Oracle punya komputer, data segunung, algoritma, dan simulasi yang katanya sudah menghitung hampir semua kemungkinan.

Tapi mereka lupa satu variabel: Max Verstappen.

Oracle sempat menghitung Max butuh sekitar 40 menit buat menghabisi 100 pembalap dalam satu lintasan gokart. Kenyataannya, pembalap Red Bull Racing itu cuma perlu 35 menit dan 14 lap untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Selisih hampir lima menit mungkin terdengar sepele. Tapi buat sebuah simulasi yang dibuat dengan teknologi dan data Oracle, angka itu cukup buat menunjukkan satu hal. Ada bagian dari balapan yang sampai sekarang masih susah diterjemahkan komputer.

Namanya insting.

“Oracle sudah menjalankan simulasi soal berapa lama waktu yang dibutuhkan Max buat melewati semua orang, dan dari hasil simulasi kami memperkirakan sekitar 40 menit,” kata Jack Harington, Partnerships Group Lead di Oracle Red Bull Racing, yang malam itu juga ikut menjadi salah satu dari 100 pembalap di depan Max.

“Ternyata sepengetahuan saya waktunya lebih dekat ke 30 menit, jadi kamu bisa punya semua data di dunia, teknologi terbaik dari Oracle buat memprediksinya, tapi kadang kamu berhadapan dengan Max Verstappen yang memang akan mengalahkan data itu sendiri.”

Momen tersebut terjadi dalam ajang Max vs 100 yang digelar Red Bull di Silverstone. Sirkuit yang biasanya dipakai mobil F1 Inggris kali ini disulap menjadi arena gokart temporer rancangan David Terrien.

Aturannya gampang. Max start dari posisi paling belakang, P101, dengan 100 kart berjejer di depannya. Dia harus menyusul semuanya sebelum waktu atau jumlah lap habis. Bagian tersulitnya adalah melakukannya.

Red Bull mengklaim Max vs 100 sebagai balapan gokart terbesar yang pernah digelar. Ada 101 kart di trek, sementara para peserta berasal dari berbagai latar belakang. Dari atlet Red Bull, gamer, content creator, streamer, jurnalis, sampai fans dari berbagai negara dikumpulkan dalam satu grid untuk satu tujuan sederhana: jangan sampai disalip Max.

Sebagian besar peserta bahkan baru dua kali menginjakkan ban di trek tersebut. Satu kali saat latihan pada Selasa dan sekali lagi ketika menjalani kualifikasi pada hari balapan.

Jadi kalau ada yang berharap 100 orang itu bisa membentuk barikade buat menghambat Max, kenyataannya malah lebih mirip pesta bubar jalan.

Begitu lampu start padam, 101 kart langsung masuk ke tikungan pertama.

Max sudah melewati lebih dari 10 pembalap bahkan sebelum menyentuh garis start-finish. Di hairpin, rombongan di belakangnya berubah jadi kekacauan total. Kart saling bertabrakan, beberapa menumpuk, bahkan ada yang sampai menghadap arah berlawanan.

“Saya nggak ngerti apa yang terjadi, ini kekacauan,” kata Max lewat radio.

Dua menit kemudian, posisinya sudah P37.

Sebanyak 63 pembalap bahkan sudah tersingkir sebelum menyelesaikan satu lap. Lebih dari separuh grid habis dalam waktu kurang dari satu putaran.

Ketika angka tersebut disampaikan ke Max lewat radio, jawabannya justru terdengar santai.

“Lap pertama yang nggak buruk juga ya.”

Memang begitu cara kerja Max vs 100. Begitu bagian belakang kart Max sejajar dengan bagian depan kart lawan, pembalap tersebut otomatis tersingkir.

Tidak ada drama dua lap kemudian.
Tidak ada kesempatan merebut posisi kembali.
Kena Max, selesai.

Mikrofon onboard menangkap satu per satu reaksi peserta ketika sadar nasib mereka sudah berakhir. Di lap 7, YouTuber otomotif Paky TWC yang masih berada di posisi enam bahkan sempat meminta lewat radio supaya Max tidak menyalipnya.

