Pasar mobil listrik Indonesia memang sedang tumbuh cepat. Tapi belum semua konsumen benar-benar siap dengan EV murni. Kebanyakan masih punya kekhawatiran soal charging station, jarak tempuh, sampai fleksibilitas penggunaan harian.

Situasi tersebut yang coba dibaca BYD lewat peluncuran teknologi Dual Mode (DM) di Indonesia. Sistem ini menggabungkan karakter kendaraan listrik dan plug-in hybrid dalam pendekatan electric-first, di mana motor listrik tetap menjadi sumber tenaga utama dalam penggunaan sehari-hari, sementara mesin bensin bekerja sebagai pendukung ketika dibutuhkan.

Strategi tersebut hadir di saat pasar kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) nasional mulai bergerak lebih matang. Data GAIKINDO yang dikutip BYD menunjukkan pangsa pasar kendaraan listrik nasional meningkat dari di bawah 1 persen pada 2022 menjadi sekitar 20 persen di kuartal pertama 2026 untuk segmen kendaraan penumpang.

Namun di balik pertumbuhan itu, pola penggunaan kendaraan di Indonesia masih punya tantangan tersendiri. Infrastruktur charging memang terus berkembang, tapi distribusinya belum sepenuhnya merata. Mobilitas antarkota juga masih tinggi, sementara kendaraan bermesin konvensional tetap mendominasi sekitar 65 persen pasar otomotif nasional.

BYD melihat kondisi tersebut sebagai sinyal bahwa pasar Indonesia belum sepenuhnya selesai membangun rasa percaya diri terhadap EV murni. Karena itu, teknologi DM diposisikan bukan sebagai pengganti kendaraan listrik, melainkan solusi transisi yang dianggap lebih realistis untuk sebagian konsumen saat ini.

“Melalui pengembangan teknologi Dual Mode, BYD ingin menghadirkan solusi transisi energi yang lebih fleksibel, efisien, yang mudah diakses masyarakat luas, termasuk di Indonesia,” ujar Liu Xueliang, Vice President of BYD Co., Ltd. General Manager of BYD Asia Pacific Auto Sales Division.

Secara teknis, sistem DM memungkinkan mobil bergerak menggunakan tenaga listrik dalam penggunaan perkotaan yang padat dan stop-and-go. Saat baterai mulai berkurang atau kendaraan digunakan untuk perjalanan jarak jauh, mesin bensin akan bekerja menopang sistem tanpa menghilangkan karakter berkendara EV yang senyap, halus, dan responsif.

BYD menyebut generasi terbaru DM 5.0 sudah mengalami peningkatan efisiensi cukup signifikan dibanding sistem awal yang diperkenalkan sejak 2008. Dalam pengujian internal perusahaan, teknologi ini diklaim mampu mencatat jarak tempuh gabungan lebih dari 1.800 kilometer dengan konsumsi bahan bakar mencapai 65 km/liter.

“Hari ini, kami membawa semangat yang sama melalui teknologi Dual Mode untuk kembali membuka babak baru pasar NEV di Indonesia. Kami ingin menghadirkan solusi mobilitas yang dapat melengkapi pertumbuhan pasar NEV yang saat ini berkembang positif agar semakin meluas dan inklusif. Hal ini diwujudkan melalui teknologi DM yang lebih fleksibel, efisien, serta semakin mudah diakses oleh masyarakat termasuk di berbagai wilayah Indonesia, sehingga dapat menjangkau lebih banyak kebutuhan dan lapisan pasar di tanah air,” ujar Eagle Zhao, President Director PT BYD Motor Indonesia. i