Di SEMA Show, mobil bisa berubah jadi apa saja. Mulai dari mesin balap berkaki liar, SUV bergaya retro, sampai kendaraan ekspedisi yang tidak terlalu peduli apakah jalan di depannya masih punya nama atau tidak.
Nissan paham betul karakter pameran otomotif seperti ini. Kembali meramaikan ajang tahunan tersebut yang bertempat di Las Vegas, Amerika Serikat, pada 3-6 November, mereka membawa tiga konsep yang cukup mewakili kegilaan dunia modifikasi. Ada Frontier RONIN, Pathfinder XE-V6, dan Armada Jungle Patrol.
Ketiganya punya konsep berbeda. Frontier tampil sebagai pikap berperforma tinggi, Pathfinder mengawinkan nostalgia dengan kemampuan menjelajah, sedangkan Armada mengambil jalur ekspedisi yang lebih ekstrem.
Namun, ada hal yang lebih menarik dari sekadar penampilan ketiganya. Nissan justru menggunakan SEMA sebagai tempat mengeksplorasi gagasan tentang bagaimana sebuah truk dan SUV bisa dikembangkan lebih jauh, termasuk melalui inspirasi dari komunitas modifikasi dan aftermarket.
Kim Less, Vice President Aftersales and Customer Loyalty Nissan Americas, menyebut kemampuan, kepercayaan diri, dan kesenangan berkendara di medan off-road sudah menjadi bagian dari identitas Nissan selama puluhan tahun.
“Kemampuan, kepercayaan diri, dan sensasi berkendara off-road telah menjadi bagian inti dari merek Nissan selama beberapa dekade, mulai dari mobil tangguh untuk penggunaan sehari-hari hingga kemenangan ikonik dalam balapan gurun dan masih banyak lagi,” ujar Kim.
Menurutnya, konsep-konsep yang dipamerkan di SEMA juga memberikan kesempatan bagi para modifikator untuk mengeksplorasi kreativitas sekaligus membuka kemungkinan ide dan inovasi yang bisa menjadi referensi pengembangan aksesori Nissan pada masa mendatang.
Meski begitu, ketiga mobil yang dipamerkan tahun ini tetap berstatus kendaraan konsep dan tidak tersedia untuk dibeli. Nissan belum memberikan indikasi bahwa salah satunya akan masuk jalur produksi.
Nissan Frontier RONIN Concept

Dari ketiganya, Frontier RONIN mungkin menjadi representasi paling jelas tentang bagaimana Nissan ingin bermain dengan performa off-road. Nama RONIN diambil dari istilah Jepang yang berarti prajurit tanpa tuan. Karakternya memang dibuat sejalan dengan nama tersebut, bebas, agresif, dan tidak terlalu suka mengikuti aturan.

Basisnya menggunakan Nissan Frontier bermesin V6 3,8 liter. Bedanya, mesin ini sudah mendapat sentuhan dua turbocharger untuk menghasilkan tenaga lebih besar. Sayangnya, Nissan belum mengumumkan angka tenaga akhirnya.

Peningkatan performa mesin tentu harus diimbangi kaki-kaki yang memadai. Nissan mengambil komponen suspensi dari TITAN untuk memperlebar track width hingga 12 inci dan meninggikan bodi lebih dari empat inci.

Ruang ekstra tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memasang ban Yokohama Geolandar X-AT berukuran 35 inci. Sepatunya menggunakan velg prototipe NISMO ASCEND berdiameter 17 inci dengan konstruksi beadlock.
Belum cukup? Nissan masih menambahkan paket NISMO Off Road berupa rock slider, lampu tambahan, dan dudukan ban cadangan. Sistem pengeremannya juga mendapat perangkat big brake kit khusus untuk mengimbangi peningkatan performa.

Masuk ke kabin, nuansa modifikasinya tetap terasa. Ada jok sport bucket, instrumen tambahan untuk memantau mesin twin-turbo, serta sabuk pengaman dengan detail yang terinspirasi peta topografi.

