Boxer ini hampir pasti masuk dalam mimpi old skool car enthusiast Indonesia.
Sudah punya status kulturalnya sendiri.
Bukan cuma mobil yang pernah populer.

Menjadi salah satu mobil yang pernah dilihat dari jauh.
Dibayangkan suatu hari bisa dimiliki.
Lalu ketika akhirnya mampu membeli, justru muncul keinginan untuk membuatnya semakin personal.

Personal? Yesss!

Boxer punya dua kehidupan
Di satu sisi, W124 adalah simbol mobil orang berada pada zamannya.
Setelah itu, mendapatkan kehidupan kedua di tangan pesolek mobil.

Si putih ini milik Sounder ini telah  berubah menjadi kanvas modifikasi.
Namun ia tak bermain di resep “W124 dibuat sporty”.
Justru mengambil bahasa modifikasi klasik Eropa.
Dimana bodi wajib tetap bersih, cat polos, chrome tetap hidup, BBS Super RS dibuat sangat menonjol, lalu air suspension digunakan untuk mengatur stance.

Makanya…, jelas kelihatan mahal meskipun modifikasinya sebenarnya tidak ramai.

Yang membuatnya menarik, Sounder tidak berusaha mengubah karakter dasar W124. Tidak ada bumper besar, body kit yang ramai atau aksesori yang membuat wajah aslinya hilang. Sounder bersama modifikatornya, Harpit Singh dari Creative Automodified, seperti tahu bahwa Boxer sudah punya bentuk yang enak dilihat sejak awal. Jadi tidak perlu banyak macam-macam. “Cukup mainkan bagian yang memang bisa membuatnya kelihatan lebih berisi,” ucap Harpit yang juga mengaplikasikan sunroof panel milik 190E (w201).

BBS Super RS 18 inci kemudian menjadi pilihan yang sulit dibantah. Lebarnya 9 inci di depan dan 10 inci di belakang, dengan model yang memang punya daya tarik sendiri. Apalagi ketika dipasangkan dengan Accelera IOTA EVT 215/40ZR18 di depan dan 225/40ZR18 di belakang. Ban yang tipis membuat bibir BBS semakin keluar, sementara lebarnya membuat roda terlihat benar-benar mengisi rumah roda. Dari samping, kombinasi ini yang paling cepat mencuri mata.

Urusan ketinggian diserahkan kepada air suspension Airgen dengan management 2-channel. Jadi bukan sekadar ingin ceper. Saat jalan, Boxer masih bisa dinaikkan. Saat parkir, tinggal diturunkan dan seluruh bentuknya berubah. Fender yang tadinya punya jarak dengan roda mendadak seperti menelan BBS. Di titik ini, kita mulai paham kenapa W124 masih enak dijadikan bahan bermain stance sampai sekarang.

Yang saya suka, setelah semua itu dilakukan, tidak ada bagian yang terasa berusaha terlalu keras. Putih tetap putih. Chrome tetap chrome. Garis bodi tetap dibiarkan sebagaimana mestinya. Bahkan sunroof top cut plat W124 di bagian atas tidak terasa seperti tempelan yang mencari perhatian. Semuanya masuk begitu saja ke tubuh Boxer.

Dan mungkin memang begitu cara terbaik Sounder memperlakukan W124.
Jangan terlalu banyak mengajarinya menjadi mobil lain.
Biarkan dia tetap menjadi Boxer, lalu berikan sedikit sentuhan selera pemilik.

BBS-nya sudah bicara.
Bannya memberikan statement.
Airsusnya bahkan bergema kemana-mana.


Workshop:
Creative Automodified @creative_automodified