Ada cara paling gampang untuk mengukur mahal atau tidaknya sebuah benda di Indonesia, yaitu dengan melihat berapa harga jualnya di showroom dan berapa harganya lima tahun kemudian ketika sudah menjadi barang bekas. Dengan logika itu, 1.500 mobil baru akan selalu terlihat lebih mahal daripada apa pun yang tumbuh di lumpur, apalagi sekadar bibit mangrove yang tingginya belum se-lutut orang dewasa dan bahkan belum punya harga.
Tapi coba balik logikanya sedikit lebih panjang. 1.500 mobil baru yang dijual hari ini nilainya memang triliunan rupiah, namun setiap tahun nilainya akan susut, butuh bahan bakar, butuh servis, dan pada akhirnya menyumbang emisi yang harus dibayar oleh orang lain. Sementara 1.500 bibit mangrove jenis Rhizophora yang ditanam pada 26 September lalu di Pelabuhan Cikidang, Pangandaran, justru bekerja sebaliknya.
Hari ini ia tidak bernilai apa-apa, tidak bisa dijual dan tidak bisa dipamerkan di brosur, namun lima tahun dari sekarang, ketika akarnya sudah menganyam lumpur dan batangnya sudah menahan hempasan ombak selatan Jawa, ia yang akan menentukan apakah 1.500 kapal nelayan masih bisa bersandar atau harus mencari pelabuhan lain karena bibir pantainya sudah habis dimakan abrasi.
Di titik inilah pertemuan antara Suzuki Indomobil Sales, Pandu Laut Nusantara, dan Susi Air menjadi menarik untuk dibaca bukan sebagai seremoni Corporate Social Responsibility, melainkan sebagai sebuah keputusan ekonomi yang sangat sadar. Ini adalah tahun ketiga mereka kembali ke Pangandaran dalam payung yang mereka sebut The Indonesian Coastal Greenbelt Project.
Kalau dihitung sejak 2024, mereka sudah menanam 10.000 mangrove, dengan rincian 7.000 bakau pasir di Susi International Beach Strip dan 3.000 Rhizophora di Pantai Madasari. Keduanya adalah pantai yang indah, yang secara visual sangat menguntungkan untuk dokumentasi. Namun tahun ini mereka memilih bergeser ke Pelabuhan Cikidang, sebuah tempat yang becek, berbau solar, penuh dengan aktivitas bongkar muat ikan dan perbaikan jaring, yang jauh dari kata instagramable.
Pemilihan itu bukan kebetulan. Cikidang adalah sentra perikanan yang menopang hidup masyarakat di sisi selatan Pulau Jawa. Ia menyimpan keanekaragaman biota yang tidak terlihat dari darat, dan ia adalah urat nadi ekonomi yang sangat rapuh. Ketika bibir pantai tergerus, yang hilang bukan hanya garis di peta, melainkan alur masuk kapal, tempat pemijahan ikan, dan kepastian bahwa esok pagi nelayan masih bisa melaut.

Joshi Prasetya, Strategic Planning Department Head Suzuki, mengatakan bahwa, “Kegiatan ini ingin mendorong kesadaran mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir, sebuah kalimat yang terdengar normatif sampai kita memahami bahwa yang ia maksud adalah menjaga agar aktivitas ekonomi di pesisir itu sendiri tidak bunuh diri.”
Lalu ada satu nama yang dalam siaran pers hanya disebut sekilas, namun sesungguhnya menjadi kunci mengapa 1.500 bibit ini bisa menjadi lebih mahal daripada mobil, yaitu Bapak Sugito, Ketua Rukun Nelayan Dusun Bojongsalawe, Desa Karangjaladri, Kecamatan Parigi. Dalam sesi Success Story Mangrove Conservation, Pak Sugito tidak berbicara tentang teori karbon atau target Sustainable Development Goals. Ia berbicara tentang bagaimana kawasan konservasi mangrove di wilayahnya bisa terus tumbuh karena dijaga oleh orang-orang yang dulu justru menebangnya. Transformasi itu tidak terjadi karena ada spanduk atau baliho, melainkan karena ada rasa memiliki yang dipindahkan dari perusahaan ke warga.
Inilah yang membedakan penanaman di Cikidang dengan aksi tanam-tinggal yang sering kita lihat. Sebanyak 75 peserta yang terdiri dari perwakilan Suzuki, Pandu Laut, Susi Air, nelayan sekitar, mahasiswa dan komunitas lokal tidak langsung disuruh menancapkan bibit ke lumpur. Mereka dibekali dulu dengan pengenalan teknik penanaman, bagaimana cara memegang bibit agar akarnya tidak stres, seberapa dalam ia harus ditancapkan agar tidak roboh ketika pasang naik, dan apa yang harus diperhatikan agar ia tidak mati dalam dua minggu pertama, yang merupakan masa paling kritis bagi Rhizophora. Baru setelah itu mereka bergerak bersama menanam 1.500 bibit tersebut. Sebuah proses yang terlihat lambat, namun justru di sanalah nilai mahalnya berada.

Kalau dilihat di atas kertas, kolaborasi antara pabrik otomotif, maskapai penerbangan, organisasi non-pemerintah yang fokus pada laut, dan rukun nelayan memang tidak masuk akal secara bisnis. Apa kepentingan Suzuki yang jualan mobil dan motor tempel untuk repot-repot mengurusi lumpur di Pangandaran, apa kepentingan Susi Air yang menerbangkan pesawat di atas awan untuk mengurusi akar di bawah air. Namun Melinasary Amini, Chief of Operation Susi Air, mengucapkan sebuah kalimat yang menutup semua pertanyaan itu ketika ia berkata, mari kita turun bersama, menanam, merawat, dan memastikan apa yang kita mulai hari ini benar-benar tumbuh menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kata kuncinya bukan menanam, melainkan merawat dan memastikan tumbuh, dua kata kerja yang paling jarang muncul dalam laporan keberlanjutan.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang mana yang lebih mahal antara 1.500 mobil baru dan 1.500 mangrove di Cikidang bukan lagi pertanyaan tentang harga, melainkan tentang cara kita menghitung waktu. Mobil baru dihitung dengan depresiasi, semakin lama semakin murah. Mangrove dihitung dengan apresiasi ekologis, semakin lama semakin mahal, karena semakin besar ia menahan abrasi, semakin banyak ikan yang tinggal di akarnya, semakin jernih air yang disaringnya, dan semakin lama Pelabuhan Cikidang bisa tetap menjadi pelabuhan. Suzuki, Susi Air dan Pak Sugito pada akhirnya sepakat pada satu hal yang sama, bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diwariskan lewat akta jual beli, melainkan harus ditanam, dirawat, dan dijaga agar anak cucu di Pangandaran masih punya alasan untuk tetap menjadi nelayan. ![]()
