BRABUS belum lama ini melakukan sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sepanjang sejarah lini ROCKET, yakni membuka atap dari salah satu senjata paling bengis mereka dan melahirkan BRABUS 900 ROCKET EDITION CABRIO, cabrio pertama dalam sejarah ROCKET yang baru saja unjuk gigi di Monaco Yacht Show 2026.

Cuma 10 unit yang bakal dilepas ke dunia, itu pun harus rebutan.

Proyek gila ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2025, waktu BRABUS pertama kali memamerkan konsep cabriolet untuk G 63 generasi W 465.

Bukan modifikasi setengah hati, tim insinyur BRABUS membongkar ulang struktur bodi empat pintu ini dari nol pakai simulasi CAD tingkat tinggi biar kekakuan bodinya tetap sadis walau atapnya sudah hilang.

Mobil ini bahkan sudah ‘dihajar’ habis-habisan dalam uji kelayakan TÜV, badan inspeksi teknis Jerman yang terkenal galak soal standar keselamatan.

Bagian paling ribet dari proyek ini justru ada di atapnya sendiri. Lebih dari 500 komponen baru dirancang khusus untuk sistem soft top dua lapis berstandar setara OEM. Gilanya, atap ini cuma butuh 20 detik untuk terbuka atau tertutup penuh.

Kaca belakangnya sudah berpemanas, lengkap dengan logo angka 77 terbalik yang ditenun langsung ke kain sebagai penghormatan tahun lahir BRABUS, ditambah dua garis gelap kontras dan tulisan BRABUS yang menghiasi permukaan atap.

Saat tertutup, atap ini mengunci rapat ke rangka kaca depan yang sudah diperkuat, sementara busur atap dari serat karbon menjaga bentuknya tetap tegak lurus bahkan saat mobil digeber kencang, sekaligus meredam kebisingan kabin.

Roll bar baja C BOW yang dibungkus exposed carbon terpasang menyatu di belakang pintu, mengamankan bagian belakang atap yang terlipat rapi di balik jok belakang.

Sebelum boleh keluar dari fasilitas BRABUS, setiap unit wajib ditatar lebih dari sepuluh jam uji ketahanan air di ruang klimatik. Tak ada toleransi untuk kebocoran sedikit pun.

Dari depan, karakter ROCKET EDITION langsung mengintimidasi lewat fascia BRABUS dengan air intake raksasa dan splitter terintegrasi. Gril radiator berbahan exposed carbon menyala dramatis, memamerkan dua garis merah signature dan emblem BRABUS yang ikut berpendar, membuat wajah mobil ini tetap garang bahkan di tengah gelap malam. Powerdome yang menggelembung di kap mesin jadi bocoran kecil soal monster apa yang mengintai di baliknya.

Beralih ke samping dan buritan, widebody carbon fiber melebarkan bodi ini sampai punya ruang cukup untuk velg 24 inci BRABUS Platinum Edition berdesain Monoblock II tiga palang, ikon yang sudah legendaris sejak akhir era 1980-an.

Aeroblade karbon di velg bukan cuma pajangan, tapi bantu mengarahkan aliran udara yang berputar liar di sekitar roda. Buritannya sama garangnya, trim karbon di bak muatan memamerkan tulisan BRABUS menyala merah, dan fascia belakang widebody menyatu rapi dengan fender yang melebar di kedua sisi.

Pusat dari semua kegilaan ini bersemayam di balik kap mesin. Sebuah mesin V8 4,5 liter twin turbo yang digarap langsung di fasilitas mesin internal BRABUS. Diameter silinder digenjot sampai 84 milimeter dengan piston forged custom, dipadukan crankshaft billet yang dikerjakan dari material solid untuk mendongkrak langkah piston jadi 100 milimeter. Dua turbo baru berkompresor lebih besar dan bearing aksial yang diperkuat sanggup menghasilkan boost sampai 1,4 bar, sementara dua valve BoostXtra memuntahkan suara blow off yang bikin bulu kuduk berdiri setiap kali perpindahan tenaga.

Hasil akhirnya buas tanpa ampun, 662 kW atau 900 hp pada 6.200 rpm dan torsi puncak 1.250 Nm yang sudah muncul di putaran rendah 2.900 rpm, meski secara elektronik torsi ke roda dikunci di 1.050 Nm biar drivetrain tak jebol.

Sprint 0 ke 100 km per jam cuma butuh 3,7 detik, dan top speed dikunci di 240 km per jam demi menyelamatkan umur ban. Knalpot stainless dengan downpipe 76 milimeter dan katup aktif kasih pengemudi dua kepribadian sekaligus, raungan ganas mode Sport atau bisikan sopan mode Coming Home.

Kaki-kakinya digarap bareng KW lewat suspensi coilover BRABUS RideControl yang dikalibrasi khusus untuk velg 24 inci, dengan ban depan 295/30 ZR 24 dan ban belakang selebar 345/25 ZR 24 yang mencengkeram aspal. Ketinggian mobil bisa diceperkan sampai 45 milimeter, sedangkan karakter bantingannya diatur lewat Drive Select standar sesuai mood pengemudi.

 

Masuk ke kabin, suasana berubah jadi ruang eksklusif yang dibungkus kulit hitam dan Alcantara dengan pola quilting Shell khas BRABUS yang menyebar di jok, panel pintu, footwell, sampai bagasi.

Aksen merah Rocket Red menyerang dari segala penjuru, mulai dari tombol, grille speaker, ventilasi udara, sampai pin kunci pintu. Engsel Easy Entry membuka pintu belakang sampai sudut 90 derajat, paddle shifter karbon dilengkapi LED yang berubah dari hijau ke kuning lalu merah sebagai alarm titik shift ideal. Speedometer dikalibrasi sampai 300 km per jam, menegaskan ini bukan mobil buat main-main.

Setiap unit dibekali kunci berlapis kulit senada dan tas BRABUS Weekender yang warnanya disesuaikan tema interior masing masing pembeli. Ada juga Digital Product Passport berbasis blockchain yang ditanam di pelat spesifikasi BRABUS di bagasi, hasil kerja sama dengan Aura Blockchain Consortium untuk menjaga keaslian dan riwayat setiap unit tetap terlacak.

Harga unit yang dipamerkan di Monaco dibanderol 890.740 euro, harga ekspor yang belum termasuk PPN Jerman, atau kalau dikonversi kasar dengan kurs sekitar Rp 20.700 per euro tembus di kisaran Rp 18,4 miliar.

Konsumsi bahan bakar menurut standar WLTP tercatat 16,3 liter per 100 km dengan emisi CO2 sebesar 370,6 gram per km, masuk kelas efisiensi G.

Super eksklusif, hanya untuk kolektor sejati. Hubungi: @brabus_alronmotorindonesia, atau melalui akses eksklusif: @hengkykurniawan.brabus – 0822-798-899.