Ada banyak model yang pernah dilahirkan BMW selama lebih dari satu abad perjalanannya. Namun hanya sedikit yang mampu mempertahankan daya tariknya hingga puluhan tahun setelah masa produksinya berakhir. Salah satunya adalah BMW Seri 6 generasi pertama atau E24, sebuah grand tourer yang hingga kini masih dikenang berkat perpaduan desain elegan, performa, dan karakter berkendaranya.

Diperkenalkan pada musim semi 1976, BMW Seri 6 hadir sebagai penerus coupe mewah BMW era 1960-an. Wajah depannya yang meruncing ke depan hingga dijuluki sharknose, garis bodi yang bersih, serta proporsinya yang panjang dan rendah membuat mobil ini menjadi salah satu karya desain paling ikonik dalam sejarah BMW. Produksinya bahkan berlangsung selama 13 tahun hingga 1989, menjadikannya model BMW dengan usia produksi terpanjang pada masanya.

Memasuki usia ke-50 tahun, BMW menghadirkan pameran khusus di BMW Museum, Munich, Jerman, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan salah satu grand tourer paling berpengaruh tersebut. Berlangsung hingga akhir Januari 2027, pameran ini tidak hanya menampilkan deretan mobil klasik, tetapi juga mengulas bagaimana BMW Seri 6 berkembang menjadi bagian dari sejarah desain, motorsport, budaya populer, hingga seni otomotif.
Setidaknya ada 3 hal yang menjadi daya tarik utama dari pameran tersebut.

1. Sharknose yang Menjadi Ikon Desain BMW
BMW Seri 6 generasi pertama lahir dari tangan desainer Prancis Paul Bracq. Menggunakan basis teknis BMW Seri 5, coupe ini tampil dengan bahasa desain yang berbeda melalui moncong depan yang condong ke bawah, kap mesin panjang, serta area kaca yang luas. Kombinasi tersebut melahirkan identitas visual yang kemudian dikenal sebagai sharknose dan menjadi salah satu ciri khas BMW pada era tersebut.

“Selama lima dekade, BMW Seri 6 telah menjadi simbol elegansi, performa sporty, dan kenyamanan untuk perjalanan jarak jauh. Desain ikoniknya menjadikannya salah satu model paling berpengaruh dalam sejarah BMW dan terus dihargai oleh para penggemar maupun kolektor di seluruh dunia,” ujar Helmut Käs, Head of BMW Group Classic dan BMW Museum.

Dalam pameran ini, BMW turut menghadirkan sejumlah model penting, termasuk BMW 628CSi (1982), BMW M635CSi (1985), serta BMW 633CSi (1976), yang merepresentasikan evolusi salah satu coupe paling berpengaruh yang pernah diproduksi pabrikan asal Jerman tersebut.

2. Dari Karya Seni hingga Koleksi Bernilai Tinggi
Perayaan 50 tahun BMW Seri 6 juga bertepatan dengan rangkaian ulang tahun BMW Art Car Collection. Karena itu, BMW Museum turut menampilkan dua BMW 635CSi yang telah diubah menjadi karya seni oleh dua seniman ternama dunia.

BMW Art Car #5 karya Ernst Fuchs yang dibuat pada 1982 menjadi mobil produksi massal pertama dalam koleksi tersebut. Mengusung tema Firefox on Harehunt, karya itu memadukan unsur mitologi, kecepatan, dan simbolisme spiritual. Sementara BMW Art Car #6 karya Robert Rauschenberg yang lahir pada 1986 menghadirkan interpretasi berbeda melalui kolase hitam putih yang menggabungkan sejarah seni, fotografi, dan budaya populer.

Kehadiran kedua mobil tersebut memperlihatkan bahwa BMW Seri 6 tidak hanya dipandang sebagai produk otomotif, tetapi juga sebagai medium ekspresi artistik yang memiliki nilai budaya dan sejarah.

3. Bukan Hanya Jago di Jalan, tetapi Juga Populer di Layar Lebar
Popularitas BMW Seri 6 juga dibangun melalui kiprahnya di dunia motorsport dan industri hiburan. Pada awal dekade 1980-an, BMW 635CSi tampil di ajang Group A Touring Car dan berhasil meraih gelar European Touring Car Championship pada 1984 dan 1986, serta German Production Car Championship pada 1984. Prestasi tersebut memperkuat citra Seri 6 sebagai grand tourer yang tidak hanya mengutamakan kenyamanan, tetapi juga memiliki performa kompetitif.

Di luar lintasan balap, model ini juga cukup sering muncul dalam berbagai produksi film dan televisi. BMW Seri 6 tampil dalam serial Dallas, film Back to the Future Part II, hingga serial televisi Jerman seperti Tatort dan Der Bulle von Tölz. Untuk menghidupkan kembali sisi tersebut, BMW Museum menghadirkan instalasi bertema studio film era 1970-an, lengkap dengan BMW 628CSi dan BMW M635CSi yang diposisikan layaknya bintang utama sebuah produksi layar lebar.

Bahkan sebelum memasuki museum, pengunjung akan disambut instalasi sebuah bodi BMW Seri 6 yang tampak melayang di udara. Instalasi tersebut terinspirasi dari karya fotografer Prancis Sylvain Viau dalam seri Flying Cars, sekaligus menjadi pengantar menuju perjalanan sejarah salah satu coupe paling ikonik dalam keluarga BMW.

Lima dekade setelah pertama kali diperkenalkan, BMW Seri 6 masih mampu menarik perhatian bukan hanya karena desainnya yang tetap relevan, tetapi juga karena warisan yang ditinggalkannya. Pameran ini menjadi pengingat bahwa sebuah mobil dapat melampaui fungsi dasarnya sebagai alat transportasi, kemudian dikenang sebagai bagian dari sejarah desain, budaya populer, dunia balap, hingga seni. Mungkin itulah alasan mengapa, di tengah begitu banyak model yang pernah lahir dari BMW, Seri 6 tetap memiliki tempat istimewa di hati para kolektor dan penggemar otomotif hingga hari ini.