JETOUR sedang memperluas cara mereka memasarkan mobil. Selain mengandalkan desain SUV, kemampuan off-road, atau teknologi hybrid, merek asal Tiongkok ini juga ingin masuk ke gaya hidup konsumen lewat strategi yang mereka sebut Travel+.
Pendekatan tersebut diperlihatkan dalam JETOUR Global Technology Experience Day 2026 bertema “Future Travel Starts Now”, yang berlangsung pada 20–23 Oktober 2026 di Wuhu, Anhui, serta Moganshan dan Danau Xiazhu, Zhejiang, China. Agendanya menggabungkan demonstrasi teknologi, uji berkendara, aktivitas luar ruang, hingga pelestarian lingkungan.
Marketing Director PT JETOUR Sales Indonesia, Moch Ranggy Radiansyah, mengatakan Travel+ mengintegrasikan inovasi otomotif dengan gaya hidup dan kebutuhan mobilitas yang terus berkembang. Menurutnya, acara tersebut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan penerapan teknologi JETOUR sekaligus memperkuat arah pengembangan merek dalam ekosistem mobilitas global.
Strategi ini diterjemahkan lewat teknologi XWD Fully Automatic Intelligent 4WD dengan mode berkendara 7+X dan GAIA All-Terrain Intelligent Architecture untuk mendukung kemampuan kendaraan menghadapi beragam medan. JETOUR juga mengandalkan teknologi hybrid C-DM yang dirancang untuk memadukan performa dan efisiensi energi. Kemampuan kendaraan diperlihatkan melalui pengujian di jalan pegunungan dan lintasan off-road di Moganshan.
Dari sisi produk, JETOUR G700 diposisikan sebagai SUV off-road premium, sedangkan T1 dan T2 menyasar penggunaan perkotaan sekaligus petualangan light off-road. Pengalaman perjalanan juga diperluas lewat perlengkapan seperti roof tent, kulkas portabel, dan panoramic sunroof. Namun, portofolio global ini perlu dibedakan dari produk yang tersedia di Indonesia. G700, misalnya, belum tercantum dalam daftar model pada situs resmi JETOUR Indonesia.

Travel+ juga mencakup aktivitas di luar kendaraan. Dalam acara tersebut, JETOUR menghadirkan Camping Market dan Starry Night Forum untuk menggabungkan kegiatan luar ruang dengan interaksi antarpeserta. Perusahaan ingin memperlihatkan bagaimana kendaraan bisa mendukung aktivitas selama perjalanan, bukan sekadar mengantar pemilik sampai ke destinasi.
Di Danau Xiazhu, Zhejiang, peserta dijadwalkan mengikuti kegiatan pelestarian burung ibis jambul atau crested ibis, termasuk merangkai sarang dan melepas benih ikan. JETOUR juga menyebut inisiatif pelestarian satwa di sejumlah negara, seperti citah di Afrika, penyu di Malaysia, elang harpy di Panama, dan markhor di Pakistan. Kemitraan dengan klub sepak bola Colo-Colo di Cile, Federasi Bola Basket Internasional atau FIBA, serta Malaysia Marathon turut menjadi bagian dari upaya membangun hubungan dengan komunitas global.
Dari sisi bisnis, pendekatan ini memperluas titik interaksi merek dengan konsumen, dari produk dan dealer hingga komunitas, aktivitas perjalanan, serta kemitraan lintas industri. Meski begitu, materi yang disampaikan JETOUR belum mengungkap ukuran kontribusi Travel+ terhadap penjualan, loyalitas pelanggan, atau pertumbuhan bisnis.
JETOUR menyebut penjualan kumulatif globalnya mencapai 2,56 juta unit hingga September 2026, dengan kehadiran di lebih dari 100 negara dan wilayah. Angka tersebut merupakan data yang disampaikan perusahaan. Di Indonesia, penerapan Travel+ akan bergantung pada kesesuaian produk dengan kebutuhan konsumen, dukungan purnajual, serta ketersediaan aksesori dan aktivitas yang bisa dinikmati secara lokal.
Global Technology Experience Day 2026 memperlihatkan bagaimana JETOUR ingin mengemas teknologi, kendaraan, dan gaya hidup sebagai satu kesatuan. Tantangannya adalah menerjemahkan konsep global tersebut menjadi pengalaman yang relevan bagi konsumen di setiap pasar, termasuk Indonesia. ![]()
