Skenario yang dibayangkan banyak orang jelang MotoGP San Marino dan 2026 sebenarnya sederhana: Marc Marquez vs Marco Bezzecchi, dua nama yang paling sering terlibat duel panas sepanjang musim, bakal kembali saling serang.

Realitanya, balapan hari Minggu (13/9/2026) di Misano World Circuit Marco Simoncelli ini malah menyajikan cerita yang sama sekali berbeda.

Bezzecchi start dari pole position dan kali ini berhasil menahan serangan Marc Marquez di tikungan pertama, sesuatu yang gagal ia lakukan saat Sprint sehari sebelumnya. Rider tuan rumah itu memimpin di fase awal lomba. Tapi euforia itu cuma bertahan beberapa detik. Belum genap satu lap, tepat di antara tikungan 12 dan 13, Bezzecchi menyentuh gundukan kecil sebelum pengereman sehingga tidak bisa menutup lintasannya dengan sempurna. Begitu ia coba membawa motor masuk tikungan, bagian depan langsung menutup dan dia tersungkur di gravel. Untung dia baik-baik saja, tapi harapan duel besar yang ditunggu tribun penuh tifosi pun runtuh sebelum benar benar mulai.

“Harinya tidak berjalan seperti yang saya mau,” kata Bezzecchi soal crash-nya. “Di lap pertama, saya menyentuh gundukan kecil sebelum pengereman di antara tikungan 12 dan 13, jadi saya tidak bisa menutup trajektori dengan sempurna, dan ketika saya coba membawa motor masuk tikungan, bagian depannya menutup. Bagaimanapun ada beberapa hal positif yang saya bawa pulang dari Misano, seperti kecepatan saya, kualifikasi yang bagus, sprint race yang sama bagusnya, dan start yang lebih baik dibanding kemarin. Untungnya kami langsung punya balapan lagi di Austria, jadi kami akan coba melupakan episode ini, kembali bekerja, dan berusaha memberikan yang terbaik.”

Dengan Bezzecchi tersingkir, Marc Marquez otomatis naik ke posisi terdepan. Tapi jangan bayangkan dia lantas melenggang santai. Jorge Martin, yang start dari posisi kelima dan langsung naik dua posisi begitu lampu mati, punya rencana lain. Dia menjaga pace bagus dan berhasil merebut pimpinan lomba di lap 7. Sempat unggul cukup nyaman, Martin memperlebar jarak sampai 0,783 detik di lap 9, tanda bahwa dia memang serius ingin membawa pulang kemenangan di kandang rival terberatnya.

Sayangnya buat Aprilia, cerita Martin tidak berlanjut semanis itu. Lengan kanannya mulai bermasalah, diduga karena compartment syndrome, sehingga dia terpaksa sedikit menurunkan tempo. Marc Marquez yang sempat terlihat agak santai usai insiden Bezzecchi mulai menemukan kembali ritme balapnya, membuntuti Martin selama tiga lap penuh sebelum akhirnya melancarkan serangan balik di lap 12 dan merebut kembali posisi pertama. Martin sendiri akhirnya harus puas finis kelima, sementara Marc Marquez mengendalikan sisa balapan hingga finis meski adiknya sendiri, Alex Marquez, terus menempel ketat dan bahkan memperkecil jarak di tiga lap terakhir.

“Saya senang dengan kecepatan saya dan cara saya mengelola balapan selama saya masih bisa,” kata Martin soal jalannya lomba. “Saya start dengan kuat dan merasa nyaman di atas motor. Sayangnya lengan saya kemudian mulai mengganggu. Saya merasa tidak bisa mengerem dengan baik dan tidak bisa se-fluid yang saya mau. Semakin lap bertambah, kekuatan di lengan bawah saya semakin berkurang, dan pada akhirnya saya tidak bisa lagi mengontrol motor dengan baik. Sekarang kami perlu fokus ke Austria, lalu memutuskan bersama tim solusi terbaik untuk mengatasi dugaan compartment syndrome ini. Saya pasti akan coba recover sebaik mungkin biar bisa kompetitif di Spielberg.”

Massimo Rivola, bos Aprilia Racing, tidak menyembunyikan kekecewaannya, tapi tetap memilih nada optimis buat sisa musim. “Ini jelas bukan hari Minggu yang kami impikan, apalagi dengan Marco start dari pole position dan sudah menunjukkan pace yang sangat kompetitif di ban medium,” ujarnya. “Sayang juga buat Jorge, dikhianati oleh masalah arm pump yang diduga karena compartment syndrome. Sekarang kami punya dua trek lagi di mana rival kami lebih diuntungkan, tapi kalau ada satu hal yang saya tidak ragukan sama sekali, semua orang di Noale dan di setiap trek akan memberikan seratus persen kemampuan sampai akhir. Full speed ahead.”

Marc Marquez akhirnya finis pertama dengan Alex Marquez di posisi kedua, selisih 0,657 detik. Pedro Acosta melengkapi podium lewat KTM RC16, menutup jarak sampai 2,326 detik dari garda terdepan. Buat Acosta, ini podium kelima musim ini dan cukup buat mengangkatnya ke posisi kelima klasemen dunia, menggeser Ai Ogura yang kini hanya terpaut enam poin darinya.

