Sebelum pasar mobil listrik seramai sekarang, BYD sebenarnya sudah lebih dulu bermain di area elektrifikasi lewat teknologi hybrid. Jauh sebelum brand asal Tiongkok itu agresif menjual EV ke berbagai negara, mereka sudah mengembangkan sistem Dual Mode atau DM sebagai salah satu fondasi transisi menuju kendaraan energi baru.

Teknologi DM pertama kali diperkenalkan pada 2008 melalui generasi awal DM 1.0. Saat itu, sistem tersebut masih berfokus pada kombinasi dasar antara motor listrik dan mesin pembakaran internal dalam satu platform hybrid. Namun seiring perkembangan teknologi baterai dan elektrifikasi, karakter DM terus berubah cukup drastis dari generasi ke generasi.

BYD kemudian mulai menggeser pendekatan hybrid konvensional menjadi electric-first. Artinya, motor listrik tidak lagi sekadar pendamping mesin bensin, tapi justru menjadi sumber tenaga utama dalam sebagian besar penggunaan harian. Mesin pembakaran internal diposisikan sebagai pendukung untuk menjaga fleksibilitas perjalanan jarak jauh.

Pendekatan itu sekarang hadir melalui generasi terbaru DM 5.0 yang diperkenalkan secara global pada 2024. BYD mengklaim sistem terbaru ini mengalami peningkatan besar di sisi efisiensi energi, integrasi sistem penggerak, hingga manajemen penggunaan tenaga antara baterai dan mesin.

Dalam pengujian internal perusahaan, teknologi DM 5.0 disebut mampu mencatat jarak tempuh gabungan lebih dari 1.800 kilometer dalam kondisi tangki bahan bakar dan baterai penuh. Konsumsi bahan bakarnya juga diklaim bisa mencapai 65 km/liter atau lebih dari 60 persen lebih hemat dibanding kendaraan keluarga bermesin bensin 1.500 cc yang umum digunakan di Indonesia.

Selain efisiensi, BYD juga mulai mengembangkan beberapa karakter sistem dalam keluarga teknologi DM. Untuk penggunaan harian yang lebih fokus pada kenyamanan dan efisiensi energi, mereka menghadirkan DM-i atau Dual Mode Intelligent. Sementara DM-p dikembangkan untuk performa lebih tinggi, dan DMO disiapkan untuk kebutuhan off-road dengan karakter jalan yang lebih berat.

Secara global, perkembangan teknologi tersebut ikut memperkuat posisi BYD di pasar kendaraan energi baru. Perusahaan ini mengklaim sudah menjual lebih dari 7 juta unit kendaraan plug-in hybrid dan total penjualan kendaraan energi baru mereka kini telah melampaui 16 juta unit di lebih dari 121 negara.

Lewat evolusi DM dari generasi pertama hingga DM 5.0, BYD sedang menunjukkan bahwa masa depan elektrifikasi tidak selalu harus berjalan dalam format full EV sejak awal. Buat banyak pasar berkembang, termasuk Indonesia, fase transisi justru bisa menjadi bagian paling penting dalam perubahan industri otomotif.