Ada alasan mengapa DeepEnd tidak pernah terburu-buru menyimpulkan karakter sebuah mobil baru. Sebab kesan sesungguhnya hampir selalu muncul pada beberapa kilometer pertama, ketika ekspektasi belum terbentuk dan kendaraan mulai memperkenalkan dirinya secara alami melalui cara ia bergerak.
Hal yang sama juga terjadi saat DeepEnd mulai mengemudikan New Mitsubishi XFORCE HEV.
Konvoi bergerak perlahan meninggalkan area keberangkatan. Tidak ada akselerasi mendadak, tidak ada upaya menunjukkan kemampuan mobil sejak awal. Justru pada kecepatan rendah inilah karakter sebuah kendaraan biasanya mulai berbicara. Dan menariknya, New XFORCE HEV memilih memperkenalkan dirinya dengan cara yang sangat tenang.
The First 10 Seconds Rule benar-benar terasa bekerja. Dalam beberapa detik pertama, DeepEnd tidak sibuk mencari besarnya tenaga atau seberapa cepat SUV ini melesat. Yang paling cepat tertangkap justru adalah cara mobil ini bergerak.
Begitu pedal akselerator mulai diinjak perlahan, New XFORCE HEV melaju tanpa drama. Tidak ada hentakan yang dibuat-buat untuk memberi kesan bertenaga, tidak pula jeda yang membuat pengemudi harus menunggu mobil mulai bergerak. Seluruh respons terasa mengalir, seolah kendaraan memahami seberapa besar tekanan yang diberikan kaki kanan, lalu menerjemahkannya menjadi akselerasi yang sama naturalnya.

Sebelum sesi test drive dimulai, Mitsubishi Motors memang banyak berbicara mengenai filosofi di balik pengembangan New XFORCE HEV. Fokusnya bukan semata-mata mengejar angka efisiensi bahan bakar, melainkan meningkatkan kualitas pengalaman berkendara secara menyeluruh. Saat itu penjelasan tersebut masih terdengar seperti materi presentasi. Namun beberapa kilometer pertama perlahan mulai mengubah persepsi tersebut.
Teknologi hybrid Mitsubishi membuat mobil ini terasa ringan bergerak dari posisi diam. Dorongan awalnya halus, tetapi cukup meyakinkan untuk membuat proses berakselerasi terasa percaya diri, terutama ketika mulai memasuki jalan yang lebih terbuka. Barulah setelah beberapa kilometer DeepEnd memahami bahwa karakter tersebut bukan muncul karena ledakan tenaga yang besar, melainkan karena cara tenaga itu disampaikan kepada pengemudi.
Menariknya, semakin lama berada di balik kemudi, perhatian DeepEnd justru semakin jarang tertuju pada mesin. Yang terasa adalah ritme kendaraan secara keseluruhan. Respons pedal gas, bobot kemudi, dan pergerakan bodi seolah bekerja dalam satu irama yang sama.

Tentu saja rasa penasaran tidak berhenti sampai di situ.
Sesekali DeepEnd sengaja memberi sedikit jarak dari rombongan konvoi. Bukan untuk mencari sensasi, melainkan agar mobil bisa diajak berbicara lebih jujur. Jalan yang sedikit lebih lengang memberi ruang untuk mencoba beberapa karakter akselerasi, merasakan bagaimana mobil bereaksi ketika pedal gas diinjak lebih dalam, lalu kembali dilepas secara bertahap.
Hasilnya cukup menarik.
Mobil tetap mempertahankan karakter yang sama. Responsnya spontan, tetapi tidak agresif. Perpindahan tenaga berlangsung halus, sementara kabin tetap terasa tenang. Bahkan ketika kecepatan mulai bertambah, perhatian pengemudi lebih banyak tertuju pada jalan dibanding memikirkan apa yang sedang terjadi di balik kap mesin.
Di tengah perjalanan, perhatian DeepEnd kemudian beralih ke bagian lain yang justru sering luput dari pembahasan spesifikasi.
Apa itu? Kaki-kaki.
New XFORCE HEV menggunakan velg 18 inci dengan profil ban yang lebih tipis. Kombinasi seperti ini biasanya membuat karakter mobil lebih sensitif terhadap tekanan angin ban. Ketika bantingannya terasa sedikit lebih tegas dari ekspektasi, rasa penasaran pun muncul.
“Berapa tekanan anginnya?” tanya DeepEnd kepada Rifat.
“Agak tinggi, sekitar 40–41 psi,” jawabnya.
Jawaban tersebut cukup menjelaskan karakter yang dirasakan sejak awal perjalanan. Dalam kegiatan media test drive, tekanan ban yang sedikit lebih tinggi memang bukan sesuatu yang asing. Selain menjaga kestabilan saat mobil digunakan bergantian oleh banyak pengemudi, setelan seperti ini juga membuat respons kemudi terasa lebih presisi meski konsekuensinya bantingan menjadi sedikit lebih tegas dibanding penggunaan harian.
Namun menariknya, hal tersebut tidak sampai mengurangi rasa percaya diri selama mengemudi. Justru sebaliknya. Mobil terasa semakin mudah ditempatkan, baik ketika berpindah jalur maupun saat mulai memasuki tikungan dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi.

