Dunia otomotif sedang ramai membicarakan Ferrari Luce. Bukan cuma karena ini adalah mobil listrik pertama Ferrari, tetapi karena banyak orang merasa mobil ini seperti sesuatu yang datang dari Cupertino, bukan Maranello.

Di internet, muncul berbagai komentar yang langsung viral. Ada yang menyebutnya “Ferrari rasa Apple”. Ada juga yang bilang Luce terlihat seperti “Apple Car yang akhirnya jadi Ferrari”. Komentar seperti itu mungkin terdengar berlebihan, tetapi semakin lama diperhatikan, semakin terasa bahwa Luce memang berbeda dari Ferrari yang selama ini dikenal publik.

Ferrari selama puluhan tahun identik dengan desain agresif, sensual, dan emosional. Mobil-mobilnya punya lekukan dramatis, intake besar, proporsi liar, dan aura mekanis yang terasa hidup. Bahkan ketika diam, Ferrari biasanya tetap terkesan “berisik”. Namun Luce justru mengambil arah sebaliknya.

Mobil ini tampil sangat bersih.
Permukaan bodinya minim detail tajam.
Lampu depannya tipis horizontal dengan pendekatan visual yang sangat modern.
Siluetnya rendah dan memanjang, tetapi tidak penuh tarikan garis agresif ala supercar Italia klasik.
Semuanya terasa lebih halus, lebih tenang, dan lebih aerodinamis.

Di titik inilah publik mulai menghubungkan Ferrari Luce dengan tren desain EV modern, khususnya mobil-mobil listrik premium asal Tiongkok. Banyak netizen membandingkannya dengan Xiaomi SU7 karena keduanya sama-sama mengusung formula sedan EV low-slung dengan bahasa desain minimalis. Proporsinya landai, atap mengalir mulus ke belakang, dan keseluruhan bentuk mobil terasa seperti hasil optimasi aerodinamika digital dibanding desain emosional tradisional.

Perbandingan itu semakin ramai karena Xiaomi SU7 sendiri dikenal sebagai salah satu EV performa paling agresif dari China saat ini. Apalagi Ferrari memang pernah “kepergok” membawa Xiaomi SU7 Ultra masuk ke area pabrik dan markas mereka di Maranello, Italia. Foto-fotonya sempat viral karena mobil itu terlihat keluar dari kompleks Ferrari dengan pelat non-Italia. Ketika Ferrari Luce muncul dengan pendekatan visual serupa, car enthusiast langsung bereaksi.

Di media sosial, sebagian netizen bahkan menyebut Ferrari Luce lebih mirip mobil konsep Apple dibanding Ferrari tradisional. Ada yang menganggap desainnya terlalu steril, terlalu digital, hingga kehilangan aura mekanis khas supercar Italia. Reaksi seperti inilah yang membuat istilah “Apple Car berkedok Ferrari” mulai ramai dipakai.

Meski begitu, akar desain Luce sebenarnya kemungkinan bukan berasal dari Xiaomi. Pengaruh paling kuat justru datang dari Jony Ive dan studio LoveFrom yang ikut terlibat dalam proyek ini bersama Ferrari. Jony Ive dikenal sebagai otak desain berbagai produk Apple seperti iPhone, iMac, dan MacBook generasi modern. Filosofinya selalu sama dengan menghilangkan hal-hal yang dianggap tidak perlu hingga tersisa bentuk paling bersih dan paling sederhana.


Pendekatan itulah yang terasa kuat pada Ferrari Luce. Mobil ini seperti menerjemahkan prinsip industrial design ala Apple ke dalam bentuk kendaraan performa tinggi. Tidak terlalu banyak ornamen. Tidak terlalu banyak dramatisasi visual. Semua dibuat bersih, seamless, dan futuristis.

Masalahnya, Ferrari ya bukan Apple.

Ferrari selama ini dijual bukan hanya lewat teknologi atau performa, tetapi lewat emosi. Suara mesin, getaran mekanis, aroma kabin, hingga desain yang provokatif adalah bagian dari identitas Ferrari. Ketika Luce tampil terlalu steril dan terlalu minimalis, sebagian penggemar merasa ada sesuatu yang hilang.

Karena itu komentar pedas mantan bos Ferrari, Luca Cordero di Montezemolo, menjadi sangat relevan. Kritiknya sebenarnya bukan sekadar soal mobil listrik, tetapi soal kekhawatiran bahwa Ferrari mulai kehilangan jiwanya sendiri.

Ironisnya, justru di situlah Ferrari Luce menjadi sangat menarik. Ferrari kini sedang berada di persimpangan besar: tetap mempertahankan romantisme masa lalu atau mulai berbicara dengan generasi baru yang tumbuh bersama iPhone, Tesla, Xiaomi, dan dunia serba digital. Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah modernnya, Ferrari membuat mobil yang lebih banyak diperdebatkan karena filosofi desainnya dibanding sekadar angka performanya.