2Ironi paling manis musim ini datang dari ExCeL Arena, London. Pascal Wehrlein baru saja mengunci gelar juara dunia Formula E keduanya justru saat mobilnya terlempar ke posisi 14, jauh dari zona poin. Balapan penentu gelar tak selalu harus berakhir dengan pembalapnya menyembur sampanye di podium, dan akhir pekan lalu jadi bukti nyatanya.
Wehrlein datang ke London E-Prix sebagai putaran pamungkas musim 2025/2026, dengan modal kemenangan di Race 1 hari Sabtu. Start dari pole, ia melaju mulus memanfaatkan strategi pit stop yang pas dengan momen Full Course Yellow, finis sekitar lima detik di depan Jake Dennis dari Andretti Formula E. Hasil itu langsung membalikkan posisi klasemen, dari yang tadinya tertinggal lima poin dari Dennis di awal akhir pekan, Wehrlein malah mengambil alih puncak jelang race penentu keesokan harinya.

Race 2 hari Minggu jadi cerita yang jauh lebih liar. Wehrlein dan rekan setimnya di Porsche factory team, Nico Müller, start dari posisi tiga dan empat dengan Porsche 99X Electric mereka. Tapi sepanjang 35 lap, keduanya justru terdesak mundur ke belakang. Di fase-fase akhir balapan, Wehrlein dan Dennis sama-sama terlibat insiden dengan pembalap lain yang membuat mereka tersingkir dari zona poin.
Hasil akhirnya Wehrlein finis P14, Müller P12, sementara Dennis mengakhiri balapan di posisi 18. Meski sama-sama gagal mencetak poin di race terakhir, selisih lima poin yang sudah dikantongi Wehrlein sepanjang musim cukup untuk mengunci gelar juara dunia atas nama dirinya.
Buat tim, hasil ini punya dua wajah. Di satu sisi Porsche gagal merebut gelar juara tim dari Jaguar TCS Racing. Artinya, mimpi hattrick, menyapu bersih gelar pembalap, tim, dan manufaktur dalam satu musim, kandas di London. Gelar manufaktur sendiri sudah lebih dulu diamankan Porsche di putaran sebelumnya, jadi yang tersisa tinggal drivers’ title, dan itu berhasil didapat.
Angka-angka pendukung Wehrlein musim ini juga tak main-main. Ia mengoleksi kemenangan terbanyak di antara semua pembalap dengan tiga race win, podium terbanyak bareng pembalap lain dengan enam kali naik podium, dan pole position terbanyak juga dengan empat kali start terdepan. Usianya 31 tahun, dan dengan gelar ini ia menyamai rekor Jean-Éric Vergne sebagai satu-satunya pembalap yang pernah dua kali menjadi juara dunia Formula E sejak seri ini bergulir pertama kali tahun 2014.

Ada catatan menarik lain soal identitas nasionalnya. Wehrlein jadi pembalap Jerman terakhir yang menjuarai kompetisi single-seater kelas dunia sejak Nico Rosberg mengangkat trofi F1 bersama Mercedes-AMG di tahun 2016.
Kalau bicara soal mobil, Porsche 99X Electric jelas jadi bintang tak terbantahkan sepanjang era GEN3 Formula E. Dari sepuluh gelar juara dunia yang diperebutkan selama era ini, enam di antaranya jatuh ke tangan mobil buatan Weissach tersebut. Itu juga menjadikannya single-seater paling sukses sepanjang sejarah Dr. Ing. h.c. F. Porsche AG, bukan cuma di Formula E saja. Sepanjang era GEN3, tim pabrikan Porsche mencatat 16 kemenangan, dan kalau digabung dengan tim-tim kustomer yang memakai basis 99X Electric, totalnya mencapai 23 kemenangan.

Soal tim kustomer, musim 2025/2026 ini jadi musim ketujuh Porsche berkompetisi di Formula E. Selain tim pabrikan, ada Andretti Formula E yang turun dengan Porsche 99X Electric versi terbaru GEN3 Evo, dan Cupra Kiro yang masih mengandalkan teknologi 99X generasi GEN3 sebelumnya.
Di luar soal kompetisi, akhir pekan di London juga jadi penutup program “Racing for Charity” Porsche musim ini. Setiap lap yang berhasil diselesaikan kedua mobil pabrikan disumbang senilai 400 euro untuk membantu anak-anak dengan penyakit berat, disalurkan lewat Kinderherzen retten e.V., Interplast Germany e.V., dan Ferry Porsche Foundation. Jelang pengumuman resmi totalnya, angka sementara sudah menyentuh 449.200 euro.

Florian Modlinger, Direktur Factory Motorsport Formula E Porsche, menyebut ini pencapaian luar biasa buat Wehrlein. “Gelar Juara Dunia kedua yang luar biasa bagi Pascal. Pertarungan ini berlangsung sengit, dan ada beberapa putaran yang berat selama balapan, tetapi secara keseluruhan, ini merupakan prestasi yang luar biasa dan gelar juara lainnya bagi Porsche 99X Electric,” ujarnya, sekaligus menyampaikan terima kasih untuk seluruh tim yang terlibat sepanjang musim.

Wehrlein sendiri bicara soal bagaimana timnya tetap tenang di bawah tekanan sepanjang akhir pekan. “Saya sangat bangga dengan penampilan kami akhir pekan ini, bagaimana kami tidak goyah di bawah tekanan. Kami telah menetapkan standar yang sangat tinggi dalam 15 balapan pertama musim ini, yang menjadi patokan kami menjelang putaran terakhir, dan hari ini, kami berhasil menyelesaikannya,” katanya. Ia menutup dengan menyebut era baru yang sudah menunggu di depan mata, “Malam ini, kita akan merayakannya, tapi setelah itu, mari sambut GEN4.”

Müller yang menyudahi musim di posisi sembilan klasemen pembalap juga ikut angkat bicara soal akhir pekan yang menurutnya chaotic. “Akhir pekan ini memang penuh kekacauan, tapi pada akhirnya Pascal berhasil meraih gelar juara, jadi selamat untuk dia dan seluruh tim,” ucapnya, sambil menambahkan masih ada ruang perbaikan buat musim depan dan ia sudah menantikan GEN4.

Sementara itu Thomas Laudenbach, Vice President Porsche Motorsport, menyoroti pencapaian dua gelar juara dunia ini berbarengan dengan momen Porsche Motorsport merayakan 75 tahun perjalanannya. “Dengan ini, Porsche tetap berada di puncak balap mobil listrik. Meskipun gagal meraih gelar juara tim, ini merupakan keberhasilan besar bagi kami, dan Porsche 99X Electric menutup era GEN3 sebagai mobil paling sukses di Formula E,” tuturnya.
Berikut rangkuman klasemen akhir musim 2025/2026:
Klasemen pembalap
1.Pascal Wehrlein (Porsche) 169 poin
2. Jake Dennis (Porsche/Andretti) 164 poin
3. Mitch Evans (Jaguar) 160 poin
4. Nico Müller (Porsche) 102 poin
Klasemen tim
1. Jaguar TCS Racing 288 poin
2. Porsche Formula E Team 271 poin
3. Mahindra Racing 252 poin
4. Andretti Formula E 229 poin
Klasemen manufaktur
1. Porsche 498 poin
2. Jaguar 400 poin
3. Stellantis 292 poin
Dengan berakhirnya era GEN3, seri Formula E kini bersiap memasuki babak baru bersama mobil GEN4. Buat Porsche, catatan sebagai manufaktur paling sukses di era yang baru saja ditutup ini jadi modal sekaligus standar yang mesti dipertahankan begitu era baru dimulai. ![]()


