Selama beberapa dekade terakhir, dunia supercar bersaing menuju satu tujuan yang sama: semakin cepat.

Pabrikan berlomba mencatat akselerasi terbaik, memangkas waktu sepersekian detik di sirkuit, hingga menghadirkan teknologi yang membuat perpindahan gigi nyaris tanpa jeda.

Di tengah perlombaan itu, ada satu hal yang perlahan menghilang, yakni keterlibatan pengemudi.

Mobil-mobil modern masa kini begitu canggih. Transmisi otomatis bekerja lebih cepat daripada kemampuan manusia mengoperasikan kopling dan tuas persneling. Paddle shift di balik kemudi menggantikan peran tangan kiri dan kaki kiri, sementara berbagai sistem elektronik memastikan setiap perpindahan gigi berlangsung sempurna. Hasilnya memang efektif, tetapi bagi sebagian penggemar mobil, sensasi mengemudi justru terasa semakin steril.

Di tengah tren tersebut, Ferrari mengambil langkah yang tidak lazim. Melalui Ferrari 12Cilindri Manuale, pabrikan asal Maranello itu justru memilih mengembalikan ritual mengemudi yang selama ini mulai ditinggalkan. Bukan sekadar menghadirkan mobil dengan transmisi manual, Sang Kuda Jingkrak ingin menghidupkan kembali hubungan emosional antara manusia dan mesin.

Namun Ferrari tidak benar-benar memutar waktu ke belakang. Alih-alih memasang gearbox manual konvensional, mereka mengembangkan sistem baru bernama Manuale By-Wire, sebuah teknologi yang memadukan pengalaman analog dengan kecanggihan elektronik modern.

Sistem tersebut tetap menggunakan transmisi dual-clutch (DCT) 8-percepatan yang selama ini menjadi andalan Ferrari. Bedanya, pengemudi kini kembali dihadapkan pada tiga pedal, termasuk pedal kopling, serta tuas transmisi H-pattern yang dirancang untuk memberikan sensasi mekanis layaknya Ferrari klasik. Seluruh gerakan tuas dan pedal diterjemahkan menjadi sinyal elektronik dengan tingkat presisi tinggi, namun tetap mempertahankan rasa mekanis yang selama ini dirindukan para penggemar.

Ferrari bahkan mengembangkan mekanisme khusus agar perpindahan gigi menghadirkan bunyi ‘klik’, hambatan, hingga umpan balik yang menyerupai gearbox manual konvensional. Tuas transmisi dibuat dari blok logam solid dengan mekanisme kinematik khusus sehingga setiap perpindahan gigi terasa memiliki karakter tersendiri, bukan sekadar perintah digital.

Yang menarik, pengalaman tersebut tidak berhenti pada tuas transmisi. Pedal kopling juga dirancang agar benar-benar mengharuskan pengemudi mengatur koordinasi kaki dan tangan sebagaimana mobil manual pada umumnya. Jika perpindahan gigi dilakukan dengan timing yang tepat, hasilnya akan terasa mulus. Sebaliknya, bila teknik pengemudi kurang sempurna, perpindahan gigi dapat terasa kasar, muncul hentakan, bahkan mesin bisa mati atau stall. Ferrari sengaja mempertahankan karakter tersebut demi menghadirkan pengalaman mengemudi yang autentik.

Keputusan Ferrari ini terasa menarik karena bertolak belakang dengan arah perkembangan industri otomotif saat ini. Ketika banyak produsen berlomba membuat mobil semakin mudah dikendarai melalui berbagai sistem bantuan elektronik, Ferrari justru meminta pengemudinya kembali aktif berinteraksi dengan mobil.

Bahkan, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ferrari menghilangkan paddle shift di belakang kemudi pada model ini. Seluruh fokus diarahkan pada perpindahan gigi menggunakan tuas transmisi dan pedal kopling. Pengemudi bahkan masih dapat melakukan teknik heel-and-toe yang selama ini identik dengan mobil manual berperforma tinggi.

Meski demikian, Ferrari tetap menyadari bahwa tidak semua perjalanan membutuhkan keterlibatan penuh. Karena itu, 12Cilindri Manuale tetap dapat dioperasikan dalam mode otomatis. Saat pengemudi menginginkan kenyamanan berkendara di jalan raya atau kondisi lalu lintas padat, sistem DCT akan bekerja sepenuhnya layaknya transmisi otomatis modern. Fleksibilitas ini menjadi pembeda utama dibanding gearbox manual konvensional.

Di balik kap mesinnya masih bersemayam mesin V12 naturally aspirated 6,5 liter yang menghasilkan tenaga 830 cv dengan putaran mesin mencapai 9.500 rpm. Performa tersebut memungkinkan mobil berakselerasi dari 0-100 km/jam hanya dalam 2,9 detik dan mencatatkan kecepatan maksimum lebih dari 340 km/jam.

Di model ini, justru yang ingin dijual Ferrari adalah pengalaman. Momen ketika pengemudi menginjak kopling, memindahkan tuas transmisi, mendengar bunyi mekanis perpindahan gigi, lalu merasakan mesin V12 merespons setiap gerakan tangan dan kaki secara langsung.

Mereka tidak sekadar menawarkan sebuah supercar edisi terbatas sebanyak 1.499 unit, melainkan mengajak para penggemarnya mengingat kembali alasan mengapa mengemudi pernah menjadi aktivitas yang begitu menyenangkan.