Toyota Harrier sejak awal bukan mobil yang haus perhatian. Ia lahir dengan sikap yang rapi, tenang, dan sadar diri. SUV yang tidak perlu membuktikan apa pun. Kenyamanan menjadi bahasa utamanya, dan kesenyapan adalah caranya berbicara.

Justru karena itulah Harrier jarang disentuh.
Terlalu sopan untuk diganggu.
Terlalu mapan untuk dijadikan bahan.

Sampai akhirnya sebuah Harrier tahun 2007 berpindah tangan ke Paman Jhon. Tidak ada latar belakang sentimental, tidak pula ambisi berlebihan. Keputusan itu lahir dari satu pengamatan sederhana, belum banyak yang berani memainkan Harrier secara basic. Di tengah dunia modifikasi yang kini ramai oleh mobil-mobil pasti, Harrier berdiri sebagai ruang kosong.

Harrier 2007 pun dipilih.
Bukan untuk dirombak total.
Melainkan untuk digeser karakternya.

Arah yang diambil jelas sejak awal: stance SUV. Bukan gimmick, bukan pula gaya sesaat. Inspirasi tidak datang dari referensi jauh atau nama besar, melainkan dari apa yang sudah ada di depan mata. Dari kemungkinan yang terlihat sepele, lalu dipaksa menjadi serius. Tujuannya pun tidak dibungkus romantisme, meramaikan dunia otomotif.

Bagian yang paling ingin ditonjolkan bukan bodi, bukan pula interior. Fokusnya jatuh ke kaki-kaki. Karena di sanalah seluruh pekerjaan berat berkumpul. Membuat SUV sebesar Harrier benar-benar rebah bukan perkara menurunkan tinggi semata. Banyak hal harus diubah, dipindahkan, dan dikompromikan.

Tangki bahan bakar dicustom. Area-area yang bersinggungan dengan sasis direvisi. Banyak titik mentok yang sejak awal tidak pernah dirancang untuk mobil serendah ini. Semua dikerjakan agar tubuh besar ini bisa turun tanpa kehilangan fungsi.

Suspensi udara 4 titik dari Feel Air menjadi fondasi utama. Bukan demi sensasi pamer, melainkan untuk menjaga keseimbangan antara visual dan kenyamanan. Mobil ini tetap harus enak dilihat dan tetap enak dibawa jalan. Soal penilaian akhir, itu kembali ke mata masing-masing.

Velg Rotiform LHR forged berdiameter 20 inci dengan lebar 10 hingga 10,5 inci dipilih bukan karena status langka. Alasan utamanya sederhana: proporsinya pas. Dibungkus ban Accelera 215/35 dan 225/35, kombinasi ini menjaga sikap rendah tanpa terlihat dipaksakan.

Di balik tampilan yang tenang, sektor mesin justru bergerak ke arah berbeda. Turbo disematkan, bukan untuk mengejar sensasi adu cepat, melainkan sebagai penegasan identitas performa. Sebuah penyeimbang antara tampilan rendah dan potensi tenaga. Pengereman pun tidak setengah-setengah, dengan Brembo 380 konfigurasi 6 pot dan 4 pot untuk memastikan semuanya tetap terkendali.

Proses membangun mobil ini berjalan sekitar tiga hingga empat bulan. Tidak terlalu lama, tapi juga tidak terburu-buru. Setiap langkah diambil dengan kesadaran bahwa satu keputusan kecil bisa mengubah keseluruhan karakter.

Di balik semua itu, mobil ini lahir dari kerja kolektif. Under carriage digarap Laris Understeel, body work oleh Arek Fiber, audio dipercayakan kepada Audio One Solo, dan sektor mesin ditangani GTPerformance Jogja. Tidak ada ego yang saling mendominasi. Semua bergerak di jalur yang sama.

Ketika diminta merangkum mobil ini dalam satu kalimat, Paman Jhon tidak memilih kata aman. Ia memilih frasa mentah yang tidak berusaha sopan: buto cakil ngemut pentil. Bukan untuk ditafsirkan secara harfiah, melainkan untuk menangkap energinya. Apa itu? Liar, nakal, dan tidak meminta izin.

Apakah mobil ini sudah selesai? Belum. Dan memang tidak ditargetkan untuk berhenti. Interior masih akan berkembang. Warna cat akan berganti. Velg pun bukan keputusan final.

Karena terkadang, yang paling erotis dari sebuah mobil bukan kecepatan atau kemewahan, melainkan keberaniannya untuk turun lebih rendah, mengubah pakem, dan tetap berjalan dengan percaya diri.


Workshop:
Under carriage: Laris Understeel @laris.understeel.id
Body work: Arek Fiber @arek_fiber
Audio: Audio One Solo @audio_one_solo
Engine: GTPerformance57 @gtperformancejogja