Di dunia modifikasi, Mazda 3 punya jalur yang hampir selalu sama.
Racing look.
Fitment agresif.
Keras.
Cepat.
Dan itu bisa diterima.

Mazda erat kaitannya dengan dunia racing karena DNA performa itu memang ditanam sejak awal, bukan sekadar tempelan marketing. Dari ajang balap ketahanan seperti Le Mans, Mazda membangun reputasi lewat pendekatan teknik yang berani berbeda: mesin ringan, responsif, dan efisien. Kemenangan Mazda 787B di Le Mans 1991 bukan sekadar prestasi, tapi fondasi filosofi yang kemudian diturunkan ke mobil-mobil jalan raya.
Filosofi itu hadir dalam bentuk sasis seimbang, bobot efisien, dan karakter mesin yang “hidup”. Mazda tidak mengejar angka tenaga semata, tapi rasa berkendara. Karena itu, mobil-mobilnya, termasuk Mazda 3, terasa natural saat diajak ngebut, bahkan sebelum disentuh modifikasi. Driving feel yang jujur inilah yang membuat basisnya kerap dibaca sebagai mobil berkarakter racing.
DNA performa Mazda 3 sendiri lahir dari warisan teknik yang konsisten. Dikembangkan dengan filosofi Jinba Ittai, Mazda 3 menitikberatkan kesatuan pengemudi dan mobil melalui respon setir presisi, pusat gravitasi rendah, serta mesin Skyactiv yang ringan dan cepat bereaksi. Karakter ini membuatnya terasa enteng dan komunikatif, bukan sekadar cepat di atas kertas.
Tak berhenti di situ, Mazda 3 juga berdiri di garis keturunan yang jelas, berakar dari Mazda Familia/323 yang aktif di touring car dan reli, lalu diperkaya oleh ilmu dari MX-5. Inilah sebabnya Mazda 3 begitu mudah “diajak” ke arah performa atau racing.

Tapi Ghalang Juang memilih belok.
Bukan sedikit.
Belok jauuuh.

Mazda 3 lansiran 2023 miliknya, yang diberi nama Mas Tri, justru dibawa ke wilayah yang jarang disentuh: stance. Bukan karena ikut-ikutan, tapi karena penasaran. Karena belum ada. Dan karena tampilan dasarnya sudah terlalu bagus untuk diperlakukan biasa.

Stance Bukan untuk Mazda 3? Katanya.
Alasan kenapa Mazda 3 jarang disentuh stance amatlah sederhana.
Kaki-kakinya ribet.
Belakangnya keras.
As-nya “nggak bisa diapapain”.

Dan itu semua… benar.
Tapi justru di situ tantangannya.
Bagian belakang harus dirombak total.
Agar custom miring maksimal.
Caster dipikirkan matang.
Supaya saat airsus naik-turun, roda tetap duduk di tengah.
Tidak maju, tidak mundur, tidak aneh.
Mesti center caster.
Depan pun tak kalah serius.
Custom + camber kit.
Bodi depan-belakang diradius.
Bukan cuma ceper tapi rapi.

Tapi memang “biang keroknya” adalah air sus.
Mengubah tatanan yang sudah rapi jali.
Ghalang sakses jadi perception changer.

Menggunakan Feel Air yang full management, Mas Tri justru menemukan hal yang tidak diduga. Mobil ini lebih nyaman dari standar pabrikan.

Naik? Enak.
Turun? Tetap nurut.
Dipakai harian? Aman.
Stance yang biasanya identik dengan kompromi, di sini malah jadi solusi.
Velg tidak asal besar. Dipilih SSR MS3 ring 19, original. Lebar depan 10 inci, belakang 11 inci. Dibungkus Acelera, 215/35/19 depan dan 225/35/19 belakang.

Fitment ketat.
Proporsional.
Tidak maksa.

Untuk berhenti? Tidak main-main.

BBK depan 6-pot 355 mm.
BBK belakang 4-pot 355 mm
Karena stance tanpa kontrol, cuma gaya kosong.

Detail lain ikutan berbicara.
Lip dan diffuser versi custom.
Tidak berlebihan.
Tidak cari perhatian.


Justru ketika diam, Mas Tri terlihat paling niat.
Garis bodi Mazda 3 tetap jadi bintang.
Walaupun minoritas di keluarganya, tapi Mas Tri punya kebebasan memilih karakter. ![]()
Workshop:
Undercarriage & body work: Laris Understeel @laris understel
Car detailing & concept: Secret Project Detailing @secretproject_detailling










