9 tahun lalu, di saat Tyo Afif masuk kuliah, ia merengek pada bapaknya. Kepengen berat Crown tempe. Bapaknya enggak kalah gocek. Malah membelikan anaknya Cressida.

Ya sudah, terima nasib.

Tyo kemudian mendalami bahwa Cressida GX71 itu punya basis mesin yang sama dengan impiannya.
Sampai suatu ketika Tyo bertemu Cressida GX81 ini.
Tak terduga. Itu di 2017.

Saat ia bertandang ke rumah kawannya di Jakarta, ia iseng membuka cover salah satu mobil di garasi kawannya itu. Pas dibuka, kagetlah ia, tersingkap Cressida GX81. Mobil yang bukan JDM, juga tak dijual di Tanah Air. Melainkan impor dari Australia (mirip dengan di pasar Amerika).

Lalu coba ditawar, eh ternyata dilepas. Padahal saat itu sisa duit di ATM tinggal 1 juta perak. Kun fayakun! Mantapkan hati, akhirnya yang tersisa di ATM tadi dijadikan down payment. Kuasa Tuhan, “Akhirnya seminggu kemudian saya balik ke Jakarta buat lunasin mobil ini dan bawa pulang langsung jalur darat tanpa towing dan dari awal mobil ini ternyata enggak ngerepotin,” ungkap kelahiran Yogyakarta 14 Juni ini.

Adakah alasan untuk mencintai mobil ini?
“Yang pasti karena unitnya terbatas, dan kontur bodi yang pipih dan boxy,” ucap Tyo. Dan juga karakter sasis sasis seri X ini memang terkenal handlingnya mantap. “Sampai saat ini kalcer street drifting di Jepang sendiri juga masih didominasi Toyota X-chassis,” sebut Tyo yang biasa dipanggil Tyokopet.

Tyo kemudian memodifikasi mobil yang tidak beredar di pasaran Jepang ini. Tapi untuk body styling tetap arahannya ke arah habitatnya X-chassis. Dan karena mobil ini masih dipakai sehari-hari buat wara-wiri kerja, ke kampus dan road trip luar kotaan.


Pada Cressida ini yang paling kentara memang soal rodanya, khususnya velg. Tyo punya 2 alasan soal velg. Alasan sebenarnya karena light weight dan kuat serta ekonomis. “Ini velg stok spare untuk dipakai drifting ketika kompetisi, jadi saya enggak perlu beli lagi,” aku Tyo.

Sedangkan alasan dramatisnya, velg 17×9 inci ini speknya pas banget buat Cressida X8. Enggak kekecilan, enggak kegedean, enggak kelebaran, enggak keberatan. Jadinya…, cocok dengan power yang masih belum berubah banyak dari stocknya (140-an hp).

Dari velg, langsung ketahuan mengapa memakai ban sekarang dipakai ini. Mereknya Accelera, seri 651 Sport dengan treadwear 200. Simak pengakuan pemilik jasa pengiriman kendaraan bernama @towing_in ini soal ban 651 Sport, “Semi slick, ganteng diliat, cengkeraman cukup nggigit, buat narik dindingnya enggak gampang sobek.” Tyo melanjutkan, “Tapi karena mobil ini buat harian dan touring juga, maka saya juga butuh ban yang awet. Ban ini mewakili semuanya menurut saya,” cetus pemilik postur 167 cm/58 kg ini.

Sedangkan suspensinya menggunakan 3-way coilover adjustment. Dengan sistem itu, Cressida menjadi mesin tempur. Tadi sudah disinggung soal mesin dan sasis, maka mobil ini dijadikan mobil storing saat Partai Neraka 1. Membawa mekanik famous, Mas Ambon, serta tools +/- 500 kilogram. Saat itu, “Untuk lari 200 kpj masih sangat anteng dan nyaman.”


Workshop:
Undercarriage: Laris Understeel @larisundersteel
Restoration: Overkids Car Dressup @overkids_cardressup
Fiber works: Arek Fiber @arek.fiber
Engine: Jonggrang Motorsport @in_jst

Data Mods:
Rota wheel Grid 17×9 inches, Accelera tyres 651 Sport 205/45R17 & 215/45R17, Nissan Silvia 3-way coilover w/ custom bracket, custom rear camber arm, custom knuckle, Sikkens super white, custom front lips, Kijang LGX fog lamp, Nardi steering wheel Torino, porting & polish, Mallory ignition coil, custom 6-2-1 header, custom front pipe, custom resonator, custom tail pipe