Semasa hidupnya, Bodo Buschmann, sang pendiri BRABUS, punya kecintaan khusus pada mobil terbuka yang kencang. Ia dan putranya, Constantin Buschmann, sudah membicarakan mobil semacam ini ratusan kali sebelum akhirnya benar-benar terwujud.
BODO CABRIOLET adalah jawaban dari obrolan panjang itu.

Ini merupakan versi atap terbuka dari BODO Gran Turismo Coupe yang sudah lebih dulu mengaspal beberapa bulan lalu.
Debut perdananya digelar di The Quail by The Peninsula, A Motorsports Gathering, Carmel, California, Jumat (14/8/2026). Momen ini sekaligus jadi premiere Amerika Utara pertama untuk sang kakak, BODO Gran Turismo Coupe, yang sebelumnya tampil di FuoriConcorso, tepi Danau Como, Italia, Mei 2026 silam.
The Quail sendiri bukan panggung sembarangan. Digelar dalam rangkaian Monterey Car Week, ajang ini jadi salah satu titik temu paling bergengsi buat koleksi mobil klasik langka sampai supercar performa tinggi kontemporer di Quail Lodge & Golf Club.

Soal eksklusivitas, BRABUS tak main-main. BODO CABRIOLET diproduksi hanya 77 unit di seluruh dunia, terpisah dari jatah 77 unit versi coupe. Semuanya dibuat made to order sesuai selera pembelinya masing masing.
Untuk peluncuran perdana ini, dua konfigurasi warna langsung dipajang. “Piano Black” tampil dengan soft top hitam senada, sedangkan “Silk Stone” mengusung atap Jacquard dua warna hitam abu-abu yang ditenun khusus, lengkap motif angka “77” terbalik yang menyatu langsung di serat kainnya, bukan sekadar print atau lapisan biasa.
Angka itu merujuk ke 1977, tahun BRABUS pertama kali berdiri. Atap elektriknya bisa dibuka atau ditutup dalam waktu kurang dari 15 detik, cukup menekan tombol di kokpit.

Bicara bodi, seluruh panelnya full carbon fiber lewat proses pre-preg, metode produksi rumit yang bikin BRABUS sampai punya fasilitas komposit sendiri, tempat tiap komponen ‘dimasak’ dalam autoclave bertekanan tinggi.
Bagian depan tampil garang dengan lampu matrix LED khas berikut grille besar, ditemani RAM AIR duct di kedua sisi buat memasok udara segar ke jantung V12, plus intake tambahan yang mengarahkan udara pendingin ke rem dan radiator. Spoiler depan carbon fiber-nya juga sudah dirancang buat menghasilkan downforce di gandar depan.
Beralih ke buritan, ada spoiler carbon fiber yang bisa memanjang secara elektrik, menyesuaikan kecepatan kendaraan dalam beberapa tahap untuk menambah downforce sekaligus menjaga stabilitas. Saat pengereman keras di atas 140 km/jam, spoiler ini bahkan berputar ke posisi vertikal buat berfungsi sebagai air brake. Logo “77” terbalik di bawah kaca belakang jadi pengingat lain soal tahun kelahiran BRABUS.

Dengan lebar 202,7 cm, tampang belakangnya terasa dominan. Ada tujuh elemen lampu LED individual di tiap sisi, ditambah logo BRABUS yang menyala di tengah pakai teknologi pencahayaan serupa. Panjang keseluruhannya 506,2 cm dengan tinggi hanya 130,5 cm, jadi siluetnya memang dibuat rendah dan agresif. Salah satu ciri khas desainnya adalah “Bodo Line”, garis kontur yang membentang dari hidung mobil sampai ke belakang di kedua sisi bodi.

Ada juga detail kecil berupa logo BRABUS yang diproyeksikan ke tanah di kedua sisi mobil setiap pintu dibuka.
Di balik kap depannya, mesin V12 biturbo 5,2 liter rakitan tangan yang sama persis dengan versi coupe masih jadi jantung pacunya, menghasilkan 735 kW alias 1.000 hp di 6.400 rpm dan torsi puncak 1.200 Nm yang tersedia di rentang 2.900 sampai 5.000 rpm. Tenaga disalurkan ke roda belakang lewat transmisi otomatis delapan percepatan dengan torque converter, yang tetap bisa dioper manual pakai paddle shifter carbon fiber di setir. Diferensial elektroniknya sanggup locking sampai 100 persen buat memaksimalkan traksi ke dua roda belakang.
Soal akselerasi, meski atapnya terbuka, catatan waktunya tetap bikin geleng kepala. 0 sampai 100 km/jam cuma butuh 3,0 detik, 0 sampai 200 km/jam dalam 8,5 detik, sementara 0 sampai 300 km/jam ditempuh dalam 23,9 detik. Top speed-nya dikunci secara elektronik di angka 360 km/jam.

