Ada satu hal yang menarik jika melihat daftar peserta GIIAS tahun ini. Bukan jumlahnya yang lebih banyak, tapi bagaimana pameran ini memperlihatkan perubahan peta persaingan industri otomotif Indonesia secara langsung.
Selama puluhan tahun, pasar otomotif nasional identik dengan dominasi merek Jepang. Mereka membangun fondasi industri yang membuat Indonesia menjadi salah satu pasar terbesar mereka di kawasan Asia Tenggara.
Namun beberapa tahun terakhir, keseimbangan itu mulai bergeser.
Gelombang produsen asal China datang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika sebelumnya hanya ada segelintir nama yang bermain di pasar nasional, kini daftar pesertanya semakin panjang. Pada GIIAS 2026, merek-merek seperti BYD, Chery, GWM, Geely, Xpeng, Jaecoo, Jetour, Changan, Leapmotor, Lepas, Maxus, DFSK, BAIC hingga Icar dipastikan hadir membawa produk dan strategi masing-masing.
Banyak dari mereka datang bukan cuma jualan mobil. Sebagian mulai membangun jaringan dealer secara agresif, sebagian lainnya sudah menyiapkan fasilitas produksi lokal, sementara beberapa merek memilih menjadikan Indonesia sebagai pijakan untuk memperluas pasar di Asia Tenggara.
Kehadiran mereka membuat GIIAS tahun ini terasa berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Jika sebelumnya pengunjung lebih banyak membandingkan sesama merek Jepang, kini pilihan yang tersedia jauh lebih luas. Persaingan harga, teknologi, fitur hingga pendekatan terhadap kendaraan listrik semakin terbuka.
Menariknya, dominasi Jepang belum benar-benar goyah. Nama-nama besar seperti Toyota, Honda, Daihatsu, Mitsubishi dan Suzuki masih menjadi pemain utama dalam volume penjualan nasional. Infrastruktur purnajual yang luas, jaringan dealer yang matang, serta tingkat kepercayaan konsumen yang telah dibangun selama puluhan tahun masih menjadi modal yang sulit ditandingi.
Di sisi lain, para pemain asal Chinas datang dengan pendekatan yang berbeda. Mereka cenderung agresif dalam menghadirkan teknologi baru, menawarkan fitur yang lebih kaya, serta bergerak lebih cepat dalam pengembangan kendaraan listrik. Strategi tersebut mulai mengubah cara konsumen Indonesia melihat merek-merek baru yang sebelumnya kurang dikenal.
Persaingan itu akan terlihat semakin jelas di GIIAS 2026. Lebih dari 60 merek otomotif global telah mengonfirmasi keikutsertaan mereka, sementara beberapa merek lain masih dalam tahap pembicaraan dengan penyelenggara. Tingginya minat peserta bahkan membuat hampir seluruh area pameran di ICE BSD City telah terisi jauh sebelum pameran dibuka.
Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi GAIKINDO, Anton Kumonty, mengatakan GIIAS kini menjadi salah satu agenda penting bagi produsen global untuk memperkenalkan produk terbaru mereka. Banyak merek yang menjadikan Indonesia sebagai lokasi peluncuran pertama kendaraan baru mereka untuk pasar Asia Tenggara, bahkan dalam beberapa kasus untuk pasar global.
“GIIAS saat ini sudah menjadi salah satu prioritas utama para merek-merek global untuk menjadi ajang memamerkan produk terbaru mereka. Banyak dari produsen besar dunia yang memilih GIIAS sebagai tempat peluncuran pertama produk mereka di Asia Tenggara, bahkan di dunia. Kepercayaan besar inilah yang melandasi komitmen kami untuk terus menjaga kualitas pameran, demi kenyamanan para peserta saat meluncurkan teknologi baru mereka, sekaligus memberikan pengalaman terbaik bagi masyarakat yang datang,” ujar Anton.
Pameran ini juga menjadi cermin bagaimana peta industri otomotif Indonesia sedang berubah. Di satu sisi ada para pemain lama yang berusaha mempertahankan dominasinya. Di sisi lain, muncul gelombang pendatang baru yang datang dengan ambisi besar dan sumber daya yang tidak sedikit. ![]()
