Di antara 8 Alphard di Sumatera Bersatu Vol. 2, Alphard milik Doni Sembiring ini lain sendiri. Bagi car enthusiast cabang Erotism, ada rasa yang langsung menghantam mata sebelum logika ikut bekerja.

Lihat aura mobilnya.
Perhatikan bentuknya.
Lantas lihat ketinggiannya.
Kemudian fokus pada velgnya.

Model velgnya bukanlah pilihan utama menuju “Erotism”.
Palang lima adalah bahasa desain wheel.
Tapi kali ini, bukan clean, bukan luxury, tetapi muscular dan seductive.
Atau bahkan lebih tepatnya: bold, heavy, dan menggoda.

Karena yang terjadi pada Alphard ini adalah wheel besar dengan spoke besar membuat badan MPV yang besar itu terlihat semakin “berisi”, sementara air sus menekan keseluruhan massa tersebut ke tanah.

Itulah Erotism-nya.

Bukan “velgnya cantik” melainkan, “Bagaimana velg sebesar itu membuat tubuh Alphard terasa semakin rendah, lebar, dan penuh.”

DeepEnd punya feeling kalau Doni sebenarnya gambling. Tapi berkat Harpit Singh, modifikator andalannya, diskusi menjadi lebih intens. Yang terjadi bukan sekadar “BBK terlihat di balik velg”. Lebih tepatnya begini, “Velg punya ruang, BBK mengisinya.”

Face Wheels dengan lima spoke yang tebal sebenarnya menciptakan ruang kosong yang cukup besar di antara spoke. Kalau di belakangnya hanya ada rotor kecil dan kaliper standar, ruang itu akan terlihat kosong, bahkan bisa membuat wheel 20 inci terasa kurang muscle.

Pada Alphard Doni, ruang tersebut kemudian diisi oleh rotor 380 mm yang secara visual memenuhi diameter dalam wheel. Brembo GT6 di depan, dengan massa kaliper yang besar, dan GT4 380 mm + EPB di belakang. Sehingga area di balik spoke tidak menjadi ruang kosong yang mengganggu.

Jadi ada hubungan visual yang sangat jelas ya di sini. Menurut DeepEnd, ini justru lebih tepat disebut “fullness” daripada “clean” atau “luxury”. Erotism bukan karena velgnya lima palang. Bukan juga karena Brembo-nya merah. Tetapi karena proporsi ruang kosong dan benda yang mengisinya berada pada titik yang syahdu dilihat. Hasilnya: roda terlihat penuh, padat, dan berat secara visual.

Tak perlu berlebihan, karena justru proporsi antara diameter wheel, ukuran rotor, posisi kaliper, dan ruang di antara spoke yang membuat komposisi ini bekerja.

Ingat kuncinya, “Kalau hardware terlalu besar sementara wheel terlalu tertutup, kita akan kehilangan detail.”

Tetapi fitment tidak berhenti pada bagaimana wheel mengisi wheel arch ketika mobil diam. Ride height ikut menentukan geometri visual sekaligus posisi wheel terhadap fender. Karena itu, ketika wheel, BBK, dan bodi sudah memiliki proporsi yang tepat, sistem suspensi menjadi bagian penting untuk menjaga keseluruhan setup tetap fungsional ketika mobil bergerak.

AIR suspension AIRBFT x Garasi Drift kemudian menjadi bagian yang membuat seluruh keputusan tadi masuk akal.

Kelebihannya bukan hanya kemampuan mengubah ketinggian mobil, tetapi juga height control yang bisa disesuaikan, preset ketinggian, silent compressor, auto water trap, hingga sistem yang dirancang rapi dalam box compact. Pada Alphard Doni, semua itu akhirnya punya fungsi nyata: mobil bisa dibuat rendah untuk mendapatkan stance, dinaikkan ketika kondisi jalan menuntut, dan tetap membawa karakter berkendara yang nyaman.

Karena ketika DeepEnd membawanya melewati tol, jalan rusak, Bukit Barisan, sampai jalan pasar berlubang dan becek, mobil ini ternyata tetap enak!


Workshop:
Creative Automodified @creative_automodified