Formula 1 bukan hanya soal seberapa cepat mobil melaju. Di luar lintasan, aktivitas kendaraan juga meninggalkan berbagai partikel di permukaan jalan. Ketika hujan turun, sebagian material tersebut berpotensi ikut terbawa ke sistem drainase.

Audi kini mencoba melihat persoalan tersebut dari sisi yang berbeda. Melalui Audi Environmental Foundation, mereka mendukung pengembangan URBANFILTER, sebuah sistem penyaring yang dipasang pada saluran drainase untuk menangkap partikel dari permukaan jalan sebelum masuk lebih jauh ke lingkungan. Pada Grand Prix Belanda di Zandvoort, FIA menerapkan konsep tersebut untuk pertama kalinya di ajang motorsport level tertinggi.

URBANFILTER dikembangkan sejak 2020 bersama ilmuwan dari Technical University of Berlin dan sejumlah mitra. Sistem ini dirancang untuk menangkap berbagai material yang terkumpul di permukaan jalan, termasuk partikel dari keausan ban, debu rem, mikroplastik, dan polutan lainnya.

Logikanya cukup sederhana. Partikel berada di permukaan jalan, kemudian hujan membawa material tersebut menuju saluran drainase. Filter ditempatkan di jalur tersebut sehingga material dapat ditahan sebelum masuk ke siklus air.

Audi menyebut URBANFILTER telah melalui pengujian di sejumlah lokasi, termasuk Berlin dan Copenhagen, serta lintasan pengujian basah ADAC. Pada pengujian terbaru di sirkuit Zandvoort, sistem tersebut disebut mampu menahan hingga 99 persen partikel, tergantung intensitas hujan dan karakteristik material yang terbawa.

Angka tersebut tentu bukan berarti semua kondisi jalan akan menghasilkan tingkat penyaringan yang sama. Audi sendiri memberikan catatan bahwa efektivitasnya dipengaruhi kondisi hujan dan karakteristik partikel.

Penggunaan URBANFILTER di Zandvoort menarik karena konsep yang awalnya ditujukan untuk lingkungan perkotaan kini dibawa ke area motorsport. Sirkuit merupakan lingkungan yang memiliki karakter berbeda dari jalan raya biasa. Aktivitas kendaraan berlangsung dalam area yang relatif terkonsentrasi, sementara fasilitas sirkuit juga memiliki sistem drainase yang memungkinkan teknologi seperti ini diuji dalam kondisi yang lebih terkontrol.

Bagi FIA, penerapan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya melihat bagaimana solusi lingkungan dapat diterapkan di lingkungan motorsport. Audi Environmental Foundation menyebut penggunaan di Zandvoort sebagai kesempatan untuk menguji konsep yang dikembangkan untuk perkotaan dalam skala dan kondisi berbeda.

Partikel dari keausan ban memang menjadi salah satu material yang menjadi perhatian URBANFILTER. Namun sistem ini tidak dirancang khusus untuk ban saja. Debu rem, mikroplastik, dan berbagai polutan lain yang menumpuk di permukaan jalan juga menjadi target penyaringan. Artinya, pendekatan yang digunakan lebih luas: bukan mencari satu sumber pencemar, tetapi menangkap material yang sudah terkumpul di permukaan jalan sebelum terbawa ke sistem air.

Persoalan ini juga membuat pembahasan mengenai dampak kendaraan terhadap lingkungan menjadi sedikit lebih kompleks. Selama ini perhatian publik banyak tertuju pada emisi dari kendaraan, sementara apa yang terjadi pada permukaan jalan dan sistem drainase juga menjadi bagian dari ekosistem mobilitas sehari-hari.

Audi Environmental Foundation telah mendukung pengembangan URBANFILTER sejak September 2020. Sistem tersebut dikembangkan bersama perusahaan spesialis filtrasi GKD dan spesialis air hujan ARIS, selain para peneliti dan mitra lainnya.

Penerapannya di Zandvoort bukan berarti teknologi tersebut sudah menjadi standar baru di semua sirkuit atau jalan raya. Namun pengujian di lingkungan Formula 1 memberikan ruang untuk melihat bagaimana sistem penyaringan drainase bekerja ketika berhadapan dengan kondisi yang berbeda dari lingkungan perkotaan biasa.

Di saat yang sama, Audi juga sedang memasuki musim pertamanya sebagai tim pabrikan Formula 1. Fasilitas pengembangan power unit Audi di Neuburg bahkan telah mendapatkan sertifikasi lingkungan tiga bintang dari FIA, level tertinggi dalam pedoman lingkungan FIA.

URBANFILTER akhirnya menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi yang lahir dari persoalan mobilitas sehari-hari bisa menemukan tempat pengujian baru di dunia motorsport. Kali ini, yang dicari bukan waktu tercepat di satu putaran, melainkan cara menahan material yang tertinggal setelah kendaraan melewati lintasan.