Jika dibandingkan dengan XFORCE bermesin bensin yang pernah DeepEnd coba sebelumnya, karakter dasarnya sebenarnya masih sangat terasa. Posisi duduk, visibilitas, hingga rasa kemudi tetap mempertahankan identitas XFORCE yang sudah dikenal sejak pertama kali diperkenalkan. Bedanya, kini seluruh respons tersebut terasa lebih matang, seolah setiap pergerakan telah dipoles agar bekerja lebih halus tanpa mengubah kepribadian mobil secara drastis.
Semakin lama perjalanan berlangsung, satu hal lain mulai mengambil perhatian.

Perhatian lainnya jatuh pada soal kesenyapan kabin.
Pada beberapa kondisi berkendara, suasana di dalam kabin tetap terasa tenang sehingga perhatian pengemudi perlahan bergeser dari suara mesin menuju ritme perjalanan itu sendiri. Percakapan di dalam mobil berlangsung lebih santai, suara ban dan angin menjadi lebih mudah dikenali, sementara kehadiran mesin tidak lagi mendominasi suasana sebagaimana lazimnya sebuah SUV bermesin bensin.
Sesekali mata memang melirik panel instrumen. Animasi aliran tenaga terus berubah mengikuti kondisi jalan. Ada saat motor listrik menjadi penggerak utama, kemudian mesin bensin ikut bekerja, sebelum akhirnya kembali berganti. Anehnya, perpindahan tersebut jauh lebih mudah dilihat melalui layar dibanding benar-benar dirasakan dari balik kemudi.
Di titik inilah DeepEnd mulai menyadari bahwa kesan pertama terhadap New XFORCE HEV ternyata tidak dibentuk oleh satu fitur tertentu. Bukan oleh tenaga motor listriknya, bukan pula oleh klaim efisiensinya. Kesan tersebut lahir dari bagaimana seluruh elemen kendaraan bekerja sebagai satu kesatuan. Suspensi, kemudi, pedal akselerator, hingga kesenyapan kabin saling melengkapi tanpa ada yang terasa ingin tampil paling menonjol.
Pada akhirnya, kilometer-kilometer pertama itu benar-benar mengubah kesan DeepEnd terhadap New XFORCE HEV. Mobil ini tidak sibuk menunjukkan bahwa ia adalah sebuah SUV hybrid. Sebaliknya, ia lebih memilih memperkenalkan dirinya sebagai SUV yang mudah dipahami, nyaman dikendarai, dan secara perlahan membangun rasa percaya diri kepada pengemudinya.

Namun justru setelah perjalanan itu selesai, rasa penasaran mulai tumbuh.
Jika seluruh perpindahan tenaga tersebut nyaris tidak pernah terasa dari balik kemudi, sebenarnya apa yang sedang bekerja di balik layar? Bagaimana Mitsubishi membuat sistem hybrid ini mampu berpindah dari motor listrik ke mesin bensin dengan begitu halus hingga hampir luput dari perhatian?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menjadi awal perjalanan DeepEnd pada seri berikutnya. ![]()