Frontier RONIN bukan tipe pikap yang sekadar ingin terlihat siap diajak masuk hutan. Dengan mesin twin-turbo dan ubahan suspensi yang cukup serius, Nissan justru sedang mengeksplorasi karakter pikap yang bisa bermain lebih cepat di medan berat.
Nissan Pathfinder XE-V6 Concept

Kalau RONIN lebih sibuk menunjukkan taring, Pathfinder XE-V6 punya pendekatan yang sedikit berbeda. Konsep ini menjadi bagian dari perayaan 40 tahun perjalanan Nissan Pathfinder, sekaligus mengajak penggemar melihat kembali generasi pertamanya yang dikenal dengan kode WD21.
Pathfinder generasi awal punya karakter SUV fungsional untuk menemani aktivitas keluarga sekaligus petualangan akhir pekan. Pada masa itu, tersedia pilihan mesin V6 3,0 liter yang kemudian menjadi inspirasi penggunaan emblem XE-V6 pada konsep terbaru.

Nissan juga tidak asal menempelkan emblem lawas untuk membangun suasana retro. Bodi Pathfinder XE-V6 mendapat kombinasi warna merah, hitam, abu-abu arang, dan perak. Grafisnya mengambil inspirasi dari tampilan Patrol era 1980-an.
Hasilnya punya nuansa klasik yang cukup kuat tanpa harus terlihat seperti SUV tua yang baru keluar dari garasi kolektor.
Tapi jangan terkecoh oleh permainan warna. Pathfinder XE-V6 tetap mendapat sejumlah ubahan untuk kebutuhan off-road yang lebih serius.
Suspensinya ditinggikan empat inci menggunakan perangkat khusus. Ban Yokohama Geolandar dipadukan dengan velg prototipe NISMO 18 inci, sementara bumper depan dan belakang dibuat dengan desain high-clearance agar lebih aman ketika melewati medan berbatu atau permukaan tidak rata.
Ada pula roof rack untuk membawa perlengkapan perjalanan dan dudukan ban cadangan model ayun di bagian belakang.
Menariknya, generasi pertama Pathfinder pernah meraih penghargaan “4×4 of the Year” dan “Four Wheeler of the Year” pada 1987. Jadi, nostalgia yang dibawa konsep ini memang punya dasar sejarah, bukan sekadar alasan untuk menjual tampilan retro.
Nissan Armada Jungle Patrol Concept

Kalau dua konsep sebelumnya masih bisa dibayangkan sebagai kendaraan yang sesekali dipakai di jalan umum, Armada Jungle Patrol sudah punya cerita sendiri.

Nissan mengambil SUV berukuran besar ini dan mengubahnya menjadi kendaraan bergaya safari. Atap standar dibuang, digantikan struktur tubular roll cage. Konfigurasi joknya juga tidak lagi seperti SUV keluarga kebanyakan karena menggunakan bangku yang menghadap ke dalam.

Bayangkan sebuah Armada yang biasanya identik dengan SUV besar dan nyaman, sekarang justru tampil seperti kendaraan untuk mengantar rombongan melihat satwa liar.
Ubahan lainnya juga tidak main-main. Armada Jungle Patrol menggunakan ban Yokohama Geolandar berukuran 37 inci yang dipadukan dengan komponen suspensi long-travel khusus.

Bagian bodi mendapat perlindungan berupa bumper baja dan fender flare khusus. Nissan juga memasang lampu NISMO Off Road untuk membantu penerangan ketika kendaraan harus beroperasi di area yang minim cahaya.

Konsep ini terasa lebih dekat dengan kendaraan ekspedisi ketimbang SUV yang hanya ingin tampil gagah di parkiran pusat perbelanjaan. Nissan benar-benar mengubah orientasi penggunaannya, bukan sekadar menambahkan aksesori agar terlihat lebih petualang.
Satu hal perlu dicatat. Nissan tidak sedang berusaha membuat ketiga konsep ini terlihat seragam. Masing-masing punya karakter sendiri, persis seperti dunia modifikasi yang tidak pernah mengenal satu resep untuk semua kendaraan.
Di situlah SEMA punya peran. Nissan bisa bereksperimen dengan ide yang mungkin terlalu ekstrem untuk langsung ditawarkan ke konsumen, mendengar respons para penggemar, lalu memilah mana yang punya peluang diterjemahkan menjadi produk atau aksesori sungguhan.
Tidak semua mobil konsep harus berakhir di dealer. Kadang, cukup dengan membuat para modifikator mulai berpikir tentang kemungkinan baru, sebuah proyek sudah menjalankan tugasnya. ![]()








