Biaya mobilitas kini mulai menjadi perhatian utama kalangan muda. Bukan cuma soal ongkos transportasi harian, tetapi juga pengeluaran bahan bakar yang terus naik membuat banyak Gen Z mulai lebih selektif saat memilih kendaraan pertama. Mobil yang irit, praktis dipakai dalam kota, namun tetap nyaman untuk dipakai keluar kota kini menjadi kombinasi yang paling dicari.
Kondisi tersebut membuat city car kembali menarik perhatian. Di tengah tren kendaraan besar dan SUV kompak, mobil berukuran kecil justru dianggap lebih masuk akal untuk kebutuhan mahasiswa maupun pekerja muda yang aktif berpindah tempat setiap hari. Selain lebih mudah diparkir, biaya operasionalnya juga jauh lebih ringan.
Salah satu model yang mulai dilirik adalah Suzuki S-Presso. City car milik Suzuki ini menawarkan pendekatan yang cukup relevan dengan gaya hidup generasi muda saat ini. Mau irit bahan bakar, ingin harganya terjangkau, namun tetap punya fitur hiburan modern.

Mengandalkan mesin K10C 1.000 cc, S-Presso dikenal memiliki konsumsi BBM yang efisien untuk penggunaan harian. Dalam berbagai pengujian, konsumsi bahan bakarnya bisa berada di kisaran 17 hingga 21 km/liter untuk pemakaian dalam kota, sementara perjalanan luar kota dapat mencapai lebih dari 20 km/liter tergantung gaya berkendara. Dengan tangki berkapasitas 27 liter, biaya isi penuh mobil ini bahkan hanya berkisar Rp 300 ribuan menggunakan BBM RON 92.
Sebagai ilustrasi, perjalanan harian dari Kota Bogor menuju Kampus UI Depok memiliki jarak sekitar 25-30 kilometer untuk sekali jalan, tergantung titik keberangkatan. Jika diasumsikan total perjalanan pulang-pergi mencapai sekitar 55 kilometer per hari dan dilakukan lima hari dalam seminggu, maka kebutuhan perjalanan mingguan berada di kisaran 275 kilometer.
Dengan asumsi konsumsi BBM rata-rata berada di angka 19 km/liter dan menggunakan bensin RON 92, biaya bahan bakar mingguan untuk mobilitas tersebut diperkirakan hanya berada di kisaran Rp 180 ribuan. Dalam sebulan, pengeluaran BBM-nya masih tergolong ramah untuk ukuran penggunaan mobil pribadi harian, yakni sekitar Rp 700-800 ribuan tergantung kondisi lalu lintas dan gaya berkendara.
Angka tersebut tergolong cukup menarik untuk ukuran mobil pribadi, apalagi jika dibandingkan dengan kendaraan bermesin lebih besar atau konsumsi BBM lebih boros. Karena itu, city car seperti S-Presso mulai dianggap lebih realistis bagi first car buyer muda yang ingin tetap mobile tanpa pengeluaran bahan bakar berlebihan.
Dari sisi harga, Suzuki S-Presso juga masih tergolong ramah untuk konsumen muda. Varian transmisi manual dipasarkan mulai Rp 173,1 jutaan, sementara versi Auto Gear Shift (AGS) berada di kisaran Rp 184,6 jutaan on the road Jakarta. Dengan simulasi uang muka sekitar 20 persen dan tenor kredit lima tahun, cicilan bulanannya diperkirakan berada di rentang Rp 3 jutaan hingga Rp 4 jutaan per bulan, tergantung skema pembiayaan dan besaran DP yang dipilih.
Karakter seperti itu membuat S-Presso terasa cocok untuk mobilitas harian seperti pergi ke sekolah atau kampus tanpa terlalu membebani biaya bulanan. Dimensinya yang kompak juga membantu pengendara muda menghadapi lalu lintas perkotaan maupun area parkir sempit yang sering menjadi tantangan pengguna mobil pertama.
Menariknya, city car ini tidak hanya bicara soal hemat. Suzuki juga membekali S-Presso dengan head unit 7 inci yang sudah mendukung Apple CarPlay dan Android Auto. Kehadiran fitur tersebut membuat pengguna lebih mudah mengakses navigasi, playlist musik, hingga komunikasi selama perjalanan. Hal kecil seperti ini justru mulai penting bagi generasi muda yang sangat dekat dengan ekosistem digital.
Bahkan untuk kebutuhan “healing” atau short escape ke luar kota saat akhir pekan, S-Presso masih terasa relevan. Ground clearance yang cukup tinggi untuk ukuran city car membuat mobil ini tetap nyaman digunakan melintasi berbagai kondisi jalan, sekaligus memberi rasa percaya diri lebih saat bepergian bersama teman.
Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, pendekatan kendaraan seperti S-Presso mulai dianggap lebih realistis bagi Gen Z. Mobil pertama kini bukan hanya soal gengsi atau desain, tetapi juga soal efisiensi penggunaan sehari-hari tanpa mengorbankan kenyamanan dan konektivitas modern. ![]()
