Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak 4 September 2026 bikin langit sebagian Jawa dan Sumatra berubah warna. Dua klaster abu vulkanik dari gunung yang berdiri di tengah Selat Sunda itu terpantau menyebar ke DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu, membawa dampak yang tak cuma soal langit yang keruh. Buat pengendara motor yang tiap hari wajib mobilitas di jalan raya Jabodetabek, situasi ini jadi tantangan baru yang harus disikapi dengan cara yang benar.

Ukuran partikel abu vulkanik yang sangat halus membuatnya mudah terbawa angin dan berpotensi masuk ke saluran pernapasan. Mata, hidung, sampai tenggorokan jadi bagian tubuh yang paling rentan iritasi kalau terus-terusan kena paparan. Belum lagi soal jarak pandang dan kondisi permukaan jalan yang ikut berubah, dua faktor yang bisa mengubah risiko berkendara motor dari biasa jadi jauh lebih tinggi dari hari normal.

PT Wahana Makmur Sejati (WMS) selaku main dealer sepeda motor Honda untuk wilayah Jakarta dan Tangerang tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Lewat tim Safety Riding Promotion, WMS kembali menggaungkan kampanye #Cari_Aman, mengajak masyarakat menjaga keselamatan diri sendiri sekaligus pengendara lain yang sama-sama berbagi jalan di tengah kondisi lingkungan yang tidak ideal.

Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani, menyebut keselamatan berkendara bukan cuma soal skill di atas motor. “Keselamatan berkendara bukan hanya ditentukan oleh skill, tetapi juga bagaimana pengendara memitigasi dan membaca risiko kecelakaan yang diakibatkan kondisi lingkungan. Saat menghadapi jalan yang terdampak abu vulkanik, pengendara perlu lebih tenang, tidak terburu-buru, dan selalu mengutamakan keselamatan,” ujarnya.

Soal perlengkapan, tim SRP menyarankan dua hal yang sifatnya wajib. Helm dengan visor yang benar-benar tertutup jadi lapisan pertama melindungi wajah dan mata dari partikel abu yang beterbangan, dengan catatan visor harus tetap bersih dan tidak baret agar pandangan tetap jelas. Masker juga jadi item yang tidak bisa ditawar, dan N95 jadi rekomendasi utama karena kemampuan filtrasinya menahan partikel halus, asal dipakai menutup hidung dan mulut dengan rapat.

Di sisi teknik berkendara, jalan yang tertutup lapisan abu otomatis mengurangi daya cengkeram ban ke aspal. Kecepatan yang dikurangi memberi ruang lebih untuk membaca kondisi jalan dan menjaga kontrol motor tetap stabil saat melintasi permukaan yang licin. Jarak aman ke kendaraan di depan juga perlu ditambah, karena traksi yang berkurang butuh waktu pengereman yang lebih panjang dibanding kondisi jalan normal.

Pengereman dan manuver mendadak jadi dua hal yang paling perlu dihindari dalam kondisi ini. Permukaan berabu bisa jauh lebih licin dari yang terlihat, jadi pengereman bertahap dan perubahan arah dengan gerakan terukur jadi cara paling aman menjaga keseimbangan motor. Kalau abu sudah terlalu tebal sampai mengganggu jarak pandang, tim SRP menyarankan pengendara tidak memaksakan perjalanan, cukup kurangi kecepatan lalu cari tempat aman untuk berhenti sejenak.

Agus Sani menambahkan situasi belakangan ini menuntut kecepatan mengambil keputusan dari pengendara. “Pada kondisi seperti baru-baru ini pengendara harus mampu mengambil keputusan yang tepat. Apalagi paparan abu vulkanik yang terbawa angin begitu pekat, jangan terburu-buru serta jangan memaksakan perjalanan jika tidak memungkinkan. Mari jaga diri, jaga sesama, karena keselamatan di jalan juga berkaitan dengan keselamatan pengguna jalan lain,” lanjutnya.

WMS bersama tim SRP memang rutin turun lewat berbagai kegiatan edukasi keselamatan berkendara, dengan pesan yang konsisten bahwa kondisi jalan dan lingkungan bisa berubah kapan saja. Kesiapan pengendara menyesuaikan cara berkendara, perlengkapan yang dipakai, sampai keputusan di jalan jadi variabel yang terus diingatkan tim ini, khususnya saat fenomena alam seperti erupsi Anak Krakatau membuat rute harian jadi jauh dari kondisi normal.