Minggu lalu, DeepEnd bersenang-senang di Solo, yang mendapat gelar sebagai kota otomotif.
Bertemu kawan-kawan lama, sekalian jumpa banyak mobil impresif.
Salah satunya, Ferrari 458 Italia, model yang menandai akhir era V8 naturally aspirated bermesin tengah Ferrari sebelum kedatangan 488 GTB bermesin twin-turbo.

Dari luar kalem, tetapi karakter aslinya jauh dari jinak.
Suara V8-nya bukan raungan berat seperti yang identik dengan banyak V8 Amerika.
Mesin naturally aspirated 4,5 liter ini punya karakter suara yang melengking ketika putaran mesin meningkat, salah satunya berkat konfigurasi flat-plane crank.

Tapi, ada caranya kalau ingin menikmati putaran tinggi.
Jangan langsung digeber saat mesin masih dingin.
Tunggu hingga temperatur oli mencapai kondisi kerja yang sesuai sebelum meminta mesin bekerja keras.

Lantas, kenali Manettino di setir, istilah dari Michael Schumacher waktu masih di F1 Ferrari.
Switch merah kecil di setir, pada posisi jam 15.00.
Sakelar putar ini mengatur karakter respons dan sistem kontrol kendaraan sesuai mode berkendara yang dipilih.
Pindahkan ke RACE, dan karakter intervensi sistem kontrol traksi serta stabilitas berubah untuk memberi ruang lebih besar bagi pengemudi saat berkendara agresif di lintasan. Namun, mode ini bukan alasan untuk mengabaikan kondisi ban, permukaan trek, atau kemampuan pengemudi.

Jadi, Sabtu pagi itu, Budi Bewe pakai mode yang mana? Sudah-sudah! Malah jadi panjang kalau dijelasin.

Nah, untuk urusan modifikasi, Ferrari 458 Italia milik Budi Bewe mengandalkan kombinasi Vorsteiner dan Novitec pada eksterior. Vorsteiner menyumbang carbon front lip, rear diffuser, dan rear spoiler. Sementara Novitec memasok carbon side skirt serta front louvre. Komponen karbon tersebut tersebar dari bagian depan hingga buritan, mengikuti proporsi dasar desain Pininfarina.

Sistem knalpot IPE menggantikan perangkat standar. Sektor kaki-kaki mengandalkan H&R lowering kit, sedangkan seluruh bodi mendapat perlindungan full paint protection film (PPF).

Perhatian berikutnya tertuju pada sektor roda. AF 10Y berukuran 21 inci dengan lebar 9,5 inci di depan dan 12,5 inci di belakang. Ban Michelin Pilot Sport 5 berukuran 255/30ZR21 di depan dan 335/25ZR21 di belakang melengkapi setup tersebut. Lebar roda dan ban belakang yang lebih besar memberi buritan tampilan lebih berisi, sekaligus menegaskan proporsi khas mobil bermesin tengah ini.

Satu hal yang perlu diperhatikan dari setup roda seperti ini adalah kesesuaian antara dimensi velg, ukuran ban, dan ruang gerak suspensi. Dengan lebar 9,5 inci di depan serta 12,5 inci di belakang, pemilihan offset dan posisi roda ikut menentukan jarak terhadap fender maupun komponen di baliknya. Pada mobil dengan mesin di tengah dan distribusi bobot yang dirancang untuk mendukung respons pengendalian, perubahan pada sektor kaki-kaki perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar tampilan saat mobil terparkir.

Ferrari 458 Italia ini mempertemukan sejumlah nama yang dikenal di dunia aftermarket performa dan eksotika, mulai dari Vorsteiner, Novitec, IPE, H&R, hingga AF 10Y. Budi Bewe mempertahankan mesin V8 4,5 liter sebagai pusat karakter mobil, sementara perubahan diarahkan pada detail eksterior, suara knalpot, ketinggian bodi, dan tampilan roda. Hasilnya adalah konfigurasi personal yang tetap bertumpu pada bentuk dasar 458 Italia, tanpa perlu mengubahnya menjadi sesuatu yang kehilangan ciri khas Ferrari.


Workshop:
Driveech Auto Garafe @drivetechautogarage

Data Mods:
Vorsteiner carbon front lip, Vorsteiner carbon rear diffuser, Vorsteiner carbon rear spoiler, Novitec carbon side skirt, Novitec carbon front louvre, IPE exhaust system, AF 10Y 21x(9.5+12.5) inches, Michelin Pilot Sport 5 255/30ZR21 & 335/25ZR21, H&R lowering kit, full PPF protection