Sebelum McLaren dikenal sebagai salah satu nama terbesar di Formula 1, dan sebelum lahir F1 yang kemudian menjadi legenda, Bruce McLaren sudah punya penerawangan kayak apa sih mobil McLaren seharusnya diwujudkan di luar sirkuit balapan.
Jejaknya bisa ditarik ke M6A.
Mobil yang membawa McLaren memasuki era Can-Am.
McLaren membangun reputasinya di balapan yang brutal.
Can-Am merupakan periode kejayaan Canadian-American Challenge Cup, sebuah kejuaraan balap mobil sport yang berlangsung di Amerika Utara, terutama pada 1966-1974. Yang membuat Can-Am istimewa, regulasinya sangatlah bebas. Tim boleh memakai mesin besar dan teknologi ekstrem, sehingga lahir mobil-mobil balap yang brutal, cepat, dan inovatif. Di sana, McLaren menjadi salah satu kekuatan terbesar. M6A adalah salah satu mobil pentingnya, membawa Bruce McLaren dan timnya meraih gelar Can-Am 1967.
Pada 1967, M6A tampil sebagai mesin yang dibuat untuk memanfaatkan kebebasan regulasi Can-Am semaksimal mungkin. Monocoque pertama McLaren, bodi yang dirancang untuk menghasilkan downforce, serta Chevrolet V8 menjadi kombinasi yang membuat mobil ini langsung kompetitif. Bruce dan Denny Hulme kemudian mendominasi musim tersebut dan membuka jalan bagi lima gelar Can-Am beruntun McLaren.
Bruce tak hanya pembalap, tetapi juga seorang pembuat mobil. Bahkan sebelum membangun timnya sendiri, naluri mekaniknya sudah muncul sejak remaja. McLaren mencatat bagaimana Bruce, ketika masih berusia 15 tahun, membongkar dan membangun kembali sebuah Austin 7 dari potongan-potongan yang ada, sebelum akhirnya membawanya ke arena balap. Baginya, mengemudi dan menciptakan mobil bukan dua dunia yang terpisah.
Tak heran, kemenangan M6A tidak membuatnya berhenti bermimpi. Saat M6A bisa menjadi begitu cepat di arena balap, mengapa gagasan dan teknologinya tidak dibawa ke jalan raya? Dari sanalah M6GT muncul.
M6GT bukan sekadar M6A yang diberi lampu, pelat nomor, dan kabin modern. Bruce membayangkan mobil yang tetap ekstrem, tetapi bisa digunakan manusia di luar sirkuit alias jalan raya. McLaren sendiri kemudian menggambarkan M6GT sebagai road car yang menjadi salah satu fondasi pemikiran bagi mobil-mobil jalan rayanya setelah itu.
Di sinilah sisi humanis Bruce menjadi penting.
Prototipe M6GT bahkan menjadi mobil yang digunakannya sendiri. Daily use, bukan cuma dipamerin sebagai benda eksperimental. Melainkan dijadikan bagian dari kehidupannya.
Sayang seribu sayang. Bruce McLaren meninggal dalam kecelakaan saat menguji Can-Am M8D di Goodwood pada 1970. Usianya baru 32 tahun. Pergi ketika McLaren masih jauh dari bentuk raksasa motorsport yang kita kenal sekarang. Bahkan Bruce dari atas sana melihat tim yang dibangunnya berkembang menjadi kekuatan besar Formula 1, menyaksikan McLaren F1 GTR menang Le Mans, dan merasakan perjalanan panjang mobil jalan raya McLaren dari surganya. M6GT pun berhenti sebagai sebuah mimpi yang tidak selesai.
Namun gagasan itu tidak benar-benar mati. McLaren kemudian menyebut M6GT sebagai salah satu fondasi penting bagi kelahiran McLaren F1 dan bahkan mengaitkannya dengan perjalanan panjang mobil-mobil jalan raya mereka. Dalam arti tertentu, M6GT adalah benih yang ditanam Bruce sebelum ia pergi yang baru menemukan bentuk yang lebih matang puluhan tahun kemudian. Kini, lebih dari lima dekade setelah Bruce meninggal, McLaren kembali membuka halaman tersebut melalui McL 6GT.
Namanya saja sudah seperti sebuah pesan. Bukan kebetulan McLaren mempertahankan angka “6”. Bukan pula kebetulan nama GT kembali muncul. McL 6GT membawa kembali gagasan besar yang pernah berada di kepala Bruce. Bagaimana sebuah McLaren yang lahir dari dunia balap dapat diterjemahkan menjadi sebuah mobil jalan raya yang memiliki karakter, bukan sekadar kemampuan.
Dan kali ini, teknologi sudah berubah jauh. McL 6GT hadir dengan konstruksi canggih, proporsi GT yang panjang dan rendah, serta bahasa desain yang tidak mencoba menjadi salinan M6GT masa lalu. Ia tidak sedang melakukan restorasi sejarah. McLaren justru mengambil ide lama itu dan memberinya bahasa baru. Masa lalu menjadi titik berangkat, bukan cetak biru.
Yang membuat hubungan tersebut semakin menarik adalah keputusan mekanikalnya. Di zaman ketika performa supercar semakin sering diserahkan kepada transmisi otomatis berkecepatan tinggi, McL 6GT justru kembali menawarkan transmisi manual enam percepatan. McLaren juga mempertahankan hydraulic steering dan berbagai elemen mekanikal yang sengaja memberi pengemudi hubungan lebih langsung dengan mobil. Pilihan seperti ini membuat McL 6GT terasa lebih dekat dengan filosofi manusia-mesin yang menjadi bagian dari akar Bruce daripada sekadar mengejar angka performa tertinggi.
Sebab Bruce sendiri bukan hanya mengejar kemenangan. Ia “keterlaluan sekali” dalam mencintai proses menciptakan mobil, mengendarainya, kemudian mencari tahu seberapa jauh mobil tersebut masih bisa didorong. McLaren menggambarkan pendirinya sebagai seorang “racer’s racer”, sosok yang membangun tim dengan orang-orang yang memiliki antusiasme dan keinginan untuk terus berkembang. Bahkan prinsip yang kemudian dilekatkan pada dirinya, bahwa hidup diukur dari pencapaian, bukan semata-mata usia, terasa sangat relevan ketika melihat bagaimana singkatnya waktu yang ia miliki.
Sebagai penutup, mohon untuk diingat kontinuitasnya. Nomor 4 menjelaskan karakter Can-Am yang brutal dan bebas, nomor 5 menunjukkan bagaimana McLaren memanfaatkan karakter itu lewat M6A, dan nomor 6 meneruskan mimpi Bruce McLaren mendorong M6A menjadi versi jalan rayanya melalui M6GT. ![]()










