“Pokoknya, setelah ready, gw call lo.”
Itulah pesan Mas Benk ke DeepEnd di akhir 2025.
Ia tahu kalau mobilnya sudah diincar sejak lama.

Dan seminggu sebelum Partai Neraka #8, akhirnya telpon itu berdering juga.
“Tanggal 10 Feb pagi, kita ketemuan.”
Private only, “I’ll send you location.”

Singkat.
Padat.
Penuh kepastian.

S 450 ini sudah masuk ranah statement.
Bukan sekadar sedan eksekutif.
Tapi presence.

Sebelumnya, mari mengetahui lebih dulu 3 keistimewaan S 450 ini:

1. Mesin 3.0L Inline-6 Turbo + EQ Boost (Mild Hybrid)
S 450 dibekali mesin 6-silinder segaris 3.0L turbo dengan sistem mild hybrid 48V (EQ Boost). Tenaganya halus, responsif, dan tetap efisien. Karakternya bukan sekadar kencang tapi effortless. Gas disentuh, mobil meluncur seperti adrenalin yang terpacu.

2. Kenyamanan Kelas First-Class
Suspensi AIRMATIC generasi terbaru membuat bodi tetap stabil walau jalan tidak ideal. Ditambah kabin super senyap, jok elektrik dengan memori, ventilasi, hingga ambient light 64 warna. Duduk di dalamnya terasa seperti lounge berjalan.


3. Teknologi MBUX Generasi Baru
Layar sentuh besar vertikal dengan sistem MBUX terbaru, voice command cerdas, hingga fitur keselamatan aktif lengkap (ADAS). Semua terasa modern, intuitif, dan presisi, bukan sekadar gimmick.

Itu baru 3, diantara keunggulan berlapis lainnya. Namun DeepEnd mencoba melihat hubungan antara suspensi AIRMATIC OEM dengan Feel Air. Perubahan dari sistem suspensi terintegrasi pabrik ke sistem air aftermarket berbasis stance dan adjustability, hasilnya bukan upgrade langsung, tapi perubahan filosofi.

Pada Mercedes-Benz S-Class, AIRMATIC bukan komponen berdiri sendiri namun terhubung langsung dengan ECU suspensi, sensor tinggi bodi di tiap roda, sistem stability (ESP), mode berkendara, dan kamera road preview (pada varian tertentu). Saat AIRMATIC dilepas sistem pabrik diputus atau dibypass, mobil kehilangan komunikasi antara sasis dan ECU suspensi, dan akan muncul error (harus di-coding off). Secara umum, sasis tetap aman secara struktur, tapi kehilangan “otak” kenyamanan aslinya.

AIRMATIC menggunakan air springs (balon udara) + sensor elektronik yang mampu mengatur ketinggian mobil secara otomatis sesuai kondisi jalan dan beban mobil, sementara Feel Air tidak tergantung pada ECU atau sistem kontrol bawaan pabrik. Ini dilakukan dengan mematikan/ menonaktifkan AIRMATIC dan menggantinya dengan bellow (balon udara), kompresor, dan manajemen kendali aftermarket yang tidak terikat ke sistem pabrikan.

Terkait dengan S 450 ini, AIRMATIC sempurna di atas kertas.
Pintar.
Sangat tahu kapan harus naik.
Dan peka, kapan harus turun.
Tapi…, juga membatasi rasa.

Sedangkan Feel Air merupakan kendali.
Bukan semata-mata kenyamanan.
Mas Benk mencari satu hal: feel yang bisa diadjust, bukan ditentukan sistem.

Dengan Feel Air, bantingan bisa disetel sesuai selera.
Respons suspensi bisa dibuat lebih “hidup”.
Karakter mobil bisa diarahkan: santai, firm, rendah, atau cruising panjang.

Ini bukan soal lebih empuk.
Tapi tentang esensi.
Jati diri Mas Benk.

Walaupun, ada risiko. Saat over speed, ECU mengirim perintah auto-lowering, kemudian sistem tidak mendapat feedback sesuai, maka muncul warning light. Ini bukan bug Feel Air, tapi konflik logika sistem. Feel Air tidak bicara bahasa yang sama dengan ECU Mercedes. Risikonya ECU masuk safe mode parsial, respon stabilitas tidak optimal, dan beban berlebih ke aftermarket air management.

Solusi idealnya, “Yang jelas paling aman adalah AIRMATIC Emulator (Cancellation Module, Red). Buat menipu ECU agar mengira suspensi OEM bekerja normal. Warning hilang, ESP dan stability kembali sinkron.”

Ada sebenarnya solusi setengahnya. “Coding seadanya, cabut sensor, atau reset error manual. Efeknya error balik lagi, ECU baca data kosong, atau masalah baru muncul, misalnya ABS dan ESP,” ucap Mas Benk, yang juga punya bengkel Mbwerkz Autobodywork.


Saran lainnya, “Kalau masih tetap pakai Feel Air, jangan terlalu rendah saat jalan cepat. Buat preset speed-based height di controller. Pastikan compressor duty cycle aman.”

Pada poin ini, merupakan diskusi yang menarik antara DeepEnd dengan Mas Benk. Sambil menyantap brunch Pecel Pincuk Gumilang Cak Wan di bilangan Laksda Adisucipto, Jogja, DeepEnd mendapat pandangan tentang rekomendasi dan solusi bermain Erotism.

Ritual ini bagian dari Andhap Asor, sebuah ungkapan dalam budaya Jawa yang berarti rendah hati, bersahaja, dan tidak meninggikan diri, meskipun seseorang sebenarnya punya kedudukan, kemampuan, atau kekuasaan. Andhap asor adalah laku yang diekspresikan lewat bahasa dan tindakan. Tapi mobil ini, Andhap Asor pun bisa dimaknai sebagai kemewahan yang memilih untuk merendah. Rendah saat diam, tegak saat bergerak, stabil saat dibutuhkan.

Secara umum, target outcome ke arah VIP big sedan. Interpretasi personal ini mengacu pada konsepsi Erotism, baik dimensi velg, karakter ban, dan overall fitment.

Velg yang dipakai itu OZ Racing Super Futura double step dengan diameter 21 dan lebar 10-10.5 inci. Bukan sekadar velg impian, ini holy grail yang pantas membuka perjalanan. “Bodi mobil dan desainnya sudah modern-klasik makanya gua merasa velg ini yang paling pas.”

Bagaimana dengan ban? Accelera PHI dipercaya sebagai ban depan dengan ukuran 255/30R21 tanpa risiko rubbing bahkan mampu mewujudkan clear corner saat putar balik dengan ride height. Di belakang, size 265/30R21 tak berbeda jauh dengan kondisi depan, mengingat Mercedes tidak memakai istilah AWD, mereka selalu memakai 4MATIC.

Lebar tersebut masuk akal untuk kelas ini. Stance lebih berisi, tapak ban serius, mobil terlihat duduk, bukan mengambang. Di S 450, bodi lebar mendukung visual. 4MATIC membantu traksi. AIRMATIC membantu menjaga sikap bodi. Ini bukan overkill, tapi assertive.


Workshop:
Mbwerkz Autobodywork @mbwerkz.autobodywork