Ada satu hal yang membuat Croatia Rally selalu terasa jadi momok bagi tim-tim WRC. Apalagi kalau bukan aspalnya tidak pernah benar-benar bisa dipercaya. Di atas kertas ini adalah event tarmac, tapi karakter lintasannya lebih dekat ke lotere grip dibanding balapan presisi seperti di Monte-Carlo atau Jepang. Dan di situlah paradoks menarik muncul. Ketika Toyota datang dengan rekor sempurna, justru ada lebih banyak alasan untuk meragukan dominasi mereka.

Musim 2026 rupanya membawa perubahan besar. Basis reli bergeser ke Rijeka, jauh dari Zagreb, dan hampir seluruh rute baru. Artinya, semua data historis, termasuk kemenangan beruntun Toyota, praktis kehilangan relevansi. Ini bukan lagi “Croatia yang sama”, melainkan versi baru dengan DNA yang belum terbayang.
Toyota memang datang dengan kepercayaan diri tinggi. GR Yaris Rally1 terbukti kompetitif di berbagai permukaan, dan trio Elfyn Evans, Oliver Solberg, serta Takamoto Katsuta sedang dalam momentum positif.

Namun Croatia bukan soal kecepatan murni. Pembalap harus bisa cepat membaca perubahan grip dari satu tikungan ke tikungan berikutnya. Dari aspal bersih ke bagian yang kotor akibat cutting, dari kering ke lembap dalam hitungan kilometer.

wrc.com

Di sinilah potensi “masalah” Toyota muncul, meski bukan dalam arti konvensional. Ketika sebuah tim terlalu kuat secara teknis, mereka cenderung mengandalkan stabilitas setup. Croatia justru menuntut fleksibilitas ekstrem. Setup yang bisa terasa tepat di satu sektor, lalu tiba-tiba salah total di sektor berikutnya.

Dalam kondisi tersebut, pembalap dengan insting adaptif seringkali lebih menentukan daripada paket mobil terbaik. Elfyn Evans, Takamoto Katsuta, dan Oliver Solberg pasti punya kemampuan itu. Termasuk Sebastien Ogier (part-time/event tertentu) dan Sami Pajari (full season, sering di entry WRT2).

Faktor lain yang diam-diam mengganggu adalah jadwal. Croatia membuka rangkaian padat tiga reli dalam lima minggu, dengan dua event aspal beruntun. Memaksa tim berpikir tidak hanya tentang kemenangan, tetapi juga menjaga keseimbangan untuk event berikutnya.

Menariknya, justru pembalap seperti Katsuta bisa menjadi wildcard. Setelah kemenangan emosional di Kenya, ia datang tanpa beban, dengan pendekatan yang lebih “mengalir”. Di reli seperti Croatia, di mana rasa percaya diri sering mengalahkan data, pendekatan ini bisa menjadi pembeda. Sementara Evans membawa status pemimpin klasemen, tekanan untuk menjaga konsistensi bisa menjadi pedang bermata dua di lintasan yang tidak konsisten.

Croatia Rally akan selalu menjadi pengingat bahwa reli bukan sekadar tentang siapa yang tercepat, tetapi siapa yang paling sedikit salah dalam kondisi yang terus berubah. Toyota mungkin masih menjadi tim yang harus dikalahkan, tetapi di medan seperti ini, dominasi masa lalu tidak lebih dari catatan statistik.