Max tentu saja tidak punya agenda untuk mengabulkan permintaan tersebut.

Tidak lama kemudian, Paky juga kena.

Di tengah ‘kuburan’ kart yang mulai memenuhi lintasan, tiga orang justru berhasil melakukan sesuatu yang cukup mengejutkan. Jacky Martens, Zac Alsop, dan Lewis Osler berhasil menghindari kekacauan awal dan membangun jarak sekitar 12 detik dari Max.

Martens merupakan pole sitter sekaligus jurnalis F1 asal Belanda. Alsop adalah YouTuber, sedangkan Osler bekerja sebagai teknisi Red Bull Ford Powertrains.

Mereka bertiga menjadi target terakhir Max.
Masalahnya, Max datang terlalu cepat.

Jarak sekitar 12 detik yang sempat mereka bangun terus menyusut. Max mampu memangkas sekitar tiga detik setiap lap. Ketika waktu tersisa 54 menit, panitia bahkan memberikan satu fast lap tambahan lewat jalur pintas kepada trio tersebut.

Ketiganya menggunakan jalur pintas secara bersamaan pada lap 12.

Setelah itu mereka berhenti saling sikut dan mulai bekerja sama. Bukan lagi mengejar kemenangan, tapi mencoba memperpanjang ‘hidup’ selama mungkin.

Taktik tersebut lumayan berhasil. Tapi melawan Max, kata “lumayan” biasanya tidak bertahan lama.

Satu lap kemudian Max tiba. Alsop dan Osler dilibas dalam satu tikungan yang sama. Martens menjadi target terakhir. Beberapa detik kemudian, selesai sudah.

Max menyelesaikan misi dalam 35 menit dan 14 lap, masih menyisakan 35 menit dari waktu yang diberikan panitia.

Oracle sebelumnya memprediksi sekitar 40 menit. Komputernya kalah hampir lima menit.

Martens akhirnya finis P2, sementara Osler berada di P3. Alsop menempati P4, disusul motocross rider Pol Tarrés di P5. Livestreamer RDJavi, fotografer Larry Chen, pembalap sepeda gunung Bernard Kerr, dan aktor Neo Yau melengkapi 10 besar.

Buat Martens, bertahan sampai akhir merupakan kombinasi antara menjauh dari kekacauan dan sedikit kerja sama dengan pembalap lain.

“Saya coba menjauh dari kekacauan di awal balapan, dan untungnya tiga atau empat dari kami berhasil menjaga jarak,” cerita Martens.

“Kalau kami baku hantam di awal balapan, dia bakal nyusul kami dalam semenit. Jadi kami coba kerja sama sedikit, tapi begitu Max nyusul salah satu dari kalian, semuanya jadi lawan sendiri-sendiri. Kami semua berjuang buat bertahan selama mungkin.”

Finis P2 tepat di belakang Max juga bukan sesuatu yang pernah dia bayangkan.

“Ini seru banget, jujur. Saya nggak bisa berhenti senyum. Rasanya kayak hidup di mimpi. Bukan sesuatu yang pernah saya bayangkan, karena rasanya sureal banget balapan lawan Max, terus finis P2 tepat di belakangnya, nggak bisa dipercaya.”

Kalau catatan waktunya dibongkar, kecepatan Max juga kelihatan cukup sadis. Lap tercepatnya tercatat 2 menit 20,673 detik, sementara Martens mencatat 2 menit 23,327 detik. Selisihnya sekitar 2,6 detik dalam satu lap.

Sepanjang 35 menit balapan, rata-rata Max menyingkirkan satu pembalap setiap 21 detik.

Richard Cooke, engineer Oracle Red Bull Racing, melihatnya sebagai contoh perbedaan level antara pembalap profesional dan orang yang merasa dirinya jago balap.

“Semua orang mengira dirinya jago balap dan berpikir bisa bersaing sama orang-orang ini. Tapi menurut saya dia sudah menunjukkan hari ini bahwa pembalap profesional itu bermain di level yang benar-benar berbeda.”

Cooke juga mengaku tidak menyangka Max bisa menyelesaikan misi dengan sisa waktu sebanyak itu.

