Nonton Moto3 San Marino itu dag-dig-dug.
Persaingan rombongan tengah berlangsung rapat.
Tiap lap berubah posisi.

Mau ke toilet saja sulit.
Akhirnya dari TV pindah ke ponsel.
Biar manteg terus mantau Veda Pratama.

Veda start dari P16.
Hakim di P17.
Di lap 8, Hakim Danish berhasil menyalip Veda.
Pada lap berikutnya Veda sudah turun ke P18.
Lap 10, posisinya kembali turun menjadi P19.
4 lap kemudian, Veda melorot ke P20.
Walaupun berhasil naik lagi dan finis P18, Veda kalah jauh dari sang pemenang Máximo Quiles, terpaut 26,611 detik.

Mengapa Veda melempem?

Sejumlah media luar negeri menganalisis penyebabnya. Salah satunya Bikesportnews yang mencatat Veda memang menyelesaikan seluruh 20 lap, tetapi hanya mampu finis P18. Tidak ada catatan crash atau retirement yang mengganggu balapannya. Artinya, persoalan Veda di Misano lebih mengarah pada performa selama balapan. Posisi start P16 memang tidak ideal, tetapi pembalap di belakangnya, Hakim Danish, justru mampu memperbaiki posisi dan finis di depan Veda.

Crash.net sebelumnya mencatat Veda berada di P13 pada sesi Practice, sehingga langsung lolos ke Q2. Catatan waktunya 1:41,770. Namun saat kualifikasi, Veda harus puas berada di P16. Penurunan itu menjadi penting karena Moto3 sangat bergantung pada pertarungan dalam rombongan. Ketika race pace tidak cukup kuat, satu kehilangan posisi bisa segera diikuti pembalap lain. Dalam kasus Veda, situasi tersebut terlihat sejak lap kedelapan dan terus berlangsung hingga pertengahan balapan. Menariknya, media Spanyol AS mencatat beberapa pembalap mampu melakukan recovery besar di Misano. Cruces, misalnya, naik dari P24 ke P8, sedangkan Gonzalez bergerak dari P23 ke P11.

Hakim Danish juga menjadi pembanding yang relevan. Memulai balapan hanya satu posisi di belakang Veda, pembalap Malaysia itu mampu menembus rombongan depan sementara Veda justru sempat terlempar ke P20.

Ada pula pembahasan di komunitas balap internasional mengenai strategi ban dan kemungkinan pengaruhnya terhadap performa. Namun, belum ada pernyataan resmi dari Honda Team Asia yang menyebut pilihan ban sebagai penyebab Veda kehilangan kecepatan.

Karena itu, faktor tersebut belum cukup kuat untuk dijadikan kesimpulan. Yang lebih mudah dibaca dari data balapan adalah Veda kesulitan menjaga race pace untuk bertahan di zona poin. Ia memang berhasil memperbaiki posisi dari P20 menjadi P18 pada akhir balapan, tetapi gap 26,611 detik dari pemenang Máximo Quiles menunjukkan recovery tersebut belum cukup untuk membawa Veda kembali ke persaingan 15 besar.

Hasil di Misano pun membuat Veda kembali tanpa poin setelah sebelumnya finis P20 di Aragon. Dua seri beruntun tanpa tambahan angka ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Veda dan Honda Team Asia, terutama untuk mengembalikan konsistensi performa saat balapan.