Apakah DeepEnder pernah kepikiran:
Kalau pintu mobil terasa rapat saat ditutup;
Celah antar panel terlihat rata;
Kabin terasa minim suara dari luar;
atau liftgate bisa membuka dan menutup tanpa terasa seret?
Biasanya konsumen cuma menganggapnya sebagai bagian dari kualitas sebuah mobil.
Padahal, hal-hal seperti itu tidak muncul begitu saja.
Di baliknya ada proses pengukuran yang cukup ekstrem. Kia bahkan punya fasilitas khusus bernama Digital Measuring Center atau DMC di Namyang Research and Development Center, Korea Selatan. Tugasnya memastikan detail kendaraan sudah sesuai standar sejak masih dalam tahap pengembangan.
Dalam satu struktur bodi, DMC bisa mengukur hingga 1.000 titik dengan mengacu pada sekitar 600 kriteria kualitas. Yang diperiksa bukan cuma bentuk bodi yang terlihat mata, tapi juga berbagai detail yang baru terasa ketika mobil digunakan.
Kia membagi pemeriksaan tersebut ke beberapa area, mulai dari kualitas eksterior, Noise, Vibration, and Harshness atau NVH, kekedapan terhadap air, sampai fungsi dan kelayakan perakitan.
Artinya, perbedaan ukuran yang sangat kecil, celah antarkomponen, sampai perubahan bentuk yang nyaris tidak terlihat pun bisa masuk ke dalam data pemeriksaan.
“Setiap titik yang diukur memberi engineer data untuk memahami kondisi kendaraan dan menentukan bagian yang masih perlu disempurnakan. Melalui DMC, kualitas dibangun sejak awal, kemudian acuannya diteruskan hingga tahap produksi,” ujar Harry Yanto, VP Operations Kia Sales Indonesia.

Pengukuran struktur dasar kendaraan dimulai menggunakan Coordinate Measuring Machine atau CMM. Perangkat ini menggunakan sensor kontak berpresisi tinggi untuk membaca koordinat tiga dimensi pada titik-titik yang sudah ditentukan.
Dari sana engineer bisa melihat jarak dan penyimpangan antar titik, mengecek kesejajaran, sekaligus memastikan posisi setiap bagian masih sesuai rancangan. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan sekitar 600 kriteria kualitas yang digunakan Kia.
Menariknya, data dari tahap pengembangan ini tidak berhenti di laboratorium. Standar hasil pengukuran DMC diteruskan ke fasilitas produksi agar kendaraan yang masuk jalur produksi tetap menggunakan acuan kualitas yang sama.
Bagian yang bergerak juga mendapat perlakuan serupa. Untuk pintu dan liftgate misalnya, Kia menggunakan pemindai optik 3D yang dipasang pada lengan robot.

Komponen yang akan diperiksa dibawa oleh Autonomous Mobile Robots atau AMR menuju area inspeksi. Pemindai kemudian membaca bentuk komponen secara menyeluruh untuk melihat apakah ukuran dan posisinya sesuai rancangan.
Setelah itu, komponen dipasang pada alat inspeksi yang dibuat menyerupai bentuk bodi kendaraan sebenarnya. Engineer kembali mengecek presisi pemasangannya menggunakan pemindai 3D portabel.

Sistem perangkat lunaknya kemudian membuat lingkungan pengukuran virtual berdasarkan titik referensi. Cara ini memungkinkan pemeriksaan dilakukan lebih cepat tanpa mengorbankan tingkat ketelitian.
Pemeriksaan tidak berhenti ketika semua komponen terpasang. DMC juga melakukan pemindaian kendaraan secara menyeluruh untuk melihat apakah ada penyimpangan ukuran yang terakumulasi dari struktur bodi, komponen bergerak, bagian yang sudah terpasang hingga trim.
Di tahap ini, data dari setiap pemeriksaan menjadi penting karena engineer bisa menelusuri dari mana sebuah penyimpangan berasal. Jadi ketika ada masalah pada hasil akhir, pencariannya tidak sekadar dilakukan dengan melihat mobil secara kasatmata.
Bahkan ketika komponen sedang digunakan, Kia masih mengukurnya.
Pintu, liftgate dan komponen bergerak lainnya diuji dalam kondisi pengoperasian. Kamera berkecepatan sangat tinggi dan sejumlah sensor bisa menangkap hingga 500 data pengukuran setiap detik ketika komponen dibuka dan ditutup.
Dengan metode tersebut, perubahan bentuk yang terlalu cepat atau kecil untuk ditangkap mata manusia bisa terlihat dalam data. Termasuk perubahan yang muncul akibat bertambahnya bobot komponen maupun tekanan dari luar.
Seluruh data itu kemudian dikumpulkan dalam pusat data yang menghubungkan informasi dari berbagai tahap pengembangan, sistem dan pemasok.
Ketika ditemukan perbedaan kualitas, engineer bisa membandingkan data yang tersedia untuk mencari kemungkinan penyebabnya dan menentukan perbaikan. Kia juga menggunakan dua sistem analisis untuk membantu proses tersebut.
Algoritma DATA-FIT digunakan untuk mengolah hasil pengukuran dan mencari konfigurasi perakitan paling optimal dalam ruang virtual. Sementara DATA-AUDIT bertugas menandai kemungkinan sumber penyimpangan sekaligus memberikan rekomendasi perbaikan.

Kia juga menyebut data yang sudah terkumpul akan menjadi fondasi untuk pengembangan infrastruktur berbasis kecerdasan buatan yang nantinya dapat digunakan dalam pengembangan kendaraan generasi berikutnya.
Seluruh proses ini pada dasarnya bekerja jauh sebelum konsumen menyentuh mobilnya. Saat mobil sudah berada di dealer dan pintunya terasa solid ketika ditutup, celah panel terlihat rapi atau kabinnya terasa lebih tenang, konsumen tidak akan melihat angka-angka di baliknya. Yang ada hanyalah hasil akhirnya.
“Bagi konsumen, seluruh proses tersebut memang tidak terlihat, tetapi hasilnya dapat dirasakan melalui kerapian, kenyamanan, dan fungsi kendaraan saat digunakan sehari-hari. Kami berharap cerita ini bisa memberi gambaran yang lebih jelas tentang proses di balik kualitas kendaraan Kia yang hadir di Indonesia,” kata Harry.
Rangkaian pengukuran di DMC tersebut menjadi bagian dari standar pengembangan lini global Kia yang produknya dipasarkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. ![]()
