Pagi itu, Dipo benar-benar datang ke Bogor.
Berdua, bareng dengan El Rojo.
Mestinya Harris ikutan juga, ngajak another Pug-nya.
Rupanya, hanya Dipo yang berani terima tantangan!

Tujuannya jauh, bukan kaleng-kaleng.
Pantai Geopark Ciletuh.
120 km sekali jalan.
3 jam 11 menit dari Bogor.

Padahal…, El Rojo itu motuba.
Wujudnya berupa Citroen BX 16 TRS 1992.
Underrated.
Bukan selera kebanyakan.

Belum lagi isu tentang sistem suspensi hydropneumatic yang rawan bocor.
Akibatnya sistem power steering dan rem bisa mogok bekerja.
Bearing lengan ayun belakang aus, bikin roda belakang negative camber.
Material interior dan komponen plastik yang menua jadi sumber noise.

Tapi El Rojo sudah restomod.
Bahkan sleeper.
Menjadikannya seperti pelari jalur maraton.
Atau pelintas alam yang punya daya tahan luar biasa.

Selama perjalanan itu, benar-benar terkagum-kagum sama kemampuan mobil ini.
Joknya gak tepos, duduk jadinya enggak galau.
AC-nya dingin, ini paling poin, padahal kaca filmnya zero persen.
Sedangkan suspensinya, aduhhhh…, main betul.

Dari dalam kabin, terasa banget respon mesin sporty yang sigap.
Karakter mesinnya berasa Italiano, torsi tersedia di rpm berapapun.
Suara knalpot itu, a bit raspy saat ditekan revnya.
Namun minim dengung, jadi DeepEnd tak lelah sepanjang jalan.

 

DeepEnd buka rahasianya ya.
Pertabungan diganti freeflow.
Perpipaan memakai material monel.
Header tetap menggunakan standar saudaranya, Peugeot.

Semua itu tentunya bermuara dari dapur pacu. Dipo bilang upgrade mesin ternyata tidak mudah. Ia tak memilih opsi swap ke mesin dengan kapasitas lebih besar milik saudaranya Peugeot, dimana tanpa bracket pompa hidrolik utk sistem suspensi.

Akhirnya diputuskan untuk, “Pertahankan blok mesin bawaan dan kanibal jeroan mesin dari Peugeot,” ucap pedagang alat berat ini. Detailnya meliputi crankshaft dan piston rod yang plug and play. Normal proses saja, istilah tukang bubutnya: “ngepas metal”. Overall, setor mesin yang didevelop oleh Dian Autodynamic ini jatuhnya “stroker up” alias naik kapasitas mesin dari 1.600 ke 1.900 cc.

Di sisi lain, proses convert pada sistem suplai bahan bakar dari karburator ke injeksi membutuhkan energi untuk trial error. “Sangat bergantung dari feeling apakah konfigurasi komponen pendukung injeksi sudah pas atau belum,” kata kelahiran 17 Juni ini.

Diameter throttle body yang terlalu kecil dapat membatasi aliran udara ke mesin, sedangkan ukuran yang terlalu besar bisa membuat respons bukaan throttle kurang presisi, terutama pada putaran rendah. Karena itu, pemilihan diameter throttle body perlu disesuaikan dengan kapasitas mesin dan karakter performa yang diinginkan. Ukuran yang tepat akan membantu menghasilkan respons mesin yang baik tanpa mengorbankan kelancaran akselerasi.

Throttle Position Sensor (TPS) membaca posisi bukaan throttle dan mengirimkan sinyal ke ECU sebagai salah satu parameter pengaturan mesin. Setelah throttle body ditentukan, pemilihan injector disesuaikan dengan kebutuhan suplai bahan bakar mesin. Sementara itu, MAP sensor diuji menggunakan dua tipe berbeda secara bergantian untuk mendapatkan karakter pembacaan tekanan manifold yang paling sesuai. Seluruh kombinasi komponen tersebut kemudian dievaluasi dan disetel hingga menghasilkan respons mesin serta suplai bahan bakar yang optimal.

Sedetail itu, kerjaannya Dipo.

Sama halnya pada body kit. Secara basis, varian Citroen menyediakan beberapa jenis body kit sesuai tahun lahirnya. Namun Dipo meminta Gardenz Autobodywork untuk membuatkan
model Citroen BX GTi 19 Soupapes model terakhir, yaitu versi performa tinggi dari Citroën BX yang menggunakan mesin 1.9 liter 16-katup.

Aura sporty jalan raya sangat kental. Tapi karena tidak tersedia body kitnya, “Diputuskan untuk rekayasa alias bikin bermodalkan foto,” ungkap Dipo.

El Rojo walhasil merupakan realisasi memori masa kecil di Balikpapan, saat ayahanda masih bekerja di perusahaan minyak TOTAL. Seketemunya mobil jogrok, bekas teman. Kemudian spare parts banyak dibantu pak Tukiat, dari Citroen Kebon Nanas, pengepul parts ex PT ALUN, mostly untuk dress up penampilan. Sebagai tambahan info, komponen OEM lainnya didapatkan di toko Apolo Pasar Senen, sedangkan substitusi Peugeot 405, masih banyak tersedia di pasar.

French Sleeper ini, begitulah DeepEnd menyebut El Rojo.
Terkesan simpel, padahal tidak.
Tetap berkarakter, dan mewakili Citroen BX yang tampil klasik namun menyimpan performa mesin 1.900 cc serta suspensi hydropneumatic yang tetap dipertahankan.

Hanya El Rojo yang sanggup menjawab tantangan perjalanan total 240 km Bogor–Geopark Ciletuh–Bogor.


Workshop:
Body work & interior: Gardenz Autobodyworks @gardenz_autobodyworks
Engine & mechanical: Dian Autodynamic @dian_autodynamic

Data Mods:
Repainted in Maitre Rouge (Master Red), GTi-spec black interior conversion (dashboard, door trims, seats), BX GTi Soupapes full body kit, Zender Turbo 2 15×7 inches, Hankook Ventus 195/50 R15, 88 mm stroker engine conversion from 1.5L to 1.9L, high-lift camshaft, carburetor-to-Magneti Marelli MAP-based wasted-spark fuel injection conversion, Peugeot 205 GTi intake plenum, 5-speed manual transmission, refreshed hydropneumatic suspension, LED headlights and fog lights, Citroen BX GTi smoked taillights, Peugeot 405 roof antenna, Citroen BX Mk1 side mirrors