Banyak pemilik kendaraan memilih menunda ganti oli demi menghemat pengeluaran. Sekilas keputusan ini memang terlihat menguntungkan, tetapi di tengah musim kemarau seperti saat ini justru bisa menjadi awal dari kerusakan mesin yang berujung biaya servis jauh lebih mahal.

Fenomena ini menjadi perhatian karena musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung lebih kering dan lebih panjang. Bahkan, di beberapa wilayah Indonesia suhu udara diperkirakan bisa melampaui 35 derajat Celsius. Saat temperatur lingkungan meningkat, suhu kerja mesin kendaraan juga ikut naik sehingga oli lebih cepat mengalami penurunan kualitas.

Senior Analyst PCO & Specialties PT Pertamina Lubricants, Mulianto, menjelaskan bahwa suhu tinggi mempercepat proses oksidasi pada oli. Dampaknya, kemampuan oli dalam melumasi sekaligus melindungi komponen mesin menjadi berkurang. Jika pemilik kendaraan tetap menunda penggantian oli, gesekan antarkomponen akan semakin besar dan berpotensi mempercepat keausan mesin.

Sayangnya, masih banyak pengendara yang menganggap jadwal ganti oli cukup berpatokan pada angka kilometer. Padahal, kendaraan yang setiap hari berkutat di kemacetan atau sering mengalami kondisi stop-and-go membuat mesin bekerja lebih berat. Walaupun jarak tempuhnya tidak terlalu jauh, kualitas oli bisa lebih cepat menurun akibat temperatur kerja yang terus tinggi.

Artinya, menentukan waktu penggantian oli sebaiknya juga mempertimbangkan pola penggunaan kendaraan. Lama pemakaian oli, kondisi lalu lintas yang sering dilalui, hingga intensitas penggunaan harian menjadi faktor yang tak kalah penting dibanding sekadar melihat odometer. Dengan begitu, perlindungan terhadap mesin tetap optimal sepanjang masa pakai oli.

Agar pengeluaran servis tetap terkendali, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan tanpa harus menunda ganti oli. Mulai dari menghindari kebiasaan menggeber mesin pada putaran tinggi, menggunakan oli full synthetic yang lebih tahan terhadap suhu panas, hingga memanfaatkan promo servis atau pembelian oli di toko resmi saat tersedia.