Nama Veda Ega Pratama semakin sering dibicarakan setelah pembalap muda Indonesia ini berhasil meraih podium di kelas Moto3. Prestasi tersebut terasa istimewa karena perjalanan menuju level balap dunia tidak dimulai dari sirkuit besar, melainkan dari tempat yang sangat sederhana yaitu pasar sapi di wilayah Gunungkidul, Yogyakarta.

Cerita ini menjadi bukti bahwa talenta balap tidak selalu lahir dari fasilitas mewah. Faktanya, Veda justru tumbuh dari ruang terbuka yang amat-teramat-sangat sederhana  dan dari latihan yang dilakukan dengan penuh kesabaran.

Fun fact yang mengiringi keberhasilan Veda Ega Pratama:

1. Pasar Sapi yang Berubah Menjadi Arena Latihan

Di beberapa daerah pedesaan, pasar hewan biasanya hanya ramai pada hari tertentu. Setelah aktivitas jual beli selesai, area tersebut menjadi lapangan luas yang kosong. Kondisi inilah yang dimanfaatkan keluarga Veda untuk menjadikannya tempat latihan.

Lapangan tanah yang keras, jalur yang tidak rata, serta ruang terbuka yang cukup luas membuat area Pasar Hewan Siyono Harjo (Playen, Gunung Kidul) itu berubah sementara menjadi semacam sirkuit latihan sederhana. Tidak ada pembatas lintasan, tidak ada tribun penonton, hanya lahan berdebu tanpa aspal bagus, dan beberapa patokan sederhana untuk menandai jalur. Kondisi yang kotor dan serba terbatas itu melatih kemampuan dasar seorang pembalap. Menjaga keseimbangan, membaca permukaan lintasan, serta mengontrol gas dan rem dengan presisi.

Sudarmono, mantan pembalap nasional di kelas Supersport 600, membawa Veda ke pasar sapi, begitu tempat latihan itu biasa disebut Veda. Sudarmono adalah ayah kandung Veda yang mulai membawa anaknya ke latihan setiap minggu sejak kecil. Selain pasar sapi, Veda juga biasa latihan di latihan perdana Veda berlangsung di Alun-alun Wonosari. Latihan di lahan-lahan yang sempit justru mengasah akurasi dan kontrol motor Veda menjadi sangat tajam.

2. Motor Sederhana untuk Mengasah Teknik

Saat masih kecil, Veda tidak langsung menggunakan motor balap profesional. Ia berlatih menggunakan motor kecil seperti mini bike, motor bebek, dan mini cross/trail yang dimodifikasi sederhana agar lebih ringan dan mudah dikendalikan.

Motor tersebut cukup untuk melatih teknik dasar yang sangat penting bagi pembalap muda. Belajar membuka gas dengan halus, mengatur posisi tubuh di tikungan, serta menjaga stabilitas saat melewati jalur tanah yang tidak rata.

Latihan dengan motor sederhana ini justru membangun fondasi teknik yang kuat. Ketika nantinya Veda mulai menunggangi motor balap yang lebih cepat dan lebih kompleks, ia sudah memiliki kontrol dasar yang matang.

Seiring perjalanan, Veda menggunakan Honda NSF100/NSF1, kemudian beralih ke CBR 150 dan Sonic. Ketiganya merupakan motor-motor ringan dan mudah dikendalikan yang memiliki mesin 1-silinder, performa menengah untuk pelatihan. NSF100 cocok buat belajar racing line, tikungan, dan postur tubuh. Sedangkan CBR150 digunakan agar bisa adaptasi ke fairing, speed, dan engine power lebih besar. Sementara Sonic dipercaya mampu mengasah akselerasi, manuver, dan kemampuan motor “street-legal” atau entry-class.

3. Pola Didikan Orang Tua yang Disiplin

Di balik perkembangan karier Veda Ega Pratama, peran keluarga menjadi faktor yang sangat penting. Orang tua Veda tidak hanya memberikan kesempatan untuk berlatih, tetapi juga menanamkan disiplin sejak dini.

Fokusti kungan, konsistensi putaran, melatih keberanian membuka gas lebih cepat di jalur lurus. Selain itu, Veda juga dibiasakan memahami bahwa balap motor membutuhkan kesabaran dan proses panjang. Kemenangan bukan tujuan instan, melainkan hasil dari latihan yang terus diulang setiap hari.

Tugas itu dikunci oleh Sudarmono, ayah Veda. Memiliki pengalaman bertanding secara kompetitif di tingkat nasional, termasuk kelas motor yang lebih besar sebelum era balap modern. Ia dikenal memahami berbagai aspek balap motor dari sisi teknik maupun strategi. Setelah pensiun sebagai pembalap aktif, Sudarmono tidak sepenuhnya meninggalkan dunia balap. Ia menjadi figur pelatih utama dan pembimbing bagi Veda sejak usia dini, mengenalkan motor sejak Veda berumur 4 tahun.

Salah satu kutipan Sudarmono yang sangat berpengaruh adalah “A direction is more important than speed”, yang diartikan olehnya: “Untuk sebuah tujuan, arah lebih penting daripada kecepatan.”

Credit Photo:
– MotoGP www.motogp.com
– Honda Racing honda.racing
– Facebook: Sudarmono Mons, Mei Lina & Veda Ega Pratama