Beberapa tahun terakhir, industri otomotif global seperti berlomba menuju era full electric. Semua bicara EV, semua ingin terlihat paling siap menyambut masa depan. Tapi laporan keuangan terbaru Hyundai Motor Company justru memperlihatkan realita yang sedikit berbeda.

Mobil yang sekarang paling membantu Hyundai mencetak rekor pendapatan bukan EV murni, melainkan hybrid.

Pada kuartal pertama 2026, Hyundai membukukan pendapatan sebesar KRW 45,94 triliun, naik 3,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Itu menjadi pendapatan kuartalan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Di saat banyak pabrikan mulai menghadapi perlambatan pasar kendaraan listrik di beberapa wilayah, Hyundai justru terlihat menikmati fase transisi yang sedang terjadi di industri otomotif global. Konsumen belum sepenuhnya meninggalkan mesin bensin, tapi juga mulai bergerak menuju elektrifikasi. Di titik itulah hybrid kembali terasa relevan.

Hal itu terlihat jelas dari angka penjualannya. Hyundai menjual 173.977 unit mobil hybrid sepanjang Januari hingga Maret 2026. Jumlah itu jauh lebih besar dibanding EV murni Hyundai yang berada di angka 58.788 unit.

Secara total, penjualan kendaraan elektrifikasi Hyundai naik 14,2 persen menjadi 242.612 unit. Kontribusinya pun sekarang sudah mencapai hampir seperempat total penjualan global Hyundai.

Menariknya, capaian besar di sisi pendapatan tidak otomatis membuat profit Hyundai ikut melonjak. Justru sebaliknya.

Laba operasional Hyundai turun 30,8 persen menjadi KRW 2,51 triliun, sementara laba bersih ikut terkoreksi 23,6 persen menjadi KRW 2,58 triliun. Hyundai menyebut tekanan tarif dari Amerika Serikat sebagai salah satu faktor utama yang mulai membebani bisnis mereka sepanjang awal tahun ini.

Situasi tersebut membuat laporan Hyundai terasa cukup kontras. Di satu sisi, brand ini masih berhasil memperkuat posisinya secara global. Di sisi lain, tekanan geopolitik dan kebijakan perdagangan mulai ikut menentukan seberapa sehat keuntungan yang bisa dibawa pulang perusahaan.

Secara volume, penjualan wholesale Hyundai memang turun 2,5 persen menjadi 976.219 unit. Namun pangsa pasar globalnya justru naik dari 4,6 persen menjadi 4,9 persen.

Amerika Serikat menjadi pasar yang cukup penting dalam pertumbuhan itu. Pangsa pasar Hyundai di sana naik menjadi 6 persen, dari sebelumnya 5,6 persen. Penjualannya sendiri masih tumbuh tipis menjadi 243.572 unit di tengah kondisi pasar global yang tidak benar-benar stabil.

Sementara di Korea Selatan, penjualan Hyundai turun 4,4 persen menjadi 159.066 unit. Penurunan ini terjadi menjelang peluncuran sejumlah model baru Hyundai yang dijadwalkan hadir sepanjang 2026.

Selain mengumumkan kinerja bisnis, Hyundai juga memastikan akan tetap membagikan dividen kuartalan sebesar KRW 2.500 per saham biasa. Perusahaan menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi peningkatan nilai pemegang saham yang mulai dijalankan sejak 2023.

Untuk sisa tahun 2026, Hyundai menyiapkan sejumlah model baru sebagai bagian dari strategi memperkuat penjualan global sekaligus menjaga momentum brand di era elektrifikasi yang makin kompetitif.