“Jelas motivasi tidak pernah hilang,” kata Acosta soal hasil podiumnya. “Saya senang, pace-nya bagus, motor juga bekerja cukup baik, meski kami masih kurang sedikit di sektor sektor cepat. Bagaimanapun kami harus senang dan anak anak memang pantas mendapatkan ini.”

“Kami menjalani balapan yang bagus dan saya senang, apalagi Misano ini rumah balap buat Ducati, tapi ini balapan yang berat,” kata Marc Marquez soal jalannya lomba. “Kalau kamu balapan dengan pace seperti ini, mudah sekali membuat kesalahan. Itu sebabnya begitu saya melihat Bezzecchi jatuh, saya merencanakan balapan dengan cara berbeda dan mungkin jadi terlalu santai. Pelan pelan saya kembali ke pace terbaik dan menemukan lagi feeling yang saya rasakan kemarin. Di bagian kedua balapan saya coba mengatur jarak, dan ketika Alex mendekat saya mulai menyerang lagi. Di trek ini, kalau kamu tidak jauh lebih cepat dari rider di depanmu, susah sekali untuk menyalip.”

Sementara itu di sisi lain garasi Ducati, cerita berjalan jauh lebih pahit. Francesco Bagnaia, yang start dari baris kelima dan sempat naik ke posisi sepuluh besar di lap pembuka, terjatuh di lap 6 pada tikungan 2. Ironis, karena ini justru terjadi di balapan kandang Ducati sendiri, di depan lautan tifosi merah yang memenuhi tribun Misano.

“Saya benar-benar minta maaf soal jatuhnya saya, karena kru saya sudah kerja keras untuk menempatkan saya di posisi bagus,” kata Bagnaia. “Masih ada delapan seri lagi dan saya harap kami bisa mengubah momentum musim ini. Saya menekan keras, terutama saat balapan, tapi sayangnya kurangnya feeling membuat saya salah setiap kali saya mencoba sesuatu yang berbeda. Ini situasi yang sulit dicerna, tapi kami harus menghadapi kenyataan dan tetap berusaha memberikan yang terbaik meski semuanya berat. Saya harap keadaan sedikit lebih baik di Austria.”

Luigi Dall’Igna, General Manager Ducati Corse, tidak menutupi kebanggaannya atas performa Marc Marquez, tapi juga tidak lupa menyoroti nasib Bagnaia. “Ini akhir pekan yang luar biasa lagi setelah Aragon, dan tentu lebih spesial karena ini acara kandang buat Ducati, jadi penting buat kami mencetak hasil bagus di depan fans sendiri,” ujarnya. “Marc menjalani balapan yang istimewa, sama bagusnya seperti yang belakangan dia sering tunjukkan. Saya pikir dia sudah belajar cara mengatur segalanya, termasuk tubuhnya sendiri. Seperti yang saya katakan di awal musim, waktu berpihak pada kami dan saya harap kami bisa melanjutkan cara ini. Betul kami sedang di puncak klasemen, tapi kami belum melakukan apa apa, kami harus tetap membumi dan bekerja dengan cara yang sama seperti balapan balapan sebelumnya. Sayang sekali buat Pecco, yang sudah membangun bagian awal balapan dengan baik. Saya harap kami bisa membalikkan keadaan secepatnya, karena dia pantas mendapat hasil yang jauh berbeda.”

Di belakang trio terdepan, Fermin Aldeguer membawa Gresini menempatkan dua motor Ducati di empat besar lewat finis keempat, mengalahkan Martin yang harus puas di posisi kelima setelah masalah lengannya muncul. Raul Fernandez menutup catatan positif Aprilia dengan finis keenam, memastikan dua unit RS-GP26 masuk sepuluh besar Misano meski Bezzecchi gagal finis. Di belakang Fernandez ada trio Italia yaitu Fabio Di Giannantonio, Enea Bastianini, dan Luca Marini yang mengisi posisi tujuh sampai sembilan, sementara Fabio Quartararo melengkapi sepuluh besar.

Hasil di Misano ini membuat klasemen dunia MotoGP 2026 berubah drastis. Marc Marquez kini memimpin dengan 274 poin, sama persis dengan Jorge Martin yang juga mengumpulkan 274 poin, hanya kalah selisih jumlah kemenangan Grand Prix. Padahal beberapa bulan lalu jarak keduanya pernah mencapai 102 poin, dengan Martin jauh di depan. Marco Bezzecchi masih bertahan di posisi ketiga meski kini terpaut 33 poin dari dua rival di atasnya. Alex Marquez naik ke posisi kedelapan klasemen, unggul dari Bagnaia yang melorot ke posisi kesembilan, sementara Pedro Acosta naik ke posisi kelima menggeser Ai Ogura.

Di sisi konstruktor dan tim, Ducati Lenovo Team ada di posisi kedua klasemen tim dengan 417 poin, sementara Ducati sebagai pabrikan memuncaki klasemen konstruktor dengan 412 poin, unggul atas Aprilia yang selama beberapa bulan terakhir sempat mendominasi papan atas.

Balapan berikutnya akan berlangsung di Red Bull Ring untuk Grand Prix Austria pada 18-20 September, hanya berjarak satu minggu dari drama Misano. Perburuan gelar juara musim 2026 dipastikan akan terus memanas sampai ke garis akhir musim.