“BRABUS BODO adalah langkah berikutnya bagi brand ini sekaligus penghormatan untuk ayah saya, Bodo Buschmann. Nama dan kisah di baliknya adalah penghormatan yang disengaja untuk beliau,” ujar CEO sekaligus pemilik BRABUS, Constantin Buschmann. “Saya pasti sudah membicarakan proyek seperti ini dengan beliau ratusan kali. Sebuah Gran Turismo besar dengan karakter kuat yang benar benar merepresentasikan DNA BRABUS namun tetap punya identitas yang sepenuhnya unik. Pada akhirnya kami butuh delapan tahun untuk mewujudkan mimpi ini, dan sekarang kami membawanya selangkah lebih jauh lewat cabriolet yang berani dan progresif, dirancang di setiap detail seperti cara beliau akan mengendarainya. Itulah pernyataan yang ingin kami sampaikan, sekaligus cara yang tepat untuk menghormati warisannya.”

Kaki-kakinya mengandalkan velg forged 22 inci BRABUS Monoblock Z GT “Platinum Edition” dengan 20 spoke concave dan tutup hub gaya center lock, dibalut ban Pirelli P Zero yang dikembangkan khusus, berukuran 285/30 ZR 22 di depan dan 335/25 ZR 22 di belakang, lengkap penanda “BB” eksklusif di dinding ban sesuai strategi Perfect Fit milik Pirelli. Pengembangannya menggabungkan simulasi virtual dengan pengujian bersama di Papenburg, Jerman, mencakup berbagai skenario berkendara demi mendapatkan interaksi ideal antara ban, sasis, dan suspensi.

Peredam kejut pakai suspensi double wishbone di depan dan multi link di belakang, dengan strut aluminium adaptif hasil kolaborasi bareng KW. Lima mode berkendara bisa dipilih langsung dari kokpit, dari setelan nyaman buat harian sampai yang lebih dinamis dan fokus performa. Agar tak repot saat harus berhadapan dengan polisi tidur, sistem lift terpasang di gandar depan dan belakang yang bisa mengangkat mobil sekitar 25 mm, lalu otomatis balik ke ketinggian normal begitu kecepatan menyentuh 45 km/jam.
Urusan pengereman mengandalkan cakram carbon ceramic berventilasi dan berlubang, 410 x 38 mm di depan dengan kaliper fixed enam piston, dan 360 x 38 mm di belakang dengan kaliper fixed empat piston. Fitur keselamatan aktifnya juga lengkap, mulai dari automatic emergency braking, lane keeping, lane change assist, blind spot assist, pengenalan rambu lalu lintas, sampai sistem traction control performa tinggi.

Masuk ke kabin, filosofi Masterpiece tetap dipertahankan di kedua varian warna, hanya beda konsep material.

“Piano Black” memadukan kulit “Saddle Brown” dengan trim matte “Dark Shadow” dan elemen carbon fiber di setir, dasbor, konsol tengah, sampai panel pintu.

Sementara “Silk Stone” mengambil pendekatan lebih monokromatik, kulit, trim, dan carbon fiber-nya disesuaikan dengan warna eksterior.
Kursi berkontur ergonomis ini dilengkapi bordir siluet BODO CABRIOLET di sandaran, plus tanda tangan Bodo Buschmann yang disulam di panel pintu. Pola quilting khas “Shell” BRABUS hadir di seluruh jok sampai lantai kokpit dan bagasi, dengan versi Silk Stone menampilkan evolusi pola 3D yang lebih baru.
Setiap unit BODO CABRIOLET juga dilengkapi aksesoris eksklusif, mulai dari kunci berlapis kulit senada sampai tas “Weekender” kulit yang warnanya disesuaikan interior.

Ada pula Digital Product Passport berbasis blockchain yang terintegrasi ke BRABUS Spec Plate di bagasi, dikembangkan bersama Aura Blockchain Consortium buat mendokumentasikan keaslian, kepemilikan, dan spesifikasi kendaraan secara terverifikasi.
Super eksklusif, hanya untuk kolektor sejati. Hubungi: @brabus_alronmotorindonesia, atau melalui akses eksklusif: @hengkykurniawan.brabus – 0822-798-899. ![]()





