“Saya kira dia selalu berharap menang, tapi saya nggak menyangka waktu yang tersisa di papan bakal sebanyak itu, saya rasa itu juga bikin dia sendiri kaget. Hal paling menyenangkan buat dilihat adalah dia benar-benar menikmati harinya. Dia cuma senyum sepanjang waktu.”

Namun angka-angka itu baru separuh cerita.

Karena menurut David Terrien, orang yang merancang trek temporer tersebut, bagian paling sulit dari Max vs 100 bukan sekadar mengemudi cepat. Melainkan membaca situasi ketika ada 100 kart lain yang bergerak hampir bersamaan.

“Melewati traffic di lapangan sebesar itu, belum ada yang pernah melakukannya. Belum pernah ada balapan kart dengan kart sebanyak itu. Jadi bahkan Max sendiri sempat ragu sebelum start, gimana caranya dia bisa lewat traffic itu.”

Jawabannya terlihat dari tayangan ulang.

“Kalau kamu lihat replay-nya, dia pilih spot yang tepat. Setiap kali ada gap, dia langsung ambil. Dia ada di sisi yang benar waktu ada kecelakaan di sisi lain.”

Terrien bahkan menemukan sesuatu yang menurutnya tidak bisa sekadar dijelaskan dengan data.

“Menurut saya itu yang bikin beda soal Max, start-nya, dan reaction time-nya. Meski ini balapan seru-seruan, dia tetap menunjukkan skill di semua aspek.”

“Saya sempat ngobrol sama race engineer Max dan kami lihat replay start-nya. Dia melihat sesuatu yang kami nggak lihat. Dia melihat gap yang akan terbuka padahal belum terbuka. Jadi menurut saya itu race vision, sesuatu yang dia punya yang kebanyakan pembalap nggak punya.”

Mungkin di situlah letak masalahnya buat Oracle.

Simulasi bisa menghitung kecepatan, jarak, kemungkinan tabrakan, traffic, sampai berbagai skenario yang mungkin terjadi di lintasan.

Tapi bagaimana cara memasukkan ke dalam algoritma kemampuan seorang pembalap melihat celah yang bahkan belum terbuka?

Max tidak menunggu gap itu muncul. Dia sudah ada di sana ketika gap tersebut benar-benar terbuka.

Buat Max sendiri, kembali ke gokart justru menjadi bagian paling menyenangkan dari acara ini. Jauh lebih sederhana dibanding dunia F1 yang setiap gerakannya dipenuhi data, strategi, dan teknologi.

“Balik lagi ke gokart itu menyenangkan, kembali ke basic, mengingatkan saya soal balapan jaman dulu. Ini trek yang cantik dan didesain dengan baik, dan jadi sentuhan bagus juga bisa dapat semua data lewat radio. Saya punya hari yang menyenangkan dan senang bisa keluar sebagai pemenang.”

Dia juga mengakui format ini punya sesuatu yang tidak bisa diberikan balapan F1.

“Ini sesuatu yang unik banget dan kamu nggak pernah tahu bagaimana jadinya, tapi kali pertama ini berjalan dengan baik. Dari situ saya bisa benar-benar menikmati diri sambil berburu mereka semua.”

Ada banyak usaha yang dicurahkan buat acara tersebut, termasuk membuat trek yang sanggup menampung 100 kart sekaligus. Dan pada akhirnya, semua eksperimen itu menghasilkan satu angka yang mungkin bakal cukup mengganggu Oracle.

35 menit. Bukan 40.

Lalu ketika Max ditanya di mana posisi kemenangan ini dibanding gelar-gelar F1 yang sudah dia kumpulkan, jawabannya justru lebih absurd lagi.

Dia menyeringai.

“Saya kira ini yang terbaik sejauh ini.”

Untuk ukuran Max Verstappen, mungkin lima menit memang bukan masalah besar.

Tapi buat Oracle, lima menit itu cukup buat mengingatkan bahwa di dunia balap, kadang komputer cuma bisa menghitung apa yang sudah terjadi.

Sementara Max sudah melihat apa yang belum terjadi.