Royal Riders Indonesia (RoRI) resmi menetapkan delapan program prioritas untuk 100 hari pertama kepengurusan baru periode 2026-2028. Penetapan ini jadi salah satu hasil utama Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I RoRI 2026 yang digelar di Sekretariat Pusat RoRI, Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Rakernas ini bukan sekadar seremoni kick-off kepengurusan baru. Ajang ini jadi momentum konsolidasi nasional buat menyatukan pemahaman, arah, dan langkah antara Pengurus Pusat dengan 17 Chapter serta 24 Sub-Chapter yang tersebar di berbagai daerah.

Mengusung semangat “Forever Solidarity”, RoRI menegaskan pembenahan organisasi kali ini tidak dimaksudkan buat meninggalkan legacy satu dekade sebelumnya, melainkan memperkuat fondasi supaya persaudaraan tetap terjaga seiring organisasi terus berkembang.

Presiden RoRI 2026-2028 Ambar Widodo buka suara soal arah besar kepengurusannya. “Yang sudah baik kita lanjutkan, yang belum rapi kita rapikan, yang belum selesai kita tuntaskan, dan yang perlu diperbarui kita perbarui. Target 100 hari pertama adalah rapikan fondasi dan mulai bergerak,” ujarnya.

Ambar menekankan bahwa komunitas yang makin besar butuh sistem yang makin baik juga. Ia menyinggung soal data yang benar, administrasi yang tertib, tata kelola keuangan yang transparan, komunikasi yang sehat, sampai aturan yang mampu menjaga rasa adil ke seluruh anggota.

Dari delapan program yang disepakati, urusan digitalisasi jadi salah satu yang paling menarik perhatian. RoRI tengah menyiapkan One RoRI Database, sebuah basis data anggota nasional yang valid untuk mendukung membership, administrasi, komunikasi, kegiatan, hingga pengembangan digital organisasi secara menyeluruh.

Database ini disiapkan bukan cuma buat menampung nama dan nomor anggota. Tahap awal digitalisasi RoRI juga sudah mulai merangkul integrasi administrasi, membership, kalender kegiatan, dan komunikasi jadi satu ekosistem yang saling terhubung.

Selain database, RoRI turut menyiapkan National Activity Calendar untuk mengatur ritme kegiatan 17 Chapter dan 24 Sub-Chapter agar tidak saling tabrakan jadwal. Kalender nasional ini sekaligus dirancang membuka lebih banyak ruang kolaborasi antarwilayah.

“PP memberikan arah dan koordinasi nasional. Marshal memimpin Chapter dan Deputy Marshal mengembangkan Sub-Chapter. Kita ingin daerah tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan berinovasi, tetapi semuanya bergerak dalam satu arah besar RoRI,” demikian penjelasan yang disampaikan dalam Rakernas.

Enam program lain yang berjalan beriringan dengan agenda digitalisasi meliputi pembenahan organisasi dan administrasi, tata kelola dan transparansi keuangan, standardisasi atribut dan patch, renewal dan pembentukan Pokja ART, serta konsolidasi Chapter dan Sub-Chapter. Setiap program diarahkan memiliki target, penanggung jawab, tenggat waktu, progres, dan output yang dapat dievaluasi.

Dengan pendekatan seperti itu, Program 100 Hari tidak berhenti jadi sekadar daftar agenda di atas kertas. Program ini diposisikan sebagai ukuran awal kinerja kepengurusan RoRI 2026-2028 sejak hari pertama.

Kepengurusan baru ini membawa pendekatan yang disebut Renewal. Renewal di sini tidak dimaknai sebagai mengganti identitas RoRI atau meninggalkan legacy yang telah dibangun, melainkan menjaga yang sudah baik, memperbaiki yang perlu, dan mempersiapkan organisasi menghadapi masa depan. Prinsip kepengurusan diarahkan pada kepatuhan terhadap AD/ART, keadilan kepada seluruh anggota, tertib administrasi, transparansi keuangan, komunikasi terbuka, serta persaudaraan sebagai fondasi organisasi.

Salah satu langkah konkret dari pendekatan Renewal ini adalah pembentukan Pokja ART untuk mengkaji penyempurnaan aturan organisasi melalui proses review, penyerapan aspirasi, penyusunan perbaikan, konsultasi, hingga rekomendasi.

Pokja ART ini jadi bagian dari roadmap jangka panjang menuju konsep One Member, One Vote atau Satu Member, Satu Suara. RoRI sendiri tidak terburu-buru soal ini, validitas database, kejelasan membership, kesiapan sistem digital, dan dukungan ART diposisikan lebih dulu sebagai fondasi sebelum konsep tersebut bisa diwujudkan.

Roadmap besarnya dibuat sederhana, seratus hari rapikan fondasi, satu tahun kuatkan sistem, dua tahun tinggalkan legacy. Legacy yang dituju bukan sekadar banyaknya event yang digelar, melainkan organisasi yang lebih tertib, memiliki data valid, keuangan transparan, sistem modern, aturan relevan, daerah yang kuat, demokrasi yang lebih partisipatif, serta persaudaraan yang semakin solid.

Ambar menegaskan ekspektasinya soal target seratus hari ke depan. “Saya tidak ingin Rakernas ini selesai hanya dengan foto bersama dan dokumen program kerja. Seratus hari dari hari ini, kita harus bisa melihat apa yang benar-benar sudah kita selesaikan,” katanya.

Selain penetapan delapan program kerja, rangkaian Rakernas I RoRI 2026 turut diisi peresmian Sekretariat Pusat, penyampaian LPJ dan serah terima kepengurusan 2024-2026 kepada kepengurusan 2026-2028, penataran Panca Bahagia oleh Founder RoRI, sosialisasi AD/ART, sinkronisasi program kerja, penyusunan kalender kegiatan nasional, hingga penyematan pin dan penyerahan SK Marshal dan Deputy Marshal.

Royal Riders Indonesia merupakan komunitas pengendara Royal Enfield di Indonesia yang telah tumbuh selama satu dekade. Memasuki periode kepengurusan 2026-2028, fokus penguatan organisasinya diarahkan pada tata kelola, validitas data, koordinasi pusat dan daerah, digitalisasi, serta persaudaraan sebagai fondasi utama.