Motocross kerap dipandang sebagai olahraga balap yang paling murni. Tidak ada aspal mulus, tidak ada grip ban yang konsisten, hingga nyaris tidak ada bantuan elektronik.

Pembalap dituntut membaca karakter tanah, mengatur bukaan gas, sekaligus menjaga keseimbangan motor dalam hitungan sepersekian detik. Di sinilah bakat dan insting menjadi pembeda.

Tapi sekarang situasinya berubah.

Perkembangan teknologi yang selama ini identik dengan MotoGP perlahan merambah lintasan tanah. Elektronik tak lagi dianggap sebagai musuh yang mengurangi peran pembalap, melainkan sebagai alat untuk membantu mereka mengeluarkan potensi terbaik.

Ducati menjadi salah satu pabrikan yang paling berani mendorong perubahan tersebut melalui Desmo250 MX, motor motocross terbaru yang mengusung paket elektronik paling lengkap di kelasnya.

Kalau dulu traction control identik dengan motor balap prototipe di sirkuit, kini teknologi itu hadir di motor motocross bermesin 249,7 cc. Ducati melengkapinya dengan Ducati Traction Control (DTC), dua pilihan engine map yang dapat dikustomisasi melalui aplikasi X-Link, engine brake control, serta launch control. Semua fitur tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi lintasan maupun gaya berkendara penggunanya.

Yang membuat DTC berbeda adalah cara kerjanya. Sistem ini tidak sekadar memangkas tenaga saat roda kehilangan traksi. Berbekal pengalaman Ducati di MotoGP dan World Superbike, perangkat lunak tersebut mampu membaca tingkat selip roda belakang secara aktual, kemudian mengatur intervensi tenaga secara cepat, halus, dan linear. Tujuannya bukan membuat motor terasa jinak, tapi menjaga traksi tetap optimal ketika pembalap membuka gas di tikungan atau melintasi permukaan yang berubah-ubah.

Tentu saja, kehadiran elektronik memunculkan perdebatan baru. Sebagian kalangan meyakini teknologi seperti traction control akan membuat motocross menjadi lebih mudah dikendarai. Di sisi lain, ada pula yang melihatnya sebagai evolusi yang tidak bisa dihindari, sama seperti ketika MotoGP bertransformasi dari motor balap yang sepenuhnya mekanis menjadi kendaraan berteknologi tinggi.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, motocross kini sedang memasuki babak baru. Jika dulu kemenangan hanya ditentukan oleh skill pembalap, kini kecerdasan perangkat elektronik mulai mengambil peran yang sama pentingnya.