Boeing 747-400 milik KLM Royal Dutch Airlines yang membawa saya menuju Amsterdam Airport Schiphol terasa melaju cepat malam itu. Meski penerbangan berlangsung di jam biologis tubuh untuk tidur, DeepEnd terbiasa begadang. Sebagai editor, malam memang sering kali baru dimulai ketika sebagian besar orang memilih beristirahat. Karena itu, white dan red wine seolah tidak pernah putus, sekadar membantu rasa kantuk datang lebih cepat.

Sesekali saya berjalan ke galley untuk meminta champagne, lalu kembali duduk memandangi kabin yang perlahan mulai tenang. Dari balik in-flight headphone, Vanessa Carlton berulang kali mendendangkan A Thousand Miles, seperti soundtrack yang terus mengiringi perjalanan menuju Eropa.

If I could fall into the sky.
Do you think time would pass me by?
Oh, ’cause you know I’d walk a thousand miles.
If I could just see you tonight.

Dari Schiphol, perjalanan berlanjut menuju Charles de Gaulle Airport.
Hampir satu setengah jam tanpa tidur.
Lalu langsung menuju Paris Expo Porte de Versailles.
DeepEnd masih ingat betul, di sanalah menjadi saksi mata melihat BMW Z4 E85 diperkenalkan secara resmi di Paris Motor Show 2002.

Saat itu BMW sedang berada di fase transisi desain yang berani, meninggalkan pendekatan konservatif akhir 1990-an. Roadster tersebut hadir bukan sekadar sebagai penerus BMW Z3, tetapi juga simbol arah baru BMW di awal milenium. Long hood, short rear deck, dan lekukan bodi yang agresif membuatnya terlihat futuristis sekaligus kontroversial. Tidak semua orang langsung menyukainya, tetapi hampir semua orang membicarakannya. Pendekatannya terasa kaku, tajam, dan sangat Jerman.

Karena itu, ketika memandang BMW Z4 E89 minggu lalu di Bandung, terasa seperti bertemu versi yang lebih dewasa dari E85. Siluet bonnet panjang dan posisi duduk roadster itu masih menyimpan memori awal millennium, saat A Thousand Miles, kabin Boeing 747-400, dan atmosfer Paris tahun 2002 terasa begitu dekat dengan dunia otomotif. Kini E89 memang hadir lebih modern dan refined, tetapi sebagian kecil nuansa liar dari E85 masih terasa tertinggal di sana.

But this ain’t stance.
This is commitment issues!
Sesungguhnya, E89 garapan Holy Moly ini berada di persimpangan reaksi publik.

Static kids amazed.
Diesel kids laugh in torque.
Purists shake their head, quietly judging.
Haters still typing, from behind a stock ride height.

Herdi Baitullah tak sekalipun berniat membangun E89 ini di wilayah casual. Dari awal, ini adalah show car dengan arah yang berani, terutama lewat camber ekstrem yang jauh dari pakem mobil sport pada umumnya. Inspirasi datang dari kultur stance Jepang, terutama gaya Hiro9 yang dikenal berani mengubah proporsi tanpa kehilangan identitas mobil. Dari sana, tujuannya sederhana yaitu membuktikan bahwa camber ekstrem bukan sekadar gimmick visual, tapi bisa tetap terlihat proporsional, matang, dan punya karakter.


Maka…, Herdi membawanya ke Partai Neraka #8, episode road trip dari Yogyakarta ke Legian Bali. Show car yang berani melahap kerasnya jalanan tropis. Istilahnya, “Built to scrape asphalt and hurt feelings.”


Di titik ini, semua keputusan desain bergeser dari sekadar preferensi visual menjadi konsekuensi teknis yang tidak bisa dinegosiasikan. Setiap milimeter yang diturunkan atau derajat yang dicondongkan, selalu ada harga yang ikut dibayar di sisi lain. Kenyamanan, kestabilan, atau sekadar kompromi kecil yang hanya benar-benar dipahami mereka yang ada di dalam prosesnya. Tidak ada ruang untuk sebuah kebetulan. Semua dihitung, dicoba, lalu dirombak berkali-kali sampai akhirnya bertemu bentuk yang dianggap paling “klik”.


