Elektrifikasi kendaraan di Indonesia kini masuk fase yang lebih realistis. Bukan lagi sekadar hype atau ikut arus global, tapi mulai terbentuk sebagai strategi yang disesuaikan dengan kondisi pasar lokal.
Momentum ini terasa kuat setelah gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, di mana produsen mulai menampilkan pendekatan yang lebih fleksibel. Bukan hanya fokus ke mobil listrik murni, tapi juga hybrid dan bahkan mesin diesel modern.
Studi global “Drivers of Change” dari Inchcape memperlihatkan optimisme besar terhadap kendaraan elektrifikasi di kawasan Asia-Pasifik. Sebanyak 83% responden punya pandangan positif terhadap kendaraan listrik dan hybrid. Menariknya, 26% sudah pernah memiliki atau menggunakan kendaraan elektrifikasi, dan 57% lainnya menyatakan niat untuk beralih di masa depan. Meski begitu, keputusan konsumen tetap rasional. Harga masih jadi pertimbangan utama (68%), disusul daya tahan baterai (40%) dan infrastruktur charging (34%).
Indonesia bahkan tampil lebih percaya diri dibanding negara lain di kawasan. Sebanyak 88% responden di Tanah Air punya sentimen positif terhadap elektrifikasi. Meski tingkat kepemilikannya masih di angka 18%, ini justru menunjukkan fase awal yang sehat.
“Survei ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia mendekati elektrifikasi secara deliberatif dan kontekstual. Tingkat sentimen positif sebesar 88% mencerminkan kepercayaan publik terhadap arah elektrifikasi,” ujar Bagus Susanto, Interim Managing Director Inchcape Indonesia.

Data pasar juga mendukung narasi tersebut. Sepanjang 2025, pangsa kendaraan listrik di Indonesia melonjak dari sekitar 5% menjadi hampir 12%. Di saat yang sama, model hybrid dan plug-in hybrid ikut tumbuh stabil. Artinya, transisi elektrifikasi di Indonesia tidak terjadi secara instan, tapi berkembang secara organik mengikuti kesiapan konsumen, infrastruktur, dan ekosistem pendukungnya.
Di sinilah strategi diversifikasi teknologi jadi relevan. Alih-alih memaksakan satu solusi, Inchcape memilih menyediakan berbagai opsi powertrain, mulai dari mesin konvensional, hybrid, hingga EV. Secara regional, bahkan 36% responden menilai hybrid sebagai solusi paling masuk akal saat ini karena menawarkan keseimbangan antara efisiensi, biaya, dan keberlanjutan. “Pendekatan terdiversifikasi memungkinkan elektrifikasi berkembang selaras dengan kesiapan infrastruktur dan preferensi konsumen,” jelas Bagus.
Pendekatan ini terlihat jelas saat Inchcape memperluas portofolionya di IIMS 2026 lewat peluncuran Tank 500 Diesel, melengkapi lini hybrid dan EV dari brand di bawah naungan Great Wall Motor. Sepanjang 2025, performa penjualannya juga menunjukkan tren positif, dengan wholesales mencapai 1.628 unit (naik 105% YoY) dan retail 1.449 unit (naik 115%). Model ORA 03 menyumbang 24% volume wholesales, disusul Tank 300 Diesel 4×4 (22%), Tank 300 Hybrid (15%), dan Tank 300 Diesel 4×2 (14%).
Ke depan, elektrifikasi di Indonesia kemungkinan besar tidak akan berjalan dalam satu jalur tunggal. Kombinasi teknologi, dukungan regulasi, kesiapan infrastruktur, dan preferensi konsumen akan menentukan kecepatannya.
“Elektrifikasi berkembang melalui keselarasan ekosistem. Produsen menghadirkan inovasi, pembuat kebijakan menyediakan kepastian regulasi dan insentif, distributor memperkuat kesiapan ritel dan layanan, dan konsumen pada akhirnya menentukan laju adopsi,” tutup Bagus.
Artinya, masa depan elektrifikasi Indonesia bukan soal cepat atau lambat, tapi soal seberapa relevan dengan kebutuhan nyata di lapangan. ![]()
