksplorasi bagi velg lebar, sementara bentuk bodi yang kotak-elegan justru membuat stance ekstrem terlihat semakin kontras dan berkelas.


Keunggulan lain W212 terletak pada struktur undercarriage dan fender clearancenya. Platform ini dikenal cukup ramah untuk diolah, baik untuk setting camber maupun drop ekstrem, selama dilakukan dengan perhitungan matang. Itulah sebabnya W212 kerap dijadikan basis stance build yang serius. Sebab mobil ini mampu “duduk rendah” tanpa kehilangan proporsi atau terlihat dipaksakan.

Masuk ke ranah modifikasi, mobil bernama “Juleha” milik Nico ini memilih arah stance dengan velg celong sebagai identitas utama. Velg BBS Super RS R19 menjadi statement keras sejak pandangan pertama, dengan lebar depan 10,5 inci dan belakang ekstrem di angka 12 inci. Lips selebar 5,5 hingga 6,5 inci menambah dimensi visual yang brutal namun tetap elegan. Merupakan kombinasi yang tidak mudah dicapai, apalagi pada bodi Mercedes yang terkenal konservatif.
Tantangan terbesar jelas pada proses fitting. Dengan bentuk bodi W212 yang elegan, velg selebar ini menuntut presisi tinggi agar tetap enak dipandang dan fungsional. Solusinya datang lewat camber kit full custom dan airsuspension full set FeelAir, memungkinkan mobil turun rendah saat diparkir, namun tetap nyaman dan usable di jalan. Ban Accelera berukuran 215/35 di depan dan 275/30 di belakang dipilih untuk menjaga clearance sekaligus mendukung karakter stance yang agresif.
Detail finishing tak kalah penting. Bodi diradius natural menjaga garis bodi tetap halus, sementara balutan cat burgundy candy xirallic memberi efek warna dalam yang hidup, berubah karakter tergantung cahaya, dari mewah hingga eksentrik. Seluruh pengerjaan dipercayakan pada tangan-tangan berpengalaman dari @laris.understeel.id, memastikan setiap detail teknis dan visual berada di level yang selaras.

Pada akhirnya, Juleha bukan sekadar Mercedes yang direndahkan. Ia adalah bukti bahwa stance bisa berdamai dengan elegansi, selama konsep, eksekusi, dan rasa dijaga. Sebuah W212 yang tampil beda.

Rendah, lebar, dan berkarakter!
Tanpa kehilangan DNA Mercedes-Benz yang classy. ![]()
Workshop:
Laris Understeel @laris.understeel.id












