Peluncuran stasiun pengisian daya Voltron ultra-fast charging 480 kW pertama di Tanah Air bukan sekadar pamer teknologi, tapi menandai perubahan besar dalam cara orang memandang mobil listrik. Dari yang ribet soal waktu, jadi makin praktis buat dipakai harian.

Secara sederhana, daya listrik yang lebih besar berarti waktu pengisian baterai yang jauh lebih singkat. Selama ini, DC fast charging di Indonesia umumnya bermain di kisaran 50–150 kW. Hadirnya level 480 kW membawa pengalaman berbeda, karena proses pengisian bisa dipangkas jadi hitungan menit, bukan lagi menunggu lama seperti generasi awal mobil listrik.

Kecepatan ini dimungkinkan berkat penggunaan arsitektur kelistrikan 800V pada kendaraan listrik modern. Dibanding sistem 400V yang masih banyak digunakan, arsitektur 800V mampu menerima daya lebih besar dengan efisiensi lebih tinggi dan panas yang lebih terkontrol. Inilah fondasi utama yang membuat pengisian ultra-cepat bisa dilakukan secara aman.

Tak kalah penting, stasiun fast charging 480 kW dibekali teknologi liquid-cooled charging. Sistem pendingin cairan ini menjaga suhu kabel dan konektor tetap stabil saat menyalurkan daya ultra-tinggi secara berkelanjutan. Hasilnya, proses pengisian daya bisa berlangsung cepat tanpa mengorbankan faktor keamanan dan keandalan.

Teknologi ini dirancang untuk bekerja optimal dengan baterai berperforma tinggi, seperti baterai 5C yang digunakan pada XPENG G6 Pro. Dengan kombinasi baterai 5C dan platform 800V, mobil listrik tersebut diklaim mampu mengisi daya dari 10 hingga 80 persen hanya dalam waktu sekitar 12 menit dalam kondisi ideal. Waktu yang kini mulai mendekati durasi isi BBM mobil konvensional.

Lebih dari sekadar soal cepat, fast charging 480 kW menjadi pondasi penting bagi ekosistem kendaraan listrik ke depan. Infrastruktur berdaya tinggi memastikan perkembangan teknologi EV tidak terhambat oleh keterbatasan fasilitas pengisian, sekaligus membuka jalan bagi hadirnya lebih banyak mobil listrik generasi baru di Indonesia.

Dengan hadirnya SPKLU ultra-fast charging publik, pengalaman menggunakan mobil listrik perlahan berubah. Ngecas tak lagi identik dengan menunggu lama, melainkan sekadar jeda singkat sebelum kembali melaju. Dan di titik inilah, mobil listrik mulai benar-benar masuk akal sebagai kendaraan utama.