Now…, kita masuk ke pembahasan yang lebih serius.

Herdi bersama Holy Moly mengambil langkah radikal di sektor fitment. Sudut camber depan menyentuh minus 20 derajat, sementara belakang berada di angka minus 21 derajat. Tapi angka itu bukan tujuan utama, “Semua lahir dari proses mencari titik temu antara geometri kaki-kaki, dimensi velg, dan posisi bodi. Bukan soal mengejar angka tertentu, tapi bagaimana hasil akhirnya terasa pas, baik saat mobil diam maupun saat dia bergerak,” ucap Os, panggilan akrabnya.

Tantangan terbesar justru datang dari karakter bawaan Z4 E89 itu sendiri. Struktur mobil ini cukup sensitif terhadap perubahan toe dan camber. Begitu setup fitment mulai terlihat ideal, toe bisa ikut bergeser cukup drastis dan membuat mobil jadi kurang enak dikendalikan. Sebaliknya, ketika toe dibuat aman, proporsi roda kembali terasa janggal. Proses ini berulang hampir enam bulan sampai akhirnya ketemu setelan yang bisa menjaga keduanya tetap seimbang.

“At some point, ini sudah bukan perkara camber lagi. Lebih ke bagaimana sebuah ide yang awalnya dianggap ‘salah arah’ bisa tetap dibuat bekerja dengan benar. Lewat riset, konstruksi, dan keberanian buat ngerjain sesuatu yang orang lain anggap enggak masuk akal,” ujar Hafiz Abdul Azis, salah satu owner sekaligus pencetus nama Holy Moly.

Di sisi eksterior, bodywork dikerjakan dengan pendekatan yang sangat terukur. Fender depan dan belakang diradius ulang, masing-masing naik sekitar 4 cm di depan dan 7 cm di belakang. Menariknya, perubahan ini tidak dibuat berlebihan secara visual. Bentuk fender tetap dijaga agar masih terasa seperti OEM, termasuk garis pinggul khasnya. Hasilnya, mobil tetap terlihat natural meski dimensinya sudah berubah jauh.

Sektor suspensi jadi area paling banyak disesuaikan. Mobil ini memakai air suspension Feel Air dengan management system Air Lift, namun setup depan direvisi agar bisa duduk lebih rendah dari standar. Airbag dibuat lebih kecil, damper dipendekkan, dan camber plate didesain ulang untuk mengejar sudut ekstrem. Konsekuensinya, travel suspensi memang berkurang, tapi kompromi itu dianggap sepadan dengan hasil visual yang didapat.

Di area belakang, perhatian juga tidak kalah detail. Pillowball ditambahkan pada support shock, begitu juga di bushing bawah. Tujuannya sederhana, apalagi kalau bukan untuk menjaga suspensi tetap stabil saat roda bekerja di sudut ekstrem. Tekanan udara pun dibedakan, 60 PSI di depan dan 45 PSI di belakang untuk penggunaan normal. Mode paling rendah sendiri hanya dipakai untuk kebutuhan konten atau display, bukan harian.

Velg menjadi salah satu elemen paling krusial dalam karakter mobil ini. Herdi memilih BBS RS2 ring 18 dengan spesifikasi custom yang cukup agresif, 10 inci ET -40 di depan dan 10,5 inci ET -47 di belakang. RS2 dipilih karena menurutnya punya karakter klasik yang tetap relevan, bahkan saat dipasangkan dengan roadster modern seperti Z4. Untuk mencapai spek tersebut, lips dan barrel dibuat khusus langsung dari pabrikan.

