DeepEnd takjub juga dengan kenekatan banyak car enthusiast dari Riau.
Sering adu nyali di show car competition.
Rutin nimbrung di car meet up.
Setelah puas sana-sini, ketemulah dengan road trip.

Partai Neraka? Gas.
Sumatera Bersatu Vol. 1? Beres.
Vol. 2? Finish.
Semua dilibas tanpa banyak drama.

Di antara mereka, salah satunya adalah Harlim.
Ia membangun W213 bukan untuk dipajang.
Baginya, “Modifikasi yang baik bukan hanya enak dipandang, tetapi juga siap diajak pergi-pulang ribuan kilometer perjalanan.”


Semuanya terasa mudah dicuapkan. 

Sepintas, sedan hitam ini memang nyaris tidak memberikan alasan untuk menoleh dua kali. Fender depan dan belakang masih mempertahankan garis asli pabrikan tanpa sentuhan widebody maupun overfender. Garis bodinya tetap utuh. Body kit pun dibuat seminimal mungkin. Hanya splitter tipis di bumper depan, sideskirt yang mengikuti kontur bodi, serta grille bergaya diamond yang menjadi pembeda dari versi standar.

Namun rahasia sebenarnya justru berada di balik empat roda.

Velg yang digunakan bukan BBS RS biasa. Basisnya berasal dari BBS RS berukuran 17 inci yang kemudian dibangun ulang menjadi diameter 19 inci dengan konfigurasi double step dan slanted lips. Ukurannya pun cukup agresif, yakni 9,5 inci di depan dan 10,5 inci di belakang.

Di atas kertas, kombinasi lebar velg tersebut sudah cukup untuk membuat bibir roda keluar jauh dari garis fender standar W213. Bagi banyak modifikator, solusi paling mudah tentu memodifikasi bodi atau melebarkan fender. Namun cara itu sama sekali tidak masuk dalam filosofi modifikasi Harlim.

Ia justru ingin seluruh panel bodi tetap OEM.

Tantangan tersebut kemudian diselesaikan oleh Harpit Singh, punggawa bengkel Creative Automodified, melalui pendekatan yang lebih teknis. Camber kit GOMZ dipasang pada upper arm depan, sementara sektor belakang menggunakan rear arm, toe arm, dan caster arm yang seluruhnya dapat diatur. Seluruh geometri suspensi disetel agar posisi roda bisa masuk presisi ke dalam fender tanpa harus mengubah karakter asli mobil.

Hasilnya menjadi salah satu bagian paling menarik dari modifikasi ini. Saat berada pada ride height, sudut camber berada di kisaran -3 derajat di depan dan -4 derajat di belakang sehingga mobil tetap nyaman digunakan untuk aktivitas harian. Ketika air suspension Air BFT diturunkan hingga posisi air out, sudut tersebut berubah menjadi sekitar -4 derajat di depan dan -6 derajat di belakang.

Bahkan pada tekanan 0 PSI, ban tetap tidak menyentuh bibir fender. Bagian belakang sengaja dibuat sedikit lebih slammed dibanding depan agar menghasilkan proporsi yang seimbang ketika mobil benar-benar merebah ke aspal.

Tidak semua detail yang menentukan, langsung terlihat.

Menariknya, pekerjaan itu tidak hanya bergantung pada suspensi maupun camber. Pemilihan ban juga menjadi bagian penting dalam keseluruhan konsep modifikasi ini.

Harlim dan Harpit memilih Accelera IOTA berukuran 235/35ZR19 di depan dan 245/35ZR19 di belakang. Kombinasi tersebut menjaga proporsi khas sedan berpenggerak roda belakang, sekaligus memberikan ruang yang cukup ketika suspensi berada di posisi terendah.

Dalam modifikasi bergaya stance, pemilihan ban bukan sekadar soal lebar dan tinggi profil. Karakter dinding ban, ruang terhadap bibir fender, hingga toleransi ketika suspensi bergerak menjadi bagian dari perhitungan yang sama pentingnya dengan pemilihan velg maupun setelan camber. Selisih beberapa milimeter saja bisa menjadi pembeda antara fitment yang bekerja dengan baik atau justru terus bergesekan saat mobil digunakan.

Itulah mengapa, pada mobil ini, ban bukan sekadar pelengkap. Accelera IOTA EVT menjadi salah satu elemen yang menyatukan seluruh konfigurasi kaki-kaki agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya, baik saat mobil berada di posisi ride height maupun ketika direbahkan hingga air out.

Di dunia stance, velg memang menjadi pusat perhatian. Namun ban sering kali menjadi komponen terakhir yang menentukan apakah seluruh kombinasi tersebut benar-benar bekerja sebagaimana mestinya.

Di luar itu yang juga menarik adalah bagian interior sengaja dibiarkan tetap standar. Tidak ada ubahan mencolok di dalam kabin. Soalnya, kekasih sepanjang hidup, Nuri, sering menemani giat Harlim di skena modifikasi, apalagi keduanya merupakan pemilik Tfwheels Store, toko ban dan velg di Pekanbaru,


Namin Nuri meminta kaca film 20 persen terpasang untuk mempertahankan kesan elegan. Sementara sentuhan aftermarket hanya hadir melalui grille diamond style, splitter tipis di bumper depan, serta sideskirt yang mempertegas garis bawah bodi tanpa mengubah identitas asli W213.

Modifikasi seperti ini mungkin tidak langsung mencuri perhatian orang awam. Namun bagi mereka yang memahami dunia fitment, justru di situlah letak daya tariknya.

Membuat velg selebar itu masuk ke dalam fender standar tanpa memotong bodi bukanlah perkara sederhana. Dibutuhkan pemilihan komponen yang tepat, penyetelan geometri yang presisi, hingga pemilihan ban yang sesuai agar semuanya dapat bekerja sebagai satu kesatuan.


Workshop:
Creative Automodified @creative_automodified

Data Mods:
AirBFT air suspension kit w/ 4-channel management system, front & rear adjustable camber kit, BBS RS 19x(9.5+10.5) inch w/ slanted lips, Accelera IOTA 235/35ZR19 % 245/35ZR19, custom front bumper splitter, custom side skirts, diamond style front grille

*Lokasi foto di 3 lokasi berbeda: Bali, Riau, dan Sumatera Barat
**Foto diambil pada periode pelat nomor yang berbeda akibat proses mutasi kendaraan