Nama Al Ghazali selama ini lebih sering muncul di panggung musik, layar kaca, atau urusan keluarga Ahmad Dhani. Tapi pada Sabtu (5/9/2026), ada sisi lain dari Al yang justru terlihat lebih menonjol.

Bertempat di Dewa19 Javarock, Kemang, Jakarta Selatan, Al datang bukan membawa urusan musik. Ia hadir sebagai bos tim drift SEVENSPEED MOTORSPORT yang baru saja menjalin kerja sama dengan produsen lampu otomotif PRO7 Autolighting.

Pemilihan tempatnya memang cukup menarik. Venue yang lekat dengan nama besar Dewa 19 itu sore tersebut justru menjadi saksi langkah Al membangun namanya sendiri di dunia motorsport.

Kerja sama SEVENSPEED dan PRO7 sendiri tidak cuma lahir dari kesamaan angka tujuh. Wildan, Sales Manager PRO7 Autolighting, mengatakan angka tersebut menjadi salah satu alasan awal kedua pihak menemukan kecocokan.

“Kenapa PRO7 memilih Seven Speed untuk bekerja sama? Pertama dari namanya, kita sama-sama pakai angka 7, angka keberuntungan. PRO7 sendiri, PRO-nya adalah profesional, dan 7 adalah angka keberuntungan buat kami. Jadi intinya profesional yang menguntungkan,” ujar Wildan.

Di balik filosofi tersebut, ada kepentingan yang lebih serius. PRO7 dan SEVENSPEED sama-sama ingin mendorong talenta muda sekaligus produk lokal Indonesia supaya bisa bersaing di level internasional.

Menariknya, kebutuhan kerja sama ini justru muncul dari pengalaman di lintasan. Al bercerita, timnya pernah bertanding malam hari di Purwokerto dalam kondisi trek yang cukup gelap. Penerangan kemudian menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi performa mobil.

Dari situ, kebutuhan terhadap sistem lampu yang lebih mumpuni muncul secara nyata. PRO7 pun dipilih untuk menjadi bagian dari pengembangan SEVENSPEED di lintasan.

Markus Hermawan, CEO PRO7 Autolighting, menegaskan bahwa keputusan menggandeng SEVENSPEED bukan sekadar karena Al Ghazali punya nama besar sebagai figur publik. Menurutnya, drifting memberikan kondisi ekstrem yang bisa menjadi pembuktian langsung terhadap kualitas produk PRO7.

Jadi, lampu yang digunakan bukan cuma dipajang di mobil untuk kebutuhan estetika. Produk tersebut bakal bersentuhan langsung dengan dunia kompetisi yang menuntut performa.

Bagi Al, kedekatan dengan dunia otomotif sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Ketertarikannya terhadap balap mulai tumbuh sejak SMP. Ia bahkan pernah diam-diam menggunakan mobil orang tua dan neneknya untuk sekadar jalan-jalan.

Kebiasaan tersebut sempat berhenti. Namun setelah kembali menekuni drifting secara serius, ketertarikannya berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar hingga akhirnya melahirkan SEVENSPEED MOTORSPORT.

Tim ini pun mulai menunjukkan hasil. SEVENSPEED sempat meraih podium kedua dan podium keempat di kelas New Gen. Mereka juga pernah menghadapi masalah teknis, salah satunya pada sistem rem yang mengganggu performa di salah satu seri.

Menariknya, menjadi ayah baru ternyata tidak membuat Al menjauh dari lintasan. Justru ada motivasi baru untuk terus balapan, bahkan dengan bayangan suatu hari nanti bisa mengajak sang anak menikmati dunia otomotif.

Al juga menilai drifting punya risiko yang relatif lebih terkendali dibandingkan balap kecepatan murni. Menurutnya, risiko terbesar lebih banyak berupa kerusakan pada bodi mobil, sementara mobil kompetisi sudah dilengkapi roll bar untuk meningkatkan perlindungan pembalap.

Kini fokus Al berikutnya adalah kembali turun di Sentul pada November mendatang. Tidak berhenti di situ, ia juga berencana merekrut drifter perempuan untuk memperkuat susunan SEVENSPEED.