Sedangkan ban yang dipakai adalah Accelera 651 Sport ukuran 225/40ZR18 dan 235/40ZR18. Bukan untuk mengejar stretch berlebihan, tapi menjaga agar fitment tetap penuh dan proporsional. Karakter sidewall yang kuat juga membantu saat camber ekstrem bekerja, menjaga bentuk ban semi slick ini tetap stabil di bawah beban miring.

Berbekal kombinasi ini, mobil masih terasa cukup usable untuk ukuran setup seperti ini. Bahkan setelah menuntaskan perjalanan panjang Jogja-Bali-Jogja, velg tetap utuh tanpa masalah berarti. Bukankah ini sebuah validasi bahwa setup ini bukan semata untuk pameran di dalam ruangan?

Secara visual, warna biru Birmingham dipilih sebagai titik tengah antara selera personal dan identitas BMW itu sendiri. Herdi tidak ingin DNA mobil ini hilang hanya karena modifikasi yang terlalu jauh. Karena itu, finishing dibuat bersih dan minim distraksi. Tidak ada sentuhan berlebihan selain proses detailing sebelum mobil tampil di event atau dokumentasi.


Meski tampil ekstrem, mobil ini tetap disiapkan untuk dipakai. Kenyamanan jelas tidak bisa disamakan dengan mobil harian, tapi dalam konteks stance bercamber ekstrem, Z4 ini masih berada di batas yang dapat digunakan. Dalam beberapa perjalanan antar kota bahkan antar pulau, mobil ini tetap bisa menyelesaikan rute tanpa perlu penyesuaian ulang di tengah jalan.

Tantangan lain datang dari kondisi jalan Indonesia yang tidak selalu bersahabat untuk mobil kandas. Permukaan bergelombang, lubang, hingga sambungan aspal jadi konsekuensi yang harus diterima setiap kali mobil ini bergerak.


Di sisi mesin, pendekatannya justru dibuat sederhana. Sentuhan dapur pacu baru sebatas open filter, namun sistem pembuangan mesin sudah full system exhaust valve tronic dari KW Exhaust. Bukan karena performa tidak diperhatikan, tapi karena fokus utama proyek ini memang ada di eksekusi visual dan engineering stance. Upgrade mesin penuh masih jadi rencana berikutnya, termasuk kemungkinan penggunaan centerlock BBS sebagai evolusi tahap lanjutan.

Pada akhirnya, Holy Moly sadar respon publik akan selalu terbelah. Tapi justru di situ identitasnya terbentuk. Mobil ini tidak dibangun untuk semua orang. Melainkan untuk mewujudkan satu visi, tetap jalan, tetap utuh, dan dieksekusi dengan keseriusan penuh dari awal sampai akhir.

Salah satu owner lainnya, Miftah Nurcahyadi, bilang, “Yang bikin puas itu bukan cuma respon orang lihat mobil ini, tapi saat semua kalkulasi, trial error, dan bayangan di kepala akhirnya benar-benar kejadian di dunia nyata. Mobilnya jalan sesuai yang kita prediksi. Modifikasi kayak gini bukan lagi soal looks, tapi soal gimana semua elemen bisa tetap nyatu walaupun setupnya seradikal ini.”

Ah sudahlah! Gegara Holy Moly jadi keinget Vanesa Carlton lagi.

Cause you know I’d walk a thousand miles.
If I could just see you.
If I could just hold you.
Tonight.

Ok, ditunggu di Sumatera Bersatu Vol. 2!
Berani kan?


Workshop:
Holy Moly @holymoly__service

Data Mods:
Feel Air bolt-on air suspension with Air Lift management system, Project µ 6-pot/355 mm all around w/ EPB, custom adjustable camber kit, Birmingham Blue repaint, front fender radius +4 cm, rear fender radius +7 cm, BBS RS2 18x(10 +10.5) inches, Accelera 651 Sport 225/40ZR18 & 235/40ZR18, Recaro RCS bucket seats, 15-piece carbon kevlar interior trim, Armaspeed open filter intake, KW Exhaust full system w/ valve tronic exhaust