Motor terasa tetap loyo meski gas sudah dibuka penuh? Banyak pengendara langsung curiga ke kualitas bensin atau settingan CVT. Padahal, bisa jadi penyebabnya adalah busi.

Ukurannya memang kecil dan tersembunyi di balik mesin. Tapi perannya sangat vital dalam proses pembakaran. Saat kondisi busi mulai melemah, efeknya bisa langsung terasa di karakter motor sehari-hari. Tarikan jadi berat, akselerasi terasa tertahan, sampai konsumsi bahan bakar jadi boros tanpa disadari.

Busi bekerja dengan memercikkan api di ruang bakar untuk membakar campuran udara dan bahan bakar. Kalau percikan api tidak optimal, pembakaran ikut terganggu dan tenaga mesin otomatis ikut turun.

“Busi bekerja dengan menghasilkan percikan listrik yang membakar campuran udara dan bahan bakar di ruang bakar. Jika busi bermasalah, maka proses pembakaran tidak akan berjalan optimal dan performa mesin akan langsung terpengaruh,” jelas Wahyu Budhi, Technical Analyst PT Wahana Makmur Sejati (WMS).

Masalahnya, gejala busi mulai lemah sering muncul secara bertahap. Banyak pengguna motor baru sadar setelah performa motor terasa jauh berbeda dibanding biasanya.

Salah satu tanda paling umum adalah mesin mulai sulit dinyalakan, terutama saat kondisi dingin di pagi hari. Ini terjadi karena percikan api dari busi sudah tidak cukup kuat untuk memulai proses pembakaran secara optimal.

Selain itu, motor juga bisa terasa brebet saat akselerasi. Ketika grip gas diputar, respons mesin seperti tertahan dan tenaga tidak keluar secara spontan. Dalam kondisi tertentu, suara mesin pun terdengar lebih kasar atau tidak stabil saat langsam.

Efek lain yang cukup sering diabaikan adalah konsumsi BBM yang tiba-tiba lebih boros. Karena proses pembakaran tidak sempurna, mesin membutuhkan bahan bakar lebih banyak untuk menghasilkan tenaga yang sama.

PT Wahana Makmur Sejati (WMS) sebagai Main Dealer sepeda motor Honda wilayah Jakarta-Tangerang mengingatkan bahwa busi tetap perlu diganti secara berkala meski motor masih bisa digunakan normal.

Secara umum, penggantian busi disarankan setiap 8.000 hingga 12.000 kilometer, tergantung rekomendasi pabrikan dan kondisi pemakaian. Namun kondisi fisik busi juga perlu diperhatikan. Elektroda yang mulai aus, muncul kerak karbon tebal, atau permukaan busi yang terlihat kotor dan berkarat bisa menjadi tanda bahwa komponen ini sudah waktunya diganti.

Menariknya, usia pakai busi tidak selalu bergantung pada jarak tempuh. Motor yang jarang dipakai sekalipun tetap disarankan mengganti busi setelah penggunaan lebih dari satu tahun.

“Penggantian busi sebaiknya dilakukan di AHASS agar sesuai standar pabrikan. Servis di AHASS menjamin kualitas pengerjaan oleh mekanik tersertifikasi, penggunaan suku cadang asli (Honda Genuine Parts), dan perawatan standar pabrik yang menjaga garansi motor Anda,” tambah